Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 93


"Ma, tadi di sekolah, Bu Ani nanyain nama lengkap papa," cerita Ara.


Niar yang tadinya sedang menulis daftar belanjaan buat besok harus terhenti. Perempuan itu menatap puterinya yang sedang mewarnai gambarnya.


Umur Yuara memang baru empat tahun empat bulan, tetapi karena kecerdasannya memenuhi standar rata-rata membuat Niar memasukan puterinya ke PAUD (pendidikan anak usia dini).


"Lalu, Yua sebutin nama lengkap Papa Sakky. Tapi Yua kesal, Ma."


"Kesal kenapa, Sayang?" respon Niar.


"Soalnya Bu Ani sebutin nama lain, katanya papa kandung Yua namanya Yusha Demitri. Harusnya bukan itu! Papa Yua kan Papa Sakky."


Deg ....


Niar terdiam, memang, sewaktu mendaftar ke sekolah PAUD Niar mencantumkan nama Yusha sebagai ayah Yuara karena begitu kenyataanya. Tetapi sampai saat ini gadis kecilnya belum mengetahui cerita yang sebenarnya, yang Yua tahu Sakky lah ayahnya.


"Memang Yusha itu siapa, Ma?" Pertanyaan Yua mengalihkan pikiran Niar. Ibu satu anak itu beranjak mendekati sang Puteri Kecil. Yuara masih kecil, belum bisa memahami kebenarannya.


"Sayang, udah selesai belum? Ayo kita tidur!" ajak Niar yang ingin mengalihkan pertanyaan puterinya.


Tetapi sia-sia, Yuara terlalu cerdas. Gadis kecil yang mengenakan baju tidur My Little Pony akan terus bertanya sebelum mendapat jawaban yang memuaskan.


"Mama belum jawab. Yusha itu siapa, Ma?"


"Em ... besok kapan-kapan Mama ceritain, ya. Sekarang Ara bobok, udah malem. Besok telat pergi ke sekolahnya," bujuk Niar.


"Oke deh, Mama Cantik." Yuara menjawab dengan gaya kemayu, membuat senyum Niar segera terbit.


"Genit, ih," sahut Niar.


"Yang ajarin tuh Papa Sakky, Ma."


"Oh, ya? Besok Mama tanyain sama Papa Sakky, bener, gak ngajarin genit gitu."


Yuara cengengesan. Niar mencubit gemas pipi Yuara yang menggembung karena berat badannya gemuk.


"Ma, ceritain dongeng Puteri Salju, ya," pinta Yuara.


"Siap, Sayang."


Kesedihan yang dialami Niara Livia Putri berangsur luruh sejak kehadiran Yuara Sora Demitri yang mencerahkan hari-harinya.


Juga dengan Mbok Jamu dan Sakky yang selalu ada menemani dalam keadaan apapun.



"Pagi, Inceesnya Papa Sakky ... hari ini pacar Papa cantik banget, siapa nih yang kepangin rambutnya?"


"Mama Cantik dong yang dandanin Yua seperti Inces. Hihi ...." Gadis kecil itu tertawa cekikikan dengan menutup mulutnya.


"Ough, mamanya cantik, anaknya pasti oke, lah, ya ...," seloroh Sakky ikut tertawa.


"Mas," Niar melirik pada pria yang sudah berkepala tiga namun tetap terlihat tampan.


"Oke-oke ...."


Niar selesai mengemas bekal makanan yang akan dibawa puterinya. Ia lalu mendekati keduanya untuk ikut makan bersama.


"Si Mbok udah berangkat ke pasar, Mas?" tanya Niar dengan tangannya sibuk mengambilkan sarapan untuk keduanya.


"Iya, pagi-pagi udah guprek suruh nganterin ke pasar, padahal masih ngantuk." Sakky menerima piring yang disodorkan padanya. Ia segera mengambil sendok di tempatnya karena Niar lupa untuk mengambilkan. Pagi ini sarapan dengan menu sederhana: nasi goreng pedas kecap, telor mata sapi, ikan lele (sisa kemarin yang dipanaskan) dan tumis tahu daging suwir.


"Pacarku nanti pulang jam berapa?" tanya Sakky.


"Agak siang deh, Mas, soalnya ada kegiatan tambahan. Kenapa? Mas sibuk? Kalau sibuk udah gak usah dijemput, biar nanti naik angkot aja," balas Niar.


"Gimana ya? Aku gak tega kalau kalian naik angkot, takut ada bahaya. Lagi marak kejahatan. Kemarin ada ibu-ibu kecopetan pas naik angkot, kadang ada jambret dan kejahatan yang lainnya ... ngeri deh," ujar Sakky. "Walau udah lama tinggal di sini tapi kamu gak pernah pergi sendirian untuk pergi ke tempat keramaian, nanti kalau ada apa-apa gimana? Mana pagi-pagi tadi bos nelpon, hari ini ada kiriman barang ke luar kota, sepertinya aku harus pulang sampai malam,' ujar Sakky menatap Niar.


"Ya udah gak apa, loh, Mas. Walau Niar jarang keluar sendirian, tapi untuk ke sekolah Ara udah hapal jalannya dan suasananya. Mas gak usah khawatir," balas Niar menenangkan Sakky.


Selama ini setiap hari Sakky lah yang menjadi supir pribadi mereka. Mengantar dan menjemput Yuara di sekolah. Hari-hari Niar sibuk mengawasi tiga toko yang lumayan besar yang digunakan untuk kebutuhan hidup juga membiayai kehidupan Pak Bejo dan Sumiati.


Niar juga membelikan kursi roda supaya memudahkan ibunya untuk bergerak kemana-mana. Walau Niar telah sukses, ia tak pernah berhenti berbakti pada kedua orang tuanya. Hubungannya bersama Sumiati telah membaik, hampir setiap hari mereka berkomunikasi lewat telepon. Begitupun dengan Ara, meski jauh tetapi telah mengenal Pak Bejo dan Sumiati sebagai kakek dan neneknya.


"Kamu yakin? Sekolah Ara lebih jauh dari pasar gede yang tiap hari kamu datengin."


"Ya ampun Mas, Niar udah hapal jalannya. Tenang aja deh, orang udah empat bulan juga lewatin jalan itu terus, aku pasti hapal, Mas tenang aja."


"Oke, hati-hati ya, kalo ada apa-apa telpon aja."


"Siap."


"Yah ... Papa Sakky pergi, ya? Nanti gak bisa kejar-kejaran di pantai." Gadis kecil telah mengerucutkan bibirnya.


"Eih, jelek gitu kalo manyun. Kerjaan Papa Sakky sedang sibuk. Besok Papa temenin bikin rumah istana pasir, gimana? Hari ini mainan sama Mama Cantik dulu, ya."


"Ish ... Mama Cantik tuh kalau diajak mainan gak mau." Bola mata kecil Yua melirik mamanya.


"Khusus hari ini Mama temenin Incees mainan. Janji," sahut Niar.


"Janji, ya. Kalau bohong, Mama dosa, ntar dimasukin ke api neraka," cerocos Yuara.


"Iya Sayang. Ih, pinter banget deh, anak mama. Cepet dihabisin makannya, terus kita berangkat."


Tiga toko Niar telah dipercayakan pada 3 karyawan yang telah mendapat kepercayaan dari Niar. Setelah mengantar anaknya ke sekolah, barulah ia menyusul ke toko.


Sarapan bersama telah usai, Niar, Sakky dan Yuara bergegas menuju halaman depan.


"Mas, hati-hati. Gak usah kebut-kebutan kalau bawa mobil. Utamakan keselamatan," pesan Niar.


"Iya-iya ... sampek hapal tiap pagi di bekali pesan ginian terus."


"Biasanya Mas suka kebut-kebutan."


"Biar cepet sampek, terus pulang."


"Papa, nanti pulangnya bawain oleh-oleh, ya," sahut Yuara.


"Mau dibawain oleh-oleh apa, Pacar Papa?"


"Eum ... boneka barbie yang pakek gaun pesta juga rambutnya yang hitam seperti punya Yua."


"Siap Incees. Nanti Papa bawain sesuai keinginan Tuan Puteri."


"Mas, gak usah! Jangan manjain Ara berlebihan!" Niar tidak setuju.


"Gak apa Niar. Kali ini biar aku beliin mainan kesukaannya."


"Kali ini? Ribuan kali, Mas!" sahut Niar.


Sakky justru tersenyum lebar.


Yuara memang sangat dekat dengan Sakky karena yang diketahui Sakky lah ayahnya. Begitu juga dengan Sakky yang selalu memanjakan Yuara.


.


.


.


.


.


Maaf ya kemarin gak up. Akak mei sibuk di dunia nyata. Mulai hari ini udah fokus lagi ngurusin lapak di sini, nanti akak mei up lagi biar cepet kelar. 🤭


Jujur ya, akak mei juga sedih pas mau end gini, kayak gak rela gituh.


Tapi setelah ini nanti ganti ke Gibran sama Sadewa ya. Biar gak di sini terus.


Setelah ini nanti kita saksikan pertemuan ... entah pertemuan siapa dulu, Niar dan Yusha atau Yuara dengan ayahnya. Pokonya salah satu dari mereka akan bertemu hari ini🤭