
Mobil Mercedes Benz tipe Mercedes-AMG GT R, sedang menyusuri jalanan padat kendaraan. Dua anak manusia didalamnya saling menutup mulut. Si tampan Yusha maupun Niar tak ada yang bersuara, mereka asik larut menyelami lamunan masing-masing.
Mobil berwarna silver itu dibiarkan melaju tanpa arah.
Perempuan bermata sipit yang duduk di samping kemudi enggan mengalihkan pandangan dari luar jendela, seolah di sana, ada sesuatu yang menarik hingga melupakan keberadaan Yusha. Lelaki itu sedari tadi mencuri pandang kearahnya.
"Kita mau kemana?" tanya Yusha, mata tajam bak elang tak beralih dari fokus melihat jalanan di depannya yang penuh berpolusi. Karna musim kemarau, air hujan tak lagi turun membasahi jalan beraspal.
Niar setengah menghendikkan bahu. "Saya tidak tau. Anda yang mengajak pergi, harusnya sudah tau tujuan kita mau kemana." Niar membalikkan pertanyaan.
"Aku ingin mengalihkan pikiran sedihmu. Jadi, katakan, tempat mana yang ingin kamu kunjungi. Biar aku antar. Ya ... anggap saja kita refreshing."
Niar melirik malas pada lelaki yang masih menggunakan pakaian formalnya. "Ada gitu, orang sedih mikirin refreshing?" tuntut Niar, tidak suka dengan kalimat akhir yang dikatakan oleh Yusha.
Tapi Yusha menanggapi dengan senyum miring. "Memang kamu pikir refreshing cuma untuk orang stress karna tuntutan kerjaan! Enggak! Orang yang banyak beban pikiran, orang yang sedang bermasalah juga butuh piknik. Siapa tau pikiran mereka bisa fress setelah pergi ke tempat-tempat seperti itu," tuturnya.
"Terserah Tuan saja mau kemana," pasrah Niar dengan melengos pada kaca jendela dan kembali melihat deretan pinggir jalan.
"Ada tempat yang ingin kamu kunjungi enggak?"
"Saya, ingin pergi ke pantai. Tapi belum pernah kesampaian," ujar Niar beralih menunduk. Teringat ketika kecil, tak sekalipun pergi dari zona nyaman. Ketika anak seusianya pergi berpiknik dengan keluarga, ia hanya bisa membayangkan tempat indah itu dari gambaran Televisi saja. Apa dikata, Sumiati hanya mengajak Nesva untuk pergi ke tempat pariwisata. Sedangkan ia harus tetap di rumah mengerjakan tugas rumah.
Wajar jika perempuan itu memiliki pemikiran sempit, karna hidupnyapun berada di lingkungan terbatas.
"Belum pernah kesampaian?" ulang Yusha sedikit meragu, "maksut kamu belum pernah ke pantai?"
Niar mengangguk.
Oh ... Lelaki dengan dahi mengerut itu hampir tidak percaya! Kehidupan seperti apa yang dilakoni Niar hingga perempuan yang telah resmi menjadi istri keduanya itu tak pernah menginjakkan kaki di pasir putih pinggiran pantai. 'Astaga'. Bahkan, ia memiliki Resort di Pantai Kuta Bali, Villa dengan fasilitas lengkap hampir disetiap pulau. Kapanpun ia ingin berkunjung tinggal memberi perintah maka semua sudah siap sedia.
Yusha kembali berpikir, apakah ia terlalu sibuk bekerja hingga lupa untuk meluangkan waktu bersama istri keduanya itu.
Langsung saja ban mobil itu diarahkan menuju Pantai Kali Kencana yang tidak begitu jauh dari posisi sekarang. Menempuh jarak 2kilometer mobil Yusha hampir sampai pada lokasi yang di tuju.
Bola mata Niar terkesiap membaca tugu besar bertuliskan 'Selamat datang di Pantai Kali Kencana'. Bibir tipisnya melengkung membentuk bulan sabit, lalu mata berbinar itu memandang Yusha. "Terimakasih mengajakku ke sini," ucapnya dengan binar senang.
'Hanya seperti ini bisa membuatmu senyum secerah mentari?' batin Yusha. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ingin meluangkan banyak waktu bersenang-senang bersama Niar untuk mengganti kepahitan hidup yang selama ini membalut perempuan itu.
Kaki mereka telah menapaki jalanan masuk menuju pantai. Ada seorang penjaga menyodorkan karcis, ditulis jumlah yang harus dibayar senilai 50 ribu untuk satu orang. 'Sangat murah' batin Yusha. Berbeda dengan pantai yang sering ia kunjungi menguras kocek hingga puluhan juta. Lelaki itu tiba-tiba merasa miris mengajak Niar ke pantai biasa seperti ini yang entah pemandangan di dalamnya seperti apa.
Ketika masuk lebih dalam, mata mereka mulai menemukan kerumunan orang-orang yang berjemur, berjalan, bahkan berkejaran di bibir pantai.
Yusha melirik pakaian yang melekat pada tubuhnya, kurang percaya diri pergi ke pantai mengenakan pakaian formal. Berapa pasang mata menatap aneh padanya. Namun, ia menganggap itu semua tidak penting. Yang terpenting saat ini bisa melihat senyum Niar mengembang sempurna. Mungkin bisa mengalihkan kesedihan yang di alami istri keduanya itu.
"Mana pondok yang belum di sewa?" Yusha mencari tempat yang biasa disewakan untuk bersantai. Di dekat ia berdiri telah penuh dengan lautan manusia. Lalu mengajak Niar untuk menyisir tempat lain.
"Gimana, kamu sudah enakan, belum?" Mereka berjalan di hamparan pasir pantai yang terlihat lembut.
"Lumayan, tapi masih ada yang mengganjal."
"Aku tau, yang terjadi bukan hal mudah yang bisa satu menit dilupakan. Tapi, aku ingin satu tetesan tangismu ada juga setetes kesenangan. Setidaknya harus seimbang," kata Yusha. Ah ... itu kata absurd yang pernah keluar dari mulutnya.
Niar terdiam, namun pemikirannya menebak-nebak sikap Yusha. Ia belum tahu pasti, tentang lelaki itu. Kenapa semakin hari semakin menunjukkan sikap kepeduliannya. Apakah itu memang sikap Yusha yang tidak diketahui selama ini. Jadi, bukan hanya dirinya yang mendapat kebaikan dari lelaki itu, agar ia tak salah sangka.
Sekuat tenaga berada dititik ini, Niar menjaga benteng pertahanan untuk membatasi diri, tidak bergantung terus-menerus pada lelaki yang menjadi suaminya--tapi hanya sementara saja. Jika suatu hari mereka berpisah, tak ada luka terdalam yang harus di rasa.
Namun, masalah hati tidak ada yang tahu. Menjadi urusan Sang Khalik, Yang Maha membalikkan hati. Mungkin saat ini keduanya saling menjaga diri, tapi tidak tahu untuk kedepannya mungkin merekalah yang meminta untuk didekatkan.
Yusha sendiri merasa bingung dengan hati dan perasaannya. Sejak resmi mengucap janji suci untuk perempuan itu, pada saat itu juga entah kenapa ada rasa simpatik yang semakin hari semakin besar. Apalagi melihat langsung sikap Sumiati atau Nesva yang terang-terangan merundung Niar, rasanya ada emosi yang ingin segera dibalaskan.