
Brak ... !!!
Daun pintu dibuka paksa hingga terpental kuat mengenai dinding dan menimbulkan suara memekakkan telinga.
Yusha dan Niar sangat terkejut, terkesiap melihat perempuan berpakaian sexy tengah memandang murka ke arah mereka.
Lelaki yang tengah on ke puncak langit harus turun secara paksa. Segera menegakkan tubuh dan meraih helai pakaian yang berserak di lantai, untuk segera dikenakan. Begitu juga dengan Niar, perempuan itu bergetar ketakutan dengan bercampur malu. Hal yang sama dilakukan, yaitu mengambil helai pakaian di bawah kakinya dan dipakai dengan cepat.
"Kalian bi****! Keterlaluan kamu, Yusha! Jadi selama ini, tanpa sepengetahuanku kalian tetap melakukan hubungan seperti ini!" bentak Sheli dengan marah.
Yusha yang telah selesai memakai celana pendeknya kini mendekati Sheli. "Shel ...." Belum usai lelaki itu berbicara, Sheli menyerang tubuh Yusha membabi buta, perempuan itu marah, kecewa dan menangis meraung. "Kelewatan kamu, Yusha!" pekiknya tertahan. Suara itu hampir hilang oleh suara tangis.
Lelaki dengan rambut gondrong yang telah berantakan kesana-kemari menangkap kedua pergelangan tangan Sheli, menghentikan tindakan brutal yang menyerang tanpa ampun.
"Shel, dengarkan aku! Ini bukan sengaja menyakitimu. Maafkan aku, harusnya kamu tau, pernikahanku bersama Niar hampir 6 bulan terjalin, tapi sampai saat ini belum membuahkan hasil. Jika aku tidak melanggar janjiku, akan lebih lama lagi pernikahanku bersama Niar harus berlanjut," papar Yusha dengan gamblang. Seolah di dalam ruang hanya ada lelaki itu dan istri pertamanya. Sedangkan seonggok daging yang sibuk membenahi pakaiannya yang tadi dilucuti oleh lelaki itu sama sekali tidak di anggap.
Airmata Niar sudah luruh sejak tadi, perempuan itu menggigit ujung bibir menahan isak tangis agar tidak terdengar. Meski begitu, memang suaranya tenggelam dari lengkingan tangis Sheli yang kian memekakkan telinga.
Niar memejamkan mata menahan segala perasaan. Sungguh, perkataan Yusha bagai sembilu yang kembali menyayat-nyata hati. Apakah ia terlahir untuk menanggung lara? Kehidupan yang dijalani seimbang, tawa dan duka selalu beriringan. Bahkan luka hampir merenggut tawa yang mulai hadir.
Di rumah lama, ada sang ibu dan kakak yang tiada henti merundung dengan ketidak adilan. Di sini, rumah yang di anggap aman dengan lingkup hangat perhatian Yusha, dengan segala tawa yang mulai mengukir waktu indah harus hilang ketika Sheli datang.
Nyatanya kesakitan masih bisa di rasakan meski lelaki itu berkali-kali mengatakan akan menjaga dan melindungi dengan pertolongan. Manakah kebenaran ucapan itu? Nihil tidak ada bukti, ketika berhadapan dengan Sheli perkataan itu hanya bagai dongeng saja. Tetap perempuan itu yang utama.
Pilu dirasa kian menyesakan dada, ketika kedua telinga itu penuh mendengar perdebatan mereka. Kaki gemetar, hampir tak kuat menahan beban badan, ingin melangkah menjauh, tapi tak ada celah untuk pergi. Sheli dan Yusha melakukan perdebatan di depan pintu. Lalu lewat manakah ia akan pergi? Jendela bisa saja terbuka, ia bisa pergi lewat alternatif itu. Dan tidak hanya pergi dari hadapan mereka berdua, ia bisa pergi sejauh mungkin bahkan dari dunia yang kejam ini.
"Waktunya memang sudah sangat lama, 6bulan! Ya, 6bulan, dan dia juga belum hamil. Mungkin aku salah memilih wanita untukmu, bisa saja dia tidak subur alias mandul!" tuduh Sheli dengan kilatan tajam menghunus jantung Niar. Airmata semakin deras bercucuran tiada henti membasahi pipi hingga jilbab instan yang digunakan ikut basah.
"Ceraikan dia! buang dia ketempat asalnya. Dia tidak berguna, tidak becus menghasilkan keturunanmu. Aku yakin dia mandul! Aku menyesal memilih dia untuk melahirkan keturunanmu, nyatanya dia tidak subur!"
"Tutup mulutmu, Shel. Jangan keterlaluan kamu bicara!" Nada bicara Yusha tak kalah meninggi mengimbangi lawannya.
Hampir saja tubuh Niar ambruk diatas lantai, tanpa gerakan sadar kedua tangannya sudah mengait dengan erat. Kuku yang indah mulai menusuk buku tangan hingga memutih lalu berubah memerah.
Apa yang bisa ia lakukan? Apa yang bisa ia suarakan untuk membela harga dirinya? Suara pembelaan yang keluar dari mulutnya akan dianggap angin belaka.
Berbagai cacian pedas hingga tak pantas sudah sering menemani perjalannya dari lahir. Perempuan itu menegarkan hati yang rapuh. Hanya diri sendiri yang mampu menegakkan hati.
"Tidak Shel, jangan suruh aku ceraikan dia sekarang," tolak Yusha. Apa yang ada dalam benaknya? Ingin meyakinkan perasaan. Yah ... lelaki itu ingin meyakinkan perasaanya bahwa cinta lama masih bertengger kuat atau sudah terganti dengan yang baru.
Namun, kenapa rasanya masih berat untuk memilih salah satu dari mereka. Lagi-lagi logika berperan memberi tekanan bahwa Sheli adalah cinta mati untuknya--tidak akan terganti dengan perempuan yang baru hadir dalam waktu singkat.
Tanpa tahu, bahwa cinta sebenarnya tidak mengenal waktu, mana yang paling lama atau mana yang baru datang. Tidak mengenal seberapa dekatnya. Tapi, cinta lebih membutuhkan perasaan nyaman dan bisa saling melengkapi. Mengatakan isi cinta bisa terurai sangat lama, karna cinta memiliki banyak definisi dan pandangan.
"Kamu!" Sheli menunjuk ke arah Niar. Pandangan keduanya saling beradu. Dua pasang mata memiliki amarah berbeda.
"Apa dibalik sikap lugumu tersimpan pemikiran licik?! Diam-diam menikmati peranmu sebagai wanita murahan!" hujat Sheli tanpa perasaan. Alkohol telah merusak akal sehatnya.
"Sheli, CUKUP!!!"
"DIAM KAMU, YUSHA!!!"
Akhirnya tak kuat lagi menopang tubuh ringkihnya, hingga Niar merosot ke lantai. Bagaimana bisa Sheli menuduhnya tanpa perasaan? Apa wanita itu lupa, siapa yang menyeret ketentramannya agar terlibat pernikahan ini. Siapa yang menyuruh untuk menjadi rahim sewaan? Apa wanita itu juga lupa, jika dari awal ia tak pernah menyetujui, tapi di paksa keadaan. Dan takdir Tuhan pun seolah memberi restu agar ia menempati posisi yang sekarang.
Jika ia bisa memilih, ingin memerdekakan hatinya sendiri. Tak ingin berada didekat manusia-manusia keji tanpa perasaan! Tapi, sekali lagi ia pun menerutuki diri sendiri yang memiliki sikap lembut. Hingga hanya bergeming ketika orang-orang merendahkannya. Hanya mampu menunjukan sorot luka tanpa mampu bersuara.
'Tuhan, ambil saja nyawaku, hingga aku takkan lagi berteman dengan lara.'
.
.
.
.
.
(Maafkan akak mei yang mengambil kisah ini. Kalian akan kesulitan menebak kisah mereka. Kalau gitu samaan, akak mei juga sulit menebak alur berikutnya🤦🏻♀️😅🙏)