Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 59


"Malang bener nasib daun muda itu, cuma nyenengin lu, bis itu dibuang seperti sampah. Duit emang kejam, setara dengan fitnah dan bisa buat orang mengambil jalan bundir 'bunuh diri'. Ck ... kasihan."


Deg ...


Jantung Yusha terpompa lebih cepat, ucapan Reo barusan berhasil mengusik hatinya. Nasib menjadi istri kedua memang dikatakan malang. Selama ini belum ada yang dilakukan untuk perempuan itu, ia pun gagal menolong Niar ingin menjadikan perempuan itu agar lebih berani menghadapi sikap orang-orang yang sering merundung dan menganggapnya lemah. Bagaimana nasib Niar setelah pulang ke kampung? Apakah ia semakin berani, atau ... semakin terpuruk?


"Kenapa pikiran lu sampek jauh kesana, Yo?" tanya Yusha.


"Akhir ini di rumah sakit banyak kasus percobaan bunuh diri. Kebanyakan dari mereka menanggung tekanan batin di tambah iman yang kurang kuat. Lu bayangin aja, Bray, sakik gak tuh jadi Niar? Cuma dikawinin doang, bis itu lu cerein. Mikirnya, selama dia ama elu, udah pernah lu bahagiain belum? Lu yakin, pas lu gak di rumah wanita berbisa itu gak ngomelin Niar? Bulsiet! gue mah yakin banget, istri pertama lu banyak kasih tekanan sama dia. Kalau dia mau sama gue walau bekas elu, gue mau dah. Tapi sayang, gue sadar diri. Kehidupan gue terlalu buruk buat dia, bisa aja keluar dari mulut buaya masuk kadang macan, kan, sama aja," cerocos Reo.


"Terus gue harus gimana, Yo? Apa gue susul dia ke kampung buat minta maaf?" Pria secerdas Yusha sampai kebingungan dan meminta pendapat dari temannya. Urusan kantor tidak begitu memusingkan, namun saat ini lebih sulit memecahkan perasaan bimbang dan rasa bersalah. Ia tak tahu harus bagaimana.


"Elu yang paling tau, perlu minta maaf apa, enggak. Lu juga pasti tau, keadaan dia seperti apa."


Yusha mendesah dengan mengusap rambut gondrong yang selalu di kuncir rapi. Gelisah dan gundah menyerbu secara bersamaan, menjadikan pria itu semakin frustasi. Jika menyusul ke kampung, alasan apa yang harus ia katakan untuk bertemu dengan Niar? Apakah bisa diterima logika, jika ia menemui hanya untuk meminta maaf? Namun, jauh dari itu dasar lubuk memang ingin sekali melihat Niar, memastikan perempuan itu baik-baik saja. Mungkin setelah itu perasaanya jauh melega.



Perempuan berpakaian baju tidur sexy tengah mengerjapkan mata, padahal mentari pagi telah meninggi. Kedua matanya melirik arah samping, sisi ranjang itu kosong. Ah, ia baru ingat jika semalam tidak tidur bersama Yusha. Kemana pria itu, ia tak tahu dan tidak mau tahu. Hanya saja dadanya naik turun mengingat Yusha belajar memberontak seperti semalam. Selama ini tak sekalipun mendebat saat apapun keluar dari mulutnya. Perasaan marah semakin membesar mengingat Yusha seolah membela Niar. "Sial! Dari semalam Yusha bikin mood gue tambah ancur."


"Glo, hari ini batalin jadwal pemotretan!" perintahnya pada Glory yang sedang menahan geram.


"Jangan belajar gila, Shel. Bisa-bisanya batalin pemotretan dadakan gini! Bang Safei--sang fotografer--bisa ngamuk habis-habisan!"


"Serah! Gue lagi gak mood. Gue mau ke Rumah Indah. Seperti biasa, Lo jangan ganggu gue!" Panggilan telepon diakhiri secara sepihak. Membuat Glory di seberang sana mengomel keras.



"Pah, mumpung ini weekend, ayo kita pergi ke rumah Yusha." Vivian menaruh secangkir teh di hadapan Mahendra.


"Mau apa, Ma? Mama baru keluar dari rumah sakit, harusnya anak kurang ajar itu yang jenguk kamu. Ini malah kebalikannya."


"Mama udah sehat, pengen ketemu sama Yusha. Mama juga penasaran, kenapa anak kita menikah lagi dengan pembantu kampungan itu! Dan, bisa-bisanya mereka tinggal satu atap. Astaga ...."


"Apapun alasannya, aku yakin, pembantu dari kampung itu yang menggoda Yusha. Perempuan miskin akan tergiur dengan harta, walaupun harga diri taruhannya. Kemarin gak sengaja Papa dengar pembantu itu meminjam uang seratus dua puluh lima juta, mungkin alasan itu mereka menikah. Ibarat kata, Yusha membeli ****** buat mainan. Tapi, kenapa mereka harus menikah? Papa gak bisa biarin pernikahan itu terendus pemburu berita, bisa dipastikan Hugs New hanya tinggal nama. Para penanam saham akan mengecap Yusha bukan pemimpin profesinal. Perusahaan yang Papa bangun dengan susah payah akan mengalami kebangkrutan." Panjang lebar Mahendra bertutur kata.


"Tapi, apa begitu kebenarannya? Niar itu kelihatanya baik dan anaknya polos. Masak bisa bertindak sejauh itu hanya demi uang?"


Vivian terdiam dengan dahi mengerut, menatap sang suami yang masih bergulat dengan koran bisnis. Vivian semakin penasaran dan ingin menemui Yusha secepatnya. "Setelah sarapan, Mama akan pergi ke rumah Yusha. Terserah Papa mau ikut atau enggak."


Mahendra melirik sekilas, menarik napas dan membuangnya pelan. Selalu saja perempuan itu keras kepala, tanpa ia sadari, ia pun memiliki sikap yang sama sampai keduanya sering bertengkar karena sama-sama keras.


"Kamu telpon Yusha dulu, siapa tau dia udah pergi," perintah Mahendra. Ia telah hapal dengan Yusha, meskipun hari libur, anaknya sering keluar rumah.


Vivian menuruti ide suaminya, segera menghubungi Yusha dan mengatakan ia ingin bertemu. Namun, Vivian bermuka masam saat lagi-lagi Yusha mengatakan sedang tidak di rumah.



Ada alasan kenapa Yusha memilih menolak menemui Mamanya. Ia dan Reo sudah berada diperjalanan. Mereka akan pergi ke suatu tempat.


Cukup lama berkendara di jalan aspal, kini mobil Yusha yang disetir oleh Reo sudah memasuki jalanan perkampungan. Jantung Yusha semakin berdegub kencang. Ia membayangkan sebentar lagi akan bertemu dengan Niar. Lalu ia harus bersikap seperti apa? Bisa dibayangkan kondisinya sudah jauh berbeda. Mungkin lebih canggung.


"Yang ini rumahnya?" tanya Reo saat menghentikan mobil di pinggir jalan, depan rumah Niar.


Yusha tidak menjawab, tapi raut kecemasaan kentara mengubah wajahnya terlihat tegang. Reo terkekeh geli menyaksikan temannya bisa setegang itu. Biasanya dalam situasi apapun, Yushaka Demitri tetap terlihat tegas dan tenang. Tapi kali ini sungguh berbeda.


"Gue jalanin nih, mobil masuk ke halaman rumah itu," ujar Reo.


"Tunggu, Yo!"


"Santai aja, Niar perempuan baik. Dia bakal tetep hormatin lu."


"Justru karna dia baik. Buat gue begini,"


Akhirnya Yusha memberanikan diri datang dan mengetuk pintu rumah Pak Bejo. Jangan ditanya, segugup apa pria itu berdiri di sana.


Ada bayangan, ketika membuka pintu langsung muncul wajah Niar yang biasa menyambutnya dengan seulas senyum. Kali ini ia ingin menyaksikan senyum itu lagi. Tapi, kenyataan tak seperti angan. Nyatanya Pak Bejo yang membuka pintu dan menyambut dengan keheranan.


"Tu-Tuan Yusha?"


"Pak ...."


Dari sana ada sesuatu yang membuatnya kecewa, ia tak menemukan keberadaan Niar meski telah duduk di ruang tamu bersama Reo. Rumah Pak Bejo nampak sepi.