Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 25


Mobil yang di kendarai Glory sudah meninggalkan pelataran rumah pak Bejo. Kini hanya tinggal Yusha dan Kelvin yang masih berada rumah itu.


"Niar, sebaiknya kita pulang sekarang," ajak Yusha.


"Maaf Nak Yusha, apa kalian gak ingin menginap dulu disini," sela pak Bejo berbasa-basi dengan menantunya.


"Iya Tuan, sehari saja kita menginap di sini kalau Tuan gak keberatan." Niar menyetujui usul bapaknya. Gadis itu ingin menikmati hari terakhir di rumahnya sebelum ia di boyong ke rumah Yusha untuk waktu yang tidak bisa di tentukan.


"Niar, dia sudah menjadi suamimu, gak enak di dengar kalau kamu masih panggil dia dengan sebutan tuan." Pak Bejo menasehati.


"Um ... Ka--k Yus--ha," ralat Niar dengan gugup.


Telinga Yusha merasa aneh mendengar Niar memanggilnya dengan sebutan Kak. Asing namun terasa berbeda, sedikit menghangat mendengarnya. Lelaki itu diam saja, tidak menolak juga tidak menyetujui.


"Apa kita akan tidur di rumah ini?" Yusha bertanya ragu. Matanya meneliti bangunan yang di pijak, tampak sudah tua, terlihat usang dan sempit. Bisakah dia menginap di rumah itu walau satu malam? Dari kecil ia tak pernah meninggalkan istananya yang megah, ia pasti kesulitan untuk menyesuaikan keadaan.


Niar mengangguk, tapi pak Bejo kembali berucap. "Bapak gak bisa paksa, kalau Nak Yusha tidak mau menginap, ya gak apa. Kamu harus menuruti perkataan suamimu, Niar."


Niar nampak murung, sebenarnya ia belum siap kembali ke rumah Yusha karna takut jika lelaki yang sudah menjadi suaminya itu akan meminta haknya malam ini juga. Sungguh, ia belum siap.


Melihat Niar berubah murung, entah mengapa membuat Yusha berkata tanpa di pertimbangkan lebih dulu. "Baiklah, malam ini kita menginap di sini. Tapi besok pagi sekali harus kembali ke rumahku," ujarnya.


Bagaikan mendapat keberuntungan, Niar mendongak dan tersenyum merekah pada Yusha. "Iya Kak, makasih udah mau menginap di sini," ucap Niar senang.


"Vin, kamu kembali ke Hotel. Malam ini aku menginap di sini," kata Yusha beralih menghadap ke arah Kelvin.


"Siap Tuan." Kelvin lebih mendekati tuannya dan berbicara lirih. "Tuan Mahendra sejak tadi menelponku dan menanyakan anda."


Yusha mengambil ponsel dan menghidupkan power on, sejak tadi ia sengaja mematikan daya ponsel agar tidak ada yang mengganggu.


"Halo, pa ...," Yusha sedikit menjauh saat menelpon papanya.


"Kenapa dari tadi ponselmu gak bisa di hubungi? Mama baru pulang dari rumahmu, tapi kamu gak ada."


"Yusha sedang ada urusan, pa. Malam ini juga gak bisa pulang. Nitip salam aja buat mama," balas Yusha.


Pak Bejo menyusul istrinya yang sedang membereskan dapur, sepanjang melakukan pekerjaan itu Sumiati menggerutu sebal. Ia harus membersihkan sisa acara tadi seorang diri. Nesva tentu saja acuh jika berurusan dengan dapur. Niar? Tidak mungkin ia menyuruh Niar membereskan semuanya, merasa segan dengan keberadaan Yusha.


Yusha seorang diri masih duduk bersila di ruang tamu setelah tadi berbincang sebentar dengan papanya lewat sambungan telpon. Ia merasa aneh dan canggung berada di rumah itu. Ingin menyusul Niar, namun tidak tahu gadis itu berada di mana.


Niar yang tadi ingin berganti baju merasa kesulitan dan meminta bantuan pada kakaknya. Gadis itu mengetuk kamar Nesva, "ada apa sih, ganggu aja!" sinis Nesva saat membuka pintu kamar.


"Kak, tolong bantu aku lepasin riasan ini." Niar menunjuk atas kepala bagian belakang.


"Ih ... minta bantuan sama suamimulah! Jangan aku!" tolak Nesva dan menutup pintu kamarnya kembali.


Niar beralih mengintip celah kecil gorden di pintu tengah, melihat bagian ruang tamu ternyata mendapati Yusha seorang diri dan sedang sibuk dengan ponselnya.


Ia tak enak hati membiarkan Yusha sendirian, bagaimanapun lelaki itu pasti merasa asing berada di rumahnya.


Ia melangkah menghadap Yusha. "Tu-tuan di sini sendirian," tanyanya.


"Anda bisa beristirahat di kamar saya," kata Niar.


•••••••••••


Yusha mengusap wajahnya kasar, mulut pria itu mendesis dengan sesekali berdecak kesal. Ia tidak menyukai keadaan di kamar Niar.


Saat ini pukul satu malam, namun mata Yusha sama sekali tidak bisa terpejam. Keringat sebesar biji jagung meleleh di dahi putihnya.


Lelaki itu kepanasan berada di kamar Niar yang sempit, bahkan untuk bernapaspun sulit.


Tidak habis pikir, bagaimana bisa keluarga Niar bisa bertahan tinggal di rumah itu. Apalagi kamar Niar, mata Yusha meneliti kamar itu dengan jeli tanpa ada yang terlewat.


Hanya bertambahnya dengan satu koper miliknya, kamar Niar benar-benar tak ada celah untuk nepakkan kaki. Kamar pembantu dirumahnya lebih luas dari kamar yang di tempati saat ini. Dengan busa yang terasa keras membuat badannya terasa sakit.


Plak ... plak ...


Nyamuk nakal bertebaran, membuat tangan Yusha tak henti bertepuk untuk mengusir nyamuk.


Tepat saat itu tidur Niar menjadi terganggu. "Anda belum tidur, Tuan?" Meski ia telah resmi menjadi istri Yusha, tapi ia tak melepaskan jilbab instan dari kepalanya.


"Kamu kira aku bisa tidur di kamar yang lebih mirip dengan penampungan ayam?" balasnya dengan tatapan kesal.


"Kenapa sih harus nginap di sini? Kenapa gak langsung pulang ke rumahku, atau kita bisa nginap di Hotel," imbuh Yusha masih dengan nada kesal.


Niar menggeser tubuhnya hingga mentok ke dinding, merasa bersalah mengajak Yusha menginap di rumahnya. Ia tak berpikir panjang jika Yusha akan marah dan merasa kesulitan.


"Bagaimana bisa kamu tidur di sini? Panas, banyak nyamuk, sempit lagi," gerutunya.


"Maaf, apa Tuan kepanasan?"


"Hanya orang tidak normal yang gak kepanasan tidur di kamar engap ini," sentak Yusha tertahan.


"Anda berbaringlah, biar saya yang kipasin," tawar Niar.


Yusha merebahkan tubuhnya di atas kasur yang menurutnya berisi batu. Karna kasur itu sangat keras dan tidak nyaman.


Yusha berbaring miring membelakangi Niar, tidak perduli dengan keberadaan gadis itu.


Dengan terkantuk-kantuk Niar tetap mengibaskan buku tipis untuk mengipasi tubuh Yusha. Keadaan itu bertahan hampir dua jam hingga terdengar suara kokok ayam saling bersahutan.


Niar yang hampir terpejam kembali terjaga saat buku tipis di tangannya terjatuh. Ia hampir saja terjatuh di atas dada Yusha yang kini sudah berganti posisi berbaring telentang.


Di kamar minim cahaya Niar mengamati wajah Yusha yang terpejam dengan wajah damai. Wajah putih mulus dengan pahatan yang sempurna. Alis tebal, sorot mata tajam namun terkadang lembut, hidung mancung dengan ukuran bibir pas. Jambang yang di cukur habis hingga membuat wajah itu terlihat lebih muda dari umurnya. Rambut gondrongnya yang berantakan memenuhi bantal.


Saat tersadar, Niar menggelengkan kepala dan menerutuki pemikirannya yang baru saja mengagumi sosok Yusha.


Bagaimanapun ia harus sadar diri dan menjaga perasaannya agar tidak jatuh ke dalam pesonanya. Pria yang mengklaim sangat mencintai istri pertamanya.