Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 84


Mendapat laporan dari asistennya, tanpa menunggu lama pria bernama Yusha Demitri Mahendra telah mengendarai mobil seorang diri menuju kawasan Rumah Indah.


Hampir mendekati kawasan tersebut, Yusha menelepon Kelvin dan menanyakan sang asisten itu ada di mana.


"Vin, kamu di mana? Aku ditahan di post keamanan."


"Baiklah Tuan, tunggu sebentar. Saya akan ke sana."


Setelah sambungan telepon dimatikan, Kelvin menghidupkan mesin mobil untuk menyusul Yusha.


Saat sampai di tempat keamanan, Kelvin segera turun dan menghampiri Yusha yang sedang bersama dua orang berbadan tinggi, tegap, yang tak lain sebagai security di wilayah Rumah Indah. Tak jauh dari Yusha berdiri ada Dika, orang suruhan Yusha untuk memantau Sheli.


"Vin, bagaimana kamu bisa masuk?" tanya Yusha keheranan karena ia tidak diperbolehkan masuk sedangkan Kelvin bebas hambatan untuk keluar masuk.


"Maaf Tuan, saya memiliki satu aset rumah di kawasan ini, jadi saya bisa masuk kapan saja."


"Kenapa kamu tidak memberitahuku?"


"Saya sudah memberitahu Anda, mungkin saat itu Anda tidak fokus jadi Anda menolak tawaran saya untuk melelang salah satu rumah di sini."


"Benarkah?" Yusha tidak begitu mengingatnya. "Lalu bagaimana aku bisa masuk?" tanyanya.


"Sebentar, biar saya bicara dengan mereka." Kelvin lebih mendekat pada dua pria yang memakai seragam serba hitam. Keduanya terlihat tegas.


"Pak, ijinkan atasan saya untuk masuk kawasan ini. Bapak bisa cek kartu identitas bos saya, Beliau CEO dari perusahaan Hugs Way."


"Apa benar Mas ini atasan Anda?" Satu security memastikan.


"Benar." Kelvin memberikan kartu identitas ia dan Yusha supaya security itu mengizinkan Yusha masuk.


"Baiklah, Tuan ini bisa masuk, tapi harus menandatangi surat perjanjian agar tidak menimbulkan keributan."


"Siap, Pak," jawab Kelvin.


Setelah prosedur penandatanganan surat perjanjian, Yusha menitipkan mobil di tempat tidak jauh dari tempat keamanan. Ia memilih masuk ke dalam mengendarai mobil Kelvin.


"Kawasan macam apa ini! Sampek harus dijaga seperti itu." Yusha terlihat kesal.


"Kawasan Rumah Indah memang sangat ketat Tuan, biasanya yang memiliki aset di sini orang yang tidak ingin bersosial karena kebanyakan pemilik aset hanya singgah sementara. Rumornya, mereka membeli rumah dengan keamanan privat biasanya untuk menyembunyikan istri simpanannya atau hanya untuk kepemilikan aset saja," terang Kelvin.


"Kenapa kamu tidak rekomendasikan untuk aku, tau gitu Niar dulu kusembunyikan di sini, biar aku tidak kehilangan jejaknya."


"Hah?" Kelvin tercengang. Hampir saja menginjak pedal rem, beruntung masih bisa mengendalikan gerakan reflek. Bukan hanya itu, suara tawanya hampir pecah jika ia tidak bisa menahan sekuat tenaga. Sang asisten itu sampai lupa jika tuannya pernah menikahi dua perempuan dan tinggal satu atap. Sebenarnya waktu itu Kelvin sudah memberitahu pada Yusha, tetapi sang bos itu menolak. Dan akhirnya dia lah yang membeli aset di kawasan Rumah Indah.


Tiba di rumah paling ujung dengan gerbang tinggi namun dengan besi yang terpasang renggang membuat Yusha maupun Kelvin bisa melihat mobil pribadi Sheli terparkir di halaman rumah itu.


"Kenapa mobil Sheli ada di sana? Atau mungkin ini salah satu aset milik Glory?" tanya Yusha. Kelvin yang tidak tahu hanya mengangkat bahu.


"Oh, tunggu sebentar Tuan, biar saya turun dan bertanya pada security yang berjaga," kata Kelvin.


Walau di gerbang depan sudah dijaga dengan dua security, namun di halaman itu masih dijaga satu security lagi.


Kelvin turun, terlibat percakapan dengan security lalu tak berapa lama sudah kembali ke mobil.


"Ada apa?" tanya Yusha tak sabaran.


"Saya sudah tanyakan, dan ternyata pemilik rumah itu atas nama Thomas Jerryas. Yang tak lain, Jerry mantan Nona Sheli."


"Apa?!" Seketika bola mata Yusha melebar sempurna. Pria itu sangat terkejut sampai badannya mencondong ke depan. Bahkan telapak tangannya seketika terkepal kuat. "Kurang ajar!! Jangan-jangan selama ini Sheli sering menemui pria breng sek itu!!" berang Yusha.


Yusha segera turun dari mobil dan mendekati security yang berjaga, pria itu menunjukan identitas diri termasuk status pernikahannya bersama Sheli. Yusha mengatakan sedang mencari Sheli karena ada urusan penting, hingga security itu membolehkan Yusha masuk.


Yusha berjalan cepat, sampai di depan pintu melihat daun pintu tidak tertutup rapat membuat Yusha leluasa masuk tanpa izin. Samar telinganya mendengar suara aneh, membuat pria itu penasaran. Yusha terus melangkah mengendap mencari sumber suara.


"Ssstttt ... kamu selalu membuatku puas, Sayang."


"Tentu saja. Lebih puas siapa aku dengan Yusha?"


"Jangan bicarakan pria idiot itu! Aku ingin membunuhnya! Sssttt ...." Desa han Sheli bercampur amarah.


Di luar Yusha menahan kemurkaan. Benar-benar tak menyangka Sheli adalah perempuan jahat dan munafik. Yusha segera mengambil ponsel untuk memvideokan dan merekam percakapan mereka. Dengan tangan sebelah ia mengusap wajahnya kasar saat kamera ponsel itu menampilkan gambar keduanya sedang bercumbu bagai pasangan suami istri.


"Rasanya aku muak berpura-pura mencintai Yusha, apalagi memberi dia keturunan. Aku gak sudi. Untung saja dokter memvonis rahimku kering, jadi aku gak harus susah payah hamil anak dia. Rasanya udah gak betah tinggal di rumah itu, apalagi sejak perempuan jala ng itu pergi, Yusha semakin susah untuk diperalat."


"Sabar dong, Beb. Tujuan kita belum tercapai, kekayaan Yusha belum semuanya beralih atas namamu, jadi kamu harus bersabar. Kita harus kuras habis, setelah itu kita depak Yusha agar jadi gelandangan. Dengan begitu kekesalanmu akan terbalas."


"Haha ... kamu benar. Tapi ada cara cepat lainnya, enak kita racun saja agar dia cepat mati. Dengan begitu kita gak akan lama menguasai harta Yusha."


"Terlalu besar resikonya. Lebih baik kita main cantik aja. Dengan begitu kita aman tanpa terlibat pihak kepolisian."


"Huft ... terserah rencanamu, yang terpenting kamu jangan tinggalin aku. Sejak aku berhenti jadi model kamu susah dihubungi. Kamu gak main serong, kan, dengan perempuan lain?" selidik Sheli menghentikan kegiatannya.


"Enggak, Beb. Kemarin aku ada pemotretan di luar negeri, dan aku lupa kabarin kamu. Percayalah, aku hanya cinta sama kamu. Setelah kamu berhasil mengambil kekayaan Yusha, kita akan segera menikah."


Dibalik pintu sekuat tenaga Yusha menahan diri supaya tidak gegabah untuk menangkap basah perbuatan bina tang mereka. Ia terus menggali bukti untuk menceraikan Sheli, bahkan akan melaporkan kedua manusia iblis itu pada pihak kepolisian supaya Sheli dan Jerry di mendekap di penjara.


Sungguh tak menyangka ia menikahi perempuan berhati iblis. Pria itu bukan lagi menyesal, tetapi sangat dan amat sangat menyesal mempertahankan Sheli.


Percakapan konspirasi mereka terhenti, telinga Yusha sangat panas mendengar ******* Sheli yang baginya menjijikan. Pria itu menyimpan rekaman video sebelum ia membuka pintu dan akan menangkap basah pasangan pezina itu.


.


.


.


.


.


Lanjut gak nih? Gimana? Ikut emosi gak?


Setelah mereka nanti digrebek dan ditangkap polisi. Kalian mau apa lagi? 🤭