
Datangnya malam, hampir saja dibunuh sepi. Hati berserak tak terbentuk lagi. Ingin berseru pada bulan, malam pekat atau angin yang berderu, bahwa hatinya sedang kehilangan sesuatu. Dan, naasnya ia tak tahu apa yang telah hilang. Tiba-tiba saja sepi menghampiri, sedih menguliti. Lalu, resah memenuhi. Merindu namun terhalang ragu.
Manik tajamnya menghunus langit, mencari bayangan sesuatu di sana. Gerangan wajahnya makin bergambar. Apa sosok bidadari tak bersayap itu telah menempati sisi relung hati?
Ia belum percaya. Bahkan sebagian raganya hampir melebur kehilangan gairah, tetapi masih tak percaya jika sosok itu telah berhasil mencuri sebagian jiwanya. Terbukti, setelah kepergiannya, ia tak lagi menemukan sesuatu yang indah, tak lagi menemukan kenyamanan dan tawa bebas. Kemana perginya semua itu, jika bukan sebagian telah dibawa olehnya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Netra Yusha sudah beralih menekuni pinggiran cangkir kopi. Kepulan asam masih bisa di rasa, harum khasnya menguar memenuhi indra penciuman.
Malam ini tak ada suara apapun, juga tak ada siapapun. Bergeming dalam sepi.
Perasaan membanding-bandingkan kejadian sebelum dan sesudah yang terjadi. Banyak hal yang telah terlewati, menimbulkan titik nyeri yang sulit dipahami.
Sheli, yang digadang-gadang sebagai ratu hati nyatanya tak peduli. Kemana perempuan itu pergi, ia tak tahu. Ia semakin terjatuh pada lubang kebimbangan dan penyesalan. Mungkin benar apa yang dikatakan sahabatnya, mungkinkah hati itu telah berpindah haluan.
Hampir ratusan kali meng-klik nomor Niar, tetap saja tidak aktif. Ratusan kali juga mulutnya mendesah. Kepala berdenyut setiap kali mengingat kebohongan yang sudah ia lakukan terhadap kedua orang tuanya, hati itu tersiksa untuk menyimpan dusta.
Tepatkah jika ia bongkar semuanya? Lalu, sebenci apa kedua orang tuanya terhadap Sheli--orang yang selalu mencetus ide-ide gila. Namun, bodohnya ia selalu menuruti. Akibat termakan cinta buta, hal dustapun ia halalkan.
Menyesal, tetapi tak tahu harus melakukan apa. Pendiriannya masih belum kuat, kesiapannya belum terkumpul penuh untuk merasai sebab akibat.
Kesal, hanya satu foto yang tersimpan dalam galeri ponselnya. Foto saat sah menjadikan Niar halal untuk disentuh. Senyum manis terbingkai pada wajah polos Niar yang dibalut keanggunan. Ah, benarkah ini rindu untuknya? Jika itu sebuah rindu? Apalagi yang bisa dilakukan? Semua telah berakhir. Alangkah tidak tahu malu jika ia meminta untuk kembali. Lalu, bagaimana dengan Sheli? Kedua orang tuanya? Itulah yang membelenggu kesiapannya.
Yusha menyesap kopi hitam dan merasai pahit manis menjadi satu. Tetapi ketenangannya terganggu dengan suara benda jatuh. Pria itu segera bangkit untuk memeriksanya.
"Sheli ...."
Perempuan itu jatuh di atas anak tangga, Yusha segera mendekat dan membantu istrinya untuk berdiri. Bau alkohol menyengat membuatnya muak.
Malam pukul satu dini hari Sheli baru pulang. Keadaanya hampir tak berbentuk karena penampilannya kacau.
Terdengar deru mesin mobil yang menyala, lalu menjauh. Dapat diduga jika itu mobil Glory.
"Hey, kamu Yushaka? Suamiku? Haha ... akhirnya aku bertemu denganmu. Kamu kemana saja? Aku mencarimu sejak pagi. Aku ingin bersetubuh denganmu. Tapi, gak jadi! Kamu udah basi!" rancau Sheli yang telah kehilangan kesadarannya.
"Kamu terlalu banyak minum. Apa tidak bisa mengurangi kadar alkohol yang kamu konsumsi?" ucap Yusha kesal. Ia memapah tubuh Sheli, membawanya ke kamar.
"Hey, kamu membawaku ke kamar? Aku capek, seharian bermain terus. Aku gak mau lagi." Sheli tak henti merancau. Tetapi Yusha tak menanggapi dan terus memapah tubuh Sheli.
Bruk ....
Tubuh Sheli terjerembab di atas bed empuk. Yusha lantas membenarkan posisi Sheli agar nyaman. Setelah selesai, pria itu berembus kasar. Nanar menatap Sheli yang terpejam, mulut sexynya tak henti merancau kalimat tidak jelas.
Yusha beralih duduk di pinggiran ranjang, tangan kekarnya mengusap wajah pelan. "Apa kamu tidak berpikir jika seperti ini terus, rahimmu bisa bermasalah. Akan lebih lama kita mendapat momongan. Apa kamu tidak ingin mengandung anakku?" ucap Yusha bermonolog sendiri.
Pria itu bangkit untuk pergi dari kamar utama, kamar yang dulu hangat penuh cinta. Namun, makin lama cinta itu memudar semenjak Sheli makin tak perduli dan makin keterlaluan dalam bersikap.
Deg ....
Langkah Yusha terhenti, ia bergeming pada ditempatnya berdiri. Satu nama pria yang disebutkan Sheli barusan membuatnya panas dingin menahan gelenyar amarah. Dada naik turun sejalur dengan emosi menguasai jiwanya.
"Kenapa kamu memanggil nama Jerry? Suamimu Yusha bukan Jerry!" pekik Yusha seperti orang bodoh. Ia berteriak pada Sheli yang sudah tidak memiliki kesadaran penuh.
Tidak perduli dengan waktu yang menunjukkan hampir pukul 2 dini hari, pria itu menghubungi nomor asisten isterinya.
"Halo, ganteng. Ini hampir pagi, ada apa kamu menghubungiku? Sheli sudah aku antar ke rumah," cerocos Glory dari seberang telepon.
"Dia sudah sudah tidur. Kenapa hari ini dia mabuk berat?" tanya Yusha tanpa basa-basi.
"Oh, seperti kamu tidak hapal saja dengan istri cantikmu itu, dia susah berhenti kalau sudah minum alkohol. Sebenarnya dia tadi gak mau pulang, tapi aku paksa," jelas Glory.
"Kau paksa. Atau Jerry yang memaksa?!"
"Hah?" Di seberang Glory terkejut mendengar pertanyaan Yusha.
"Apa dia masih berhubungan dengan Fotografer gadungan itu?!" cecar Yusha.
"Eng-enggak! Sheli sedang terikat kontrak untuk menjadi model make-up Chansel dengan perusahaan CN." Suara Glory terlihat gugup dan bergetar. Seolah sedang menutupi sesuatu.
"Apa setiap selesai pemotretan selalu merayakannya dengan minum-minuman beralkohol! Kamu pintar, harusnya ngerti jika perempuan tidak boleh keseringan mengonsumsi alkohol. Dia akan kesulitan hamil!" papar Yusha.
"Walau Sheli tidak mengonsumsi alkohol, dia tetap tidak akan hamil, kan, kalian program KB."
"Tetap saja alkohol tidak baik untuk dia!"
"Hem ... baiklah, besok-besok aku coba untuk nasehatin dia lagi. Kalau mempan."
Tak ingin membahas apapun lagi, Yusha langsung mematikan sambungan telepon. Ia segera pergi dari kamar utamanya yang tak lagi membuatnya nyaman. Ia kini lebih nyaman berada di kamar bawah, bekas kamarnya dengan Niar. Pria itu memilih mengistirahatkan tubuh di sana.
•
Pagi menyambut sang surya dengan kehangatannya. Rasanya baru berapa menit lalu ia mengistirahatkan tubuh, tetapi kini di paksa bangun dengan ketukan pintu dari luar.
Yusha berjalan menuju pintu dan membukanya, terlihat tubuh gagah sang asisten yang telah berdiri di depannya. "Ini jam berapa? Kenapa kamu sudah sampai di sini?"
"Hampir jam 7 pagi, Tuan. Maaf saya telah lancang membangunkan Anda, hari ini ada meting pagi."
Mulut Yusha mendesis, tangan memijit pinggiran pelipis dan dahi. Kepalanya terasa berat, mungkin kurang istirahat.
"Sstt ... Aku kesiangan. Kamu tunggu sebentar." Yusha hampir berbalik tetapi diurungkan. "Bilang Bi Mur untuk mengambilkan pakaianku di kamar atas!"