
Mentari muncul menghangatkan jiwa. Ratapan malam telah berlalu berganti harapan baru. Senyum merekah menyambut semangat menggebu.
Duka lara mampu tersingkir untuk sementara waktu.
Kendatipun serat matahari masih samar-samar di ufuk timur, dingin pelan-pelan melepas pagi, tak membuatnya melurung niat. Perempuan menggunakan pasmina silver, kemeja putih polos dipadu padankan dengan rok rempel semata kaki begitu anggun membalut tubuh sintalnya. Dalam semangat baru ia susur celah mentari, menapaki setiap inci tapal. Memikul asa pada pundaknya yang tak kenal lelah. Pemikirannya dipaksa dewasa saat menghadapi masalah, tetapi ia tak bisa menyerah. Ada kehidupan baru yang harus ia perjuangkan.
Mengingat itu, ia mencoba berdamai dengan takdir, percaya pada Sang Pemilik Hidup bahwa akan ada hikmah dibalik semua yang menimpanya.
Sampai di tempat jualan, perempuan anggun itu segera menyiapkan barang dagangan untuk digantung di depan toko kecilnya. Setelah semua selesai, ia hanya perlu menunggu pembeli datang. Namun, hari terlalu pagi, hingga pengunjung pantai belum ada yang datang. Untuk mengusir rasa bosan, Niar meluangkan waktu mencoret-coret buku kosong. Dalam selembar kertas, dalam goresan pena ia ungkap segala yang ia rasa, termasuk menulis siapa pemilik rindunya.
Ketika matahari bersinar dengan teriknya, banyak pengunjung mulai memenuhi hamparan pasir pinggir pantai, sebagian menghampiri toko Niar untuk membeli barang dagangan berupa sovenir, baju khas daerah itu juga makanan ringan yang digemari anak-anak. Hari pertama membuka toko membuat Niar mengucap penuh syukur. Alhamdulillah, hari ini ada rezeki, insyaallah barokah yang bisa ia bawa pulang. Senyum cerah tak hilang menghiasi wajah ovalnya.
"Terima kasih, ya, anak pintar," ucap Niar pada anak kecil yang membeli salah satu jajan dagangannya.
"Sama-sama, Tante Cantik," balas anak laki-laki yang sekitar berumur sebelas tahunan itu.
"Eh ... kecil-kecil genit, ya." Niar terperanjat namun satu detik kemudian tersenyum seraya menggelengkan kepala. Merasa lucu anak seumuran itu sudah pandai merayu. Tetapi A
anak laki-laki itu sudah melenggang pergi dengan berlari menjauh.
•
Rasanya sehari berlalu begitu cepat, hingga senja kembali menghampiri Pantai Alun-Alun Ujung Kulon. Saatnya perempuan berwajah lelah itu mengemasi barang dagangan.
"Mbak, beli air mineral satu."
"Iya, tinggi sebentar," jawab Niar tanpa tahu siapa yang berdiri di depan tokonya.
Niar yang membelakangi orang itu segera membalikkan badan. "Mas, ih, rese!" ucap Niar memberengut saat mendapati Sakky berdiri di depan pintu dan sedang menahan tawa. Akhirnya tawa pria itu pecah. Sakky terbahak sembari memegangi perutnya.
Tak berapa lama tawa itu menyurut. "Sampek sore baru berkemas?"
"Iya, alhamdulillah hari ini lumayan rame, sayang kalau harus tutup lebih awal."
Sakky mendekat dan membantu Niar mengangkat berapa helai pakaian dari depan toko dan diusung masuk ke dalam. "Mas pasti capek baru pulang kerja. Biar Niar aja yang seleseiin."
"Gak apa, kalau begini doang kecil. Mas lebih kasian kalau ibu hamil muda harus kelelahan karna berjualan sendiri."
Niar tersenyum, pria bernama Sakky memang sangat baik, senyum pemuda itu terasa hangat. Namun, tak lebih dari hangatnya seorang kakak terhadap adik. Bukan seperti senyuman Yusha terhadapnya yang mampu menyulut getaran hati. Ah ... kenapa jadi membandingkan dua pria yang sama sekali tak sama.
"Abis ini mau langsung pulang atau nunggu senja menghilang?" tanya Sakky yang mulai hapal dengan keinginan Niar.
Sakky menghentikan aktifitas sejenak, ia meneliti wajah Niar yang berseri dalam senyuman. 'Aku senang liat kamu banyak senyum. Gak kayak waktu pertama kamu datang, rumahku hampir banjir karna air matamu. Kamu wanita kuat, mampu bangkit meski menanggung beban berat sendirian. Aku mengutuk lelaki yang membuatmu MERENGKUH DERITA seorang diri.'
"Mas, aku bikinin kopi sebentar, ya. Mas duluan aja ke sananya, nanti biar aku yang kunci toko."
"Gak ah, kita barengan aja. Cepet gih kalau mau bikin kopi, aku tunggu di depan."
"Oke."
Berapa saat Niar telah kembali membaca dua cup kopi yang masih mengepulkan uap panas dengan aroma kopi hitam yang menguar mengalahkan wanginya susu coklat.
Setelah Niar keluar, Sakky lekas mengunci pintu toko dan memberikan kuncinya pada Niar. "Ayo," ajaknya. Keduanya berjalan pelan menuju batu karang dipinggiran pantai, yang sekarang menjadi tempat favorit untuk keduanya menghabiskan sisa hari dengan menyaksikan senja turun ke peraduannya.
"Niar, apa sampek sekarang lelaki itu gak hubungi kamu?"
"Gimana mau hubungi, ponselnya belum aku hidupin." Niar memutar-mutar cup berisi susu coklat untuk mainan tangannya. Dengan netra mengawasi pendarnya jingga yang masih menampakan warna menawan. "Memang apa yang kuharapkan walau dia hubungi aku? Hubunganku sudah berakhir, Mas."
Terasa terperih saat mengucap 'hubunganku sudah berakhir' dari kalimat singkat itu menarik paksa dirinya untuk menerima kenyataan bahwa memang ia dan Yusha tak memiliki ikatan apapun selain calon anak yang masih berupa gumpalan. Namun, terngiang ucapan Mahendra sewaktu memaksa Yusha untuk menceraikannya membuat hati itu diremas dengan kuat, hingga bertekad takkan kembali meski ada benih yang tumbuh subur. Ia ingin menghilang dari pandangan orang-orang yang telah menancapkan luka.
Kebaikan seperti apapun seolah tak ternilai karena tertutup derajat. Ia ingin sukses, ia ingin menampilkan keadaan baru di depan semua orang, bahwa derajat itu bisa dicari. Namun, kebaikan seseorang tak bisa dibeli.
•
Pukul 11 malam tiba-tiba Yusha terbangun dari lelapnya. Pria itu terhenyak pada dirinya sendiri saat menginginkan semangkuk bakso lengkap dengan pangsit renyah. Padahal sebelumnya ia tak pernah menyukai makanan berbentuk bulat kecil-kecil dengan bau kuahnya yang menguat.
"Ah, aneh-aneh saja! Mungkin karna kebawa mimpi jadi pengen makan itu," ucapnya pada diri sendiri dan mencoba tidak menghiraukan keinginannya yang muncul secara mendadak. Badan kembali di rebahkan, mata kembali dipaksa terpejam. Namun, semakin tak ingin memperdulikan justru ia merasa sangat ingin.
"Sial!" umpatnya yang langsung bangkit.
"Kenapa sih, akhir-akhir ini pengen yang aneh-aneh? Apa ada yang salah denganku?" Yusha merasa aneh sendiri. Pria itu berjalan menuju walk on close untuk mengambil jaket kulit yang akan dikenakannya untuk menghalau dinginnya angin malam.
Tangan sibuk menekan tombol-tombol pada layar ponsel. "Yo, temani gue keluar buat nyari pedagang bakso. Gue lagi pengen makan itu!"
"Heh? Ini Yushaka temen gue bukan, sih?" Diseberang sana Reo sangat terkejut.
"Gak usah banyak protes! Temenin gue atau besok gue ajuin lu sama pemilik rumah sakit."
"Eh, apa-apaan ini pakek ngancem segala! Sekarang gue yakin kalau ini temen gue, Yushaka Demitri. Dia emang demennya ngancem. Tapi, lu jangan gila, Bray! Tengah malem ganggu gue cuma suruh nemenin lu makan bakso?! Mending istigfar dulu, geh."