
"Papa gak mau tau, akhiri semuanya sebelum publik mengendus skandalmu bersama wanita murahanmu itu!" tandas Tuan Mahendra.
"Pa ...." Yusha ingin membantah, tapi ucapannya menguap di udara.
"Tidak ada bantahan!" Jari telunjuk Tuan Mahendra mengarah tepat di depan wajah Yusha.
"Bagaimana Sheli tidak mengadukan masalah sebesar ini. Dia pasti tertekan dan makan hati akibat nafsumu bersama wanita itu! Anak kurang ajar. Kamu lupa bagaimana perjuanganmu mendapatkan Sheli? Sekarang kamu menyakitinya begitu saja." desis Tuan Mahendra lagi.
'Andai Papa tau, semua ini memang rencana yang disusun Sheli. Dia sendiri yang menyuruhku menikahi Niar.' Ingin sekali Yusha mengatakan kebenaran yang sesungguhnya tapi lelaki itu mempertimbangkan keadaan, bisa saja semua menjadi rumit saat kebohongan dalam rumah tangganya terbongkar. Saat ini bukan waktu yang tepat. Apalagi kondisi Vivian masih belum stabil, ia tak bisa mengambil resiko besar.
"Ceraikan dia dan suruh dia pergi! Beri dia uang berapapun yang diminta, asal hubungan kalian berakhir sekarang juga!" Tuan Mahendra memandang Yusha, sedetik kemudian beralih menatap Niar. "Jangan ganggu rumah tangga anakku lagi!"
"Perbuatanmu tidak sepolos wajahmu! Memang tidak bisa menilai orang hanya dari luarnya saja. Nyatanya yang berkedok muslim belum tentu berperilaku baik. Yang tertutup pun bisa menjadi murahan!" cicit lelaki paruh baya itu merendahkan penampilan Niar.
Deg ...
Perih, sakit, tak ada sketsa yang mampu menggambarkan kesakitan yang dirasa. Harga diri meluruh tak dapat dipertahankan. 'Wanita murahan. Perbuatanmu tak sepolos wajahmu. Nyatanya yang berkedok muslim belum tentu berperilaku baik.' kalimat itu berputar dan terus terngiang di telinga.
Seolah bukan lelehan airmata lagi yang keluar dari sudut matanya. Cucuran darah tak kasat mata telah melumuri wajah penuh lara itu.
Niar menunduk, tak sanggup mendongakkan wajah untuk memperhatikan kearah Tuan Mahendra maupun Yusha. Perempuan itu ingin pergi, berlari menjauh hingga hilang dari pandangan. Bila perlu pergi dari dunia ini. Dunia fana penuh kemunafikan. Dunia fana penuh kekejaman, menindas yang lemah menjadi hina. Mengagungkan yang bermartabat tanpa memuliakan yang tak berpunya.
Apakah adil ketika seseorang menuduh secara brutal tanpa mau menyelami kejadian sesungguhnya.
Suara apa yang bisa ia keluarkan? Semua tertelan kesakitan. Hanya mampu menelan kepahitan tanpa mampu membela. Yang ber-uang, ialah yang berkuasa.
Kedua tangan saling meremas kuat hingga melukai permukaan kulit. Lecet di kulit tak sebanding dengan lecet yang ada dihati, terasa merajam seluruh tubuh. Ia semakin yakin dunia ini amat sangat kejam baginya. Terlahir sebagai perempuan berhati lemah, tidak bisa melawan kekejaman dari orang-orang yang menyakitinya.
Menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, sekuat tenaga perempuan itu menegarkan hati yang telah porak poranda. "Tuan Yusha," panggilnya lirih hampir tak terdengar. Perhatian Tuan Mahendra dengan Yusha langsung beralih padanya.
"Tolong ceraikan saya sekarang juga. Maaf saya tidak bisa melanjutkan semuanya. Untuk uang seratus dua puluh lima juta sebagai penebus hutang keluarga saya, tetap saya anggap sebagai hutang. Walau belum pasti kapan saya punya uang, tapi segera akan melunasi hutang itu. Dan, saya tidak meminta uang Anda seperpun, setelah kata talak diucapkan. Secepatnya saya akan pergi dan tidak akan menggangu keluarga Anda lagi."
Yusha berdiri kaku menatap Niar dengan pandangan sulit diartikan. Setengah hati tidak ikhlas harus melepas perempuan itu pergi. Kebersamaan yang dilalui terasa nyaman dan indah, hari-hari berubah berwarna sejak kedekatannya terjalin. Harus bagaimana ia merelakan itu?
Lelaki tak berdaya itu mengutuk keadaan yang tidak bersahabat. Kenapa secepat ini semua terbongkar, hingga memaksanya harus mengakhiri.
"Pa, tolong beri kami waktu untuk membicarakan masalah ini." Yusha memohon pada papanya. Berharap ada jalan lain agar perceraian itu tidak diucapkan.
"Yushaka! Tidak ada tegang waktu! Ucapkan sekarang juga!"
'Lidahku terasa kelu. Otakku melumpuh untuk merangkai kata talak. Apa yang harus kulakukan untuk keluar dari situasi ini? Waktu berlalu terlalu singkat. Apa seperti ini takdir perjalanan kita. Kamu hanya singgah untuk sementara, lalu pergi begitu saja? Atau Tuhan ingin menjawab keraguanku atas takdir jodoh yang sesungguhnya? Menjadikan Sheli tetap menjadi sumber kebahagianku? Bukan kamu?'
"Niar," panggil Yusha dengan suara berat. "Maafkan aku."
"Tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu dimaafkan."
"Aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk menjagamu dan menjadikanmu wanita kuat." Sorot mata mereka bertemu, beradu dalam kesedihan.
Dalam derita dan kecewa yang dirasa, perempuan itu tidak lupa menampakkan lengkungan bulat sabit dibibirnya. Walau airmata berlinang tiada henti, mampu mengimbangi dengan sebuah senyuman. Niar mengangguk. "Tidak apa, Tuan. Terima kasih untuk usaha yang sudah Tuan lakukan. Insya Allah, saya bisa lebih kuat."
Itu bukan kata penenang, bahkan membuat Yusha semakin dihimpit rasa bersalah. Disaat rasa sakit dan hinaan bertubi-tubi terlontar, selalu saja perempuan itu menutupi dengan kalimat klise 'Saya tidak apa. Saya baik-baik saja.' Bukankah perempuan itu hebat, mampu menutupi kepedihan dengan sebuah kalimat dan senyuman.
"Harusnya tidak mengatakan ucapan terima kasih, ucapkan saja makian untukku yang telah membawamu dalam keadaan seperti ini."
"Jangan lupakan keadaan kita untuk saling tolong menolong. Terlepas apapun, Anda pernah menolong keluarga saya, dan ucapan terima kasih saya untuk itu." Perempuan itu terlihat menegar meski didalamnya rapuh.
"Semoga setelah ini kamu bisa menemukan jalanmu."
"Aamiin."
Yusha terdiam sejenak, menunduk dan mengatur napas untuk lebih tenang. Dengan perlahan ia mulai mengucap.
"Niara Livia Putri, saat ini, detik ini aku haramkan kamu atas tubuhku. Dan mulai saat ini hubungan kita berakhir. Dalam arti, kamu bukan lagi istriku. Kuucap talak untukmu."
Deg ... Deg ...
Jantung berdetak lebih kencang, menyakiti rongga dada. Napas kian mencekat, terasa sesak. Perempuan itu telah menegarkan hati. Tapi, ketika kata talak itu terdengar hati yang rapuh semakin hancur tiada sisa. Terasa dihujani ribuan jarum hingga hatinya tak berbentuk. Darah tak kering, semakin deras bagai aliran sungai, membanjiri lantai hingga merambah semata kaki. Andai mereka tahu, sayangnya semua tak kasat mata.
Tubuh Niar lemas serasa tak bertulang. Mulai saat ini ia bukanlah istri kedua dari lelaki bernama Yushaka Demitri Mahendra. Mulai saat ini juga mereka berdua adalah orang asing. Ia harus siap berteman sepi, kembali hidup sendiri tanpa punya sandaran bahu untuk berbagi. 'Kejam, takdir sangat kejam. Tuhan, kuatkan hatiku untuk berteman lagi dengan laraku.'