Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 23


Hutang kepada rentenir sudah di bayar lunas menggunakan uang Yusha, kini hanya perlu persiapan untuk melakukan ijab qabul. Namun Niar meminta waktu satu hari untuk mempersiapkan diri, dan Yusha menyetujui.


Tidak seperti pernikahan pada umumnya yang membutuhkan waktu ber-minggu-minggu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Bahkan pernikahan yang akan di gelar ini sangat sederhana, tanpa mempersiapkan pesta, tanpa menyebar undangan. Hanya mengundang perangkat desa dengan tetangga sisi kanan kiri sebagai saksi.


Bahkan tuan Mahendra dan nyonya Vivian juga tidak di beri tahu jika anak semata wayang mereka yang sudah menikah akan melakukan ijab qabul lagi, dan menjadikan Niar sebagai istri kedua yang hanya di sewa untuk mengandung anak Yusha. Jika tuan Mahendra dan nyonya Vivian tau, sudah pasti mereka menentang pernikahan itu.


Sebelumnya Niar sudah memberitahukan jika proses ijab qabul dilaksanakan di rumahnya saja. Ia tidak mau ibu dan kakaknya tau dimana tempat tinggal Yusha, dan mengetahui jika lelaki yang akan menjadi suaminya itu sangat kaya, takut jika mereka memanfaatkan statusnya untuk memeras Yusha. Ia tentu paham dengan sikap ibu dan kakaknya yang serakah.


••••••••••••••


Hari yang di sepakati telah tiba, Niar sedang di rias oleh ahli make up yang sering merias pengantin di kampung itu. Kebaya putih menjuntai indah dengan bunga melati asli yang menguarkan harum semerbak hingga memenuhi ruangan.


Pengantin umumnya identik dengan senyum merekah dan wajah berseri. Namun berbeda dengan Niar, gadis itu hanya diam saja saat perias memoles beberapa alat make up ke wajahnya. Wajah itu ditekuk dan terlihat lesu.


Meski begitu penampilannya kali ini mampu membuat Sumiati dan Nesva tercengang. Keduanya mengagumi kecantikan Niar, wajah yang biasa polos itu nampak sangat cantik.


Yusha, sang pengantin pria belum datang. Lelaki itu menginap di hotel yang tidak jauh dari tempat tinggal Niar. Dari pihak pengantin pria hanya dihadiri, Sheli, Glory dan Kelvin.


Bu Tini baru diberitahu tadi pagi jika Niar akan melangsungkan pernikahan sehabis dzuhur. Wanita paruh baya itu sempat menangis mengetahui Niar akan menikah, harapannya telah pupus. Tadinya masih menginginkan Aris berubah pikiran dan berharap memilih Niar sebagai calon istrinya daripada Nesva, namun harapannya telah kandas. Ternyata Niar lebih dulu menemukan jodohnya.


Untuk pernikahan Niar, tak banyak yang tahu jika Niar di jadikan istri kedua. Mereka menutup informasi itu pada tetangga yang hadir, demi menghindari fitnah.


Nesva tak henti menyunggingkan senyum, sangat senang adiknya akan menikah dengan pria jelek seperti yang ada dalam bayangannya. Padahal wanita itu tidak tahu jika Niar menikah dengan Yusha, lelaki tampan dan nyaris sempurna. Pemimpin perusahaan besar yang mampu menguasai pemasaran kancah internasianol. Jika Nesva telah melihat penampilan Yusha, bisa dipastikan ia pun akan jatuh hati.


Penata rias telah menyelesaikan pekerjaannya, kini dalam kamar sempit itu hanya ada Sumiati dan Nesva yang duduk di ranjang Niar.


"Wajahmu lumayan juga kalau di oles make up," cibir Nesva dengan mimik wajah jengah karna iri.


Niar menatap cermin kecil yang ada didepannya. Bahkan ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Wajah itu sangat jauh dari penampilannya sehari-sehari.


Sesaat kemudian airmata Niar kembali lolos membasahi pipinya yang berbalut bedak padat. Harusnya hari pernikahan ini menjadi momen bahagia setiap insan yang akan melangsungkan pernikahan, namun hati Niar semakin sesak mengingat pernikahan ini bukanlah pernikahan yang sesungguhnya. Bukan juga pernikahan yang ia harapkan.


Aris, bayangan wajah lelaki itu semakin jelas terlintas. Sejak kecil Niar menyukai dan mengagumi sosok Aris. Memiliki mimpi jika dewasa ingin menikah dengan pria itu. Namun takdir tak berpihak padanya. Takdir Aris hanyalah menjadi iparnya bukan jodohnya.


Pak Bejo masuk ke kamar Niar, mendekati putri bungsunya dengan genangan airmata. "Maafin keluargamu, Nak. Demi kami, masa depanmu harus menjadi korban. Maafin Bapak yang gak bisa mengupayakan apapun untuk mencegah pernikahan ini," ucap pak Bejo dengan lelehan airmatanya. Ia tahu perasaan Niar pasti terluka menerima jalan takdirnya yang harus rela menjadi istri kedua.


"Sudah Pak, insya Allah Niar ikhlas. Bapak jangan terlalu berpikir berat, jangan menjadikan pernikahan ini sebagai beban. Do'akan saja untuk kebahagiaan Niar." Bibir Niar memang menyunggingkan senyum, namun airmatanya semakin berjatuhan. Di bibir ia mengatakan tidak menjadi beban, padahal dalam hatinya sangat berat menerima semuanya.


"Bapak akan selalu mendo'akan kebahagiaanmu. Suatu saat hari-harimu akan dipenuhi tawa bahagia, Nak." Pak Bejo berdo'a dengan tulus. Banyak luka dan kekecewaan yang dilalui putri keduanya, ia mengharapkan suatu saat Niar menemukan kebahagian dengan orang yang tepat.


"Niar, kamu udah siapin syarat yang aku minta kemarin?" sela Nesva.


Niar menoleh dan mengangguk. "Tuan Yusha sudah menyiapkan yang Kakak inginkan," jawab Niar.


Nesva tersenyum lebar. Karna Niar menikah lebih dulu, maka sesuai adat di desanya sang adik harus membayar denda pelangkah. Dan Nesva meminta uang tunai lima juta rupiah. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Terdengar suara seseorang mengucap salam, pak Bejo dan Sumiati keluar dari kamar untuk menyambut tamu nya. Ternyata bu Tini dan Aris yang datang lebih dulu. Mereka berbincang-bincang di ruang tamu yang sudah dibentang karpet memenuhi ruangan itu. Nesva ikut ke ruang tamu dan duduk menemani Aris. Ibu Tini meminta ijin untuk menemui Niar, dan pak Bejo memberi ijin.


"Niar, masya Allah ... kamu cantik sekali, Nak?" ibu Tini mendekati Niar.


"Ibu ..., " panggil Niar tertahan, seolah airmatanya masih melimpah hingga kembali lolos.


"Selamat untuk pernikahanmu, Niar. Ibu gak nyangka kamu lah yang lebih dulu menemukan jodoh. Ibu kaget waktu ibumu datang dan mengundang Ibu untuk menjadi saksi di pernikahanmu," ucap bu Tini.


"Begitu cepat kamu menemukan pria yang akan menjadi imammu. Apa kamu sudah mengenal dia dengan baik? Pernikahan ini atas kemauanmu, kan?" imbuhnya untuk memastikan.


Niar menghembuskan napas panjang, ia mencoba untuk tenang agar airmatanya tak lagi keluar. Ia tak mau orang lain mengetahui keadaan yang sebenarnya. Gadis itu membersihkan sisa airmatanya dan tersenyum kepada bu Tini. "Niar sudah mengenal calon suamiku, Bu. Dan pernikahan ini memang kemauan Niar. Do'akan aku bahagia ya, Bu. Bisa menjadi istri yang baik."


"Kamu cantik banget, Aira," puji Aris yang tiba-tiba sudah berdiri di samping kusen pintu. Ia berani mendatangi kamar Niar karna sang bunda ada di sana.


Niar menoleh ke arah Aris.


Deg ....


Ketika menyorot kedua mata Aris, ingin sekali ia menangis kencang dan memberitahukan semuanya pada lelaki itu. Tentang pernikahan yang tidak di inginkan juga tentang perasaannya yang selama ini di pendam.