
Beberapa kali menelpon ke nomor ponsel Niar, namun tak kunjung mendapat jawaban. Akhirnya Yusha menyuruh Kelvin untuk melacak nomor itu.
Setelah mendapat notifikasi, lelaki dengan wajah mengerasnya langsung mengendarai mobil menuju rumah sakit umum, tempat Sumiati di rawat.
Di ruang rawat Melati.
Yusha membuka pintu, tepat saat itu Niar langsung menoleh dan tertuju pada lelaki gagah yang berdiri di depan pintu. Sedikit terkejut memang, mengetahui Yusha tiba-tiba datang. Namun keterkejutan Niar berubah merah padam saat Yusha semakin mendekatinya.
"Niar," panggil Yusha pelan.
"Kita bicara di luar saja, Tuan," pungkas Niar lalu mengajak lelaki itu pergi dari samping Sumiati. Ia takut sang ibu akan terganggu dengan perdebatan mereka, ia akan melayangkan beberapa protes pada lelaki itu.
Niar duduk di kursi tunggu, diikuti Yusha yang duduk disampingnya. "Kenapa Tuan ada di sini? Apa Anda juga ikut penangkapan kakakku?" Niar bernada sarkas. Tersirat pilu dalam kedua matanya. Namun tersirat emosi tertahan, di sana.
"Tidak! Aku dari kantor pusat menuju ke sini untuk menyusulmu." Berbeda dengan manik Yusha yang menyimpan kekhawatiran bercampur rasa kasihan.
Niar menunduk, menyembunyikan genangan airmata yang sudah menggumpal dan siap membasahi pipi.
Melihat perempuan itu menunduk pilu, membuat Yusha terenyuh. Ia menginginkan senyum Niar, bukan tangisannya.
"Niar ...," panggil Yusha dengan suara tercekat.
Perempuan menggunakan pasmina cokelat tua itu menunduk, dan menggunakan kedua tangan untuk menutup wajahnya. Tetesan airmata berubah menjadi isak tangis tertahan.
Yusha mengangkat tangan untuk menyentuh pundak yang tengah bergetar, namun gerakannya hanya sebatas menggantung di udara saja. Ia takut membuat wanitanya semakin murka.
Tapi, praduganya salah. Niar justru menjatuhkan kepala pada dada bidangnya. Ia terkesiap, namun senang hati segera mendekap perempuan itu.
"Tu-tuan, katakan, apa ini semua salahku? Apa aku penyebab Ibu seperti itu? Apa ini kesalahanku? Aku harus bagaimana?" cecar Niar dengan suara bergetar. Isak tangis semakin pilu menembus di telinga Yusha.
"Tidak! Ini bukan salahmu, bukan salahku. Semua kesalahan mereka sendiri!" balas Yusha menahan geram.
"Saya harus bagaimana, Tuan? Ibu semakin membenciku. Saya penyebab Ibu terkena Stroke dan kelumpuhan sementara. Saya merasa bersalah, sekarang."
"Ibu kamu terkena Stroke?" ulang Yusha.
Niar mengangguk lemah dalam pelukan lelaki itu, sebagai jawaban.
Mendengar itu tak membuat Yusha menyesal, bahkan menyimpan kepuasan tersendiri dalam hatinya. Menganggap semua kejadian yang di alami Sumiati dan Nesva sebagai ganjaran atas perbuatan mereka sendiri.
Mungkin Tuhan melantarkan dirinya sebagai penolong sekaligus pembalas dendam atas ketidak adilan, kepiluan, airmata, kesakitan yang dialami Niar selama ini.
Niar terlalu lemah, terlalu mengandalkan hati nurani, tanpa berani berspek-up di depan mereka. Untuk itu, kedepannya apapun yang terjadi, ia telah berjanji pada diri sendiri untuk melindungi dan membuat Niar kuat. Dihadapan Ibu, Kakak, maupun di depan semua orang.
"Ada aku, kamu tenang saja, semua 'kan baik-baik saja. Aku akan mengurus semuanya," tambah Yusha dengan nada meyakinkan.
"Apa Tuan akan mencabut tuntutan untuk Kak Nesva?" Niar segera mendongak.
"Tidak begitu juga, Niar! Nesva tetap di tahan selama satu tahun ...." Suara Yusha terpotong perkataan Niar.
"Selama itu?!" tanya Niar sangat terkejut.
"Itu termasuk ringan, untuk kasus korupsi seharusnya di kurung selama 4tahun. Tapi aku mengajukan banding dan terjadi kesepakatan selama satu tahun."
Segera mungkin Niar menjauh dari Yusha, melepas pelukan dengan gerakan refleks. Antara terkejut dan malu telah memeluk Yusha lebih dulu. Lalu, ia tidak terima dengan keputusan Yusha yang memenjarakan Nesva selama satu tahun. Kasihan, tentu saja. Kenapa lelaki itu tidak mencabut tuntutannya saja. Ia berpikir, jika menghukum mereka tidak harus lewat cara seperti ini. Niar yakin, Nesva pasti bisa berubah.
"Tuan, kenapa tidak di cabut saja tuntutannya?" Niar bertanya dengan sorot mata mengiba, berharap lelaki itu bisa merubah keputusan.
"Tidak Niar! Apapun yang terjadi, tidak akan mencabut tuntutanku," tegas Yusha.
Niar melengos dan membuang napas kasar, sedikit kesal dengan keras kepala Yusha. Padahal tanpa sadar, ia pun lebih keras kepala.
"Nak, Yusha," sapa Pak Bejo yang tiba-tiba datang dari lorong berlawanan.
"Pak," balas Yusha.
"Bapak sudah kembali? Kak Nesva gimana, dia baik,kan, Pak?" runtutan pertanyaan dari Niar.
"Niar, biar bapak kamu duduk dulu," kata Yusha.
"Nak Yusha, Bapak ingin bertanya. Apa benar kamu yang menuntut Nesva dan dia di jatuhi hukuman satu tahun dalam penjara?"
"Benar, Pak," jawab Yusha tanpa merasa bersalah dan tanpa keraguan.
"Nesva berpesan pada Bapak, agar kamu mau mencabut tuntutannya. Dia bersedia kerja di kantor Nak Yusha, tanpa di gaji asal dia bisa keluar dari penjara."
"Tidak, Pak. Maafkan saya tidak bisa mencabut tuntutan itu. Semua telah di sepakati pihak hukum." Yusha terhenti sejenak, "dan ada alasan lain, kenapa saya tega memenjarakan Anak Bapak, saya harap dengan kejadian ini Nesva bisa berubah, tidak bersikap semaunya sendiri. Apa Bapak tidak merasa, jika sikap Nesva dan Ibu yang sering merundung Niar itu juga tidak luput dari kesalahan Bapak? Bapak yang tidak bisa mengatur mereka, dan terkesan membungkam mulut saat ketidak adilan itu terjadi?!"
Skakmat!!!
Pak Bejo membeku, perkataan Yusha seperti bomerang yang meluluh lantahkan dirinya. Perkataan itu memang benar adanya, ia yang lebih bersalah atas ketidak adilan yang di alami Si Bungsu. Ia membisu juga menutup mata saat Sumiati dan Nesva terus mencaci dan melakukan hal salah pada Niar.
Sedangkan Niar melayangkan tatapan marah ke arah Yusha, kenapa lelaki itu berani menyalahkan bapaknya. Selama hampir 19 tahun ia sama sekali tidak berani menyalahkan siapapun. Hanya sekali ia marah dan menyalahkan Tuhan, kenapa begitu tidak adil mengirimnya pada keluarga yang tidak menginginkannya.