
Beberapa kali harus tersungkur, hingga ia dapat terbangun. Beberapa kali ia tak berdaya, hingga ia dapat tersenyum lebar.
Lara tak putus menghampiri, namun ia masih mampu berpijak untuk melawan nestapa.
Betapa jalan terasa sulit hanya untuk menemui secuil kebahagiaan. Namun, kegigihan tak luntur begitu saja hingga ia menemukan titik jalan terang.
Walau pada awal harus tertatih hanya untuk merangkak, mengejar asa yang berserak, kini ia bisa merasakan arti perjuangan. Ia bisa membanggakan apa yang didapat dengan cucuran keringat, darah dan nanah.
Kini adakah yang mencacinya bodoh? Adakah yang menghinanya tak berguna seperti sampah? Masihkah ia di sebut perempuan gila harta? Nyatanya ia bisa meraih semuanya dengan hasil usaha sendiri, bukan dari mengemis pada sesama.
Pagi, siang, sore tak kenal lelah, ia terus berjuang demi asa masa depan. Ia ingin mensejahterakan calon anaknya agar tak dipandang hina seperti ibunya. Jalan terjal yang dilalui penuh cucuran air mata menjadi pelajaran supaya sang buah hati tak pernah merasakan apa yang dirasakan.
•
"Mas, makasih ya. Berkat bantuan Mas dan si Mbok, saya bisa seperti sekarang."
"Gak perlu bilang makasih, kami gak bantu apa-apa, semua mutlak usaha kamu sendiri, Niar."
"Sebelumnya angan saya gak pernah berpikir sejauh ini. Syukur alhamdulillah, rezekinya bisa selancar ini."
"Mungkin anak dalam kandunganmu ikut berdoa supaya Tuhan memberi rezeki melimpah untuk ibunya."
Perempuan yang memancarkan keteduhan tersenyum ke arah Sakky. Pemuda baik hati yang tak pernah meminta imbalan atas kebaikannya. Bahkan untuk urusan hati, pemuda itu sangat pintar menyikapi. Tidak membaurkan dengan keseharian yang dilakoni bersama.
Sakky tak pernah memaksakan kehendak, ia mengerti jika Niar pernah terluka begitu parah dengan hatinya, mungkin cukup sulit untuk menyembuhkan dan mengembalikan hati agar utuh seperti semula. Untuk itu Sakky tak pernah menuntut Niar untuk menerimanya.
"Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk mengandung dan menjaganya. Mudah-mudahan saya mampu berjihat untuk memberi dia kehidupan baru. Dia harus lahir selamat agar setiap sore bisa melihat senja menghilang," kelakar Niar.
"Senja menghilang terus yang kamu pikirin," balas Sakky.
"Mas," panggil Niar.
Pemuda yang mengenakan kaus putih polos dengan kerah pendek itu menoleh.
"Masih ada satu yang belum saya tunaikan. Saya ingin membayar hutang pada Tuan Yusha," ujar Niar lirih.
Terlihat Sakky menelan ludah. "Yusha mantan suamimu?"
"Hem ... apa Mas keberatan kalau saya minta tolong sama Mas?" Niar menurunkan pandangan, meniti bulir-bulir pasir halus yang ia pijak.
"Minta tolong gimana?" tanya Sakky.
"Mas ada waktu gak, buat nganterin saya ke Jakarta?" Sebenarnya tak enak hati terus-terusan merepotkan pemuda yang duduk di sampingnya. Tetapi tak ada pilihan, dalam kondisi perut membesar ia tak berani untuk pergi sendirian. Banyak resiko yang bisa saja terjadi.
"Oh itu, bisa aja. Kapan kamu mau ke Jakarta?" Dengan mudahnya pemuda itu menyanggupi. Sakky memang baik, ia selalu ada dan selalu siap sedia membantu kesulitan Niar.
"Secepatnya. Kalau bisa Minggu ini kita ke Jakarta."
"Baiklah Sang Ratu, prajuritmu ini akan siap mengantarkan Sang Ratu pergi kemanapun," kelakar Sakky tertawa lebar.
"Oh, tentu ada. Imbalannya cukup lihat Sang Ratu tersenyum tiap hari, biar awan di langit tidak mendung lagi."
"Ya ampun, Mas, ada-ada aja."
"Eh, lucu ya, tiap bulan perut kamu tambah gede, belum lagi cara jalanmu kayak pinguin gitu." Sakky kembali terbahak.
"Gitu banget ya, Mas? Tapi emang susah mau jalan. Baju-baju juga pada gak muat," ucap Niar manyun.
"Masih lama, ya?" tanya Sakky. Bulan lalu pemuda itu tidak ikut masuk, ia hanya mengantar di depan ruangan saja.
"Sekitar satu bulan lagi. Kalau inget itu saya deg-degan, Mas, takut."
Sakky mengangguk. Ia paham jika Niar khawatir dengan bayangan melahirkan. Sekian banyak rumor yang sering terdengar, ibu melahirkan memang merasakan sakit luar biasa, seperti dua puluh tulang patah secara bersamaan.
Membayangkan hal itu saja membuat merinding dan sangat menakutkan, apalagi Niar yang akan menghadapi persalinan. Jelas dihinggapi rasa takut dan khawatir. Walau ia tahu rumor itu, tak lantas ia menceritakannya pada Niar, yang akan membuat semangat Niar mengendor. Seperti pesan dokter, orang terdekat harus memberi dukungan dan kata penyemangat untuk calon ibu.
"Jangan terlalu berpikir yang jauh, yakin kalau kamu dan bayimu pasti selamat. Itu jihat seorang ibu, Allah akan memberi kekuatan saat kamu akan melahirkan. Lihatlah banyaknya ibu yang sukses melahirkan, mereka gak kenal kata kapok 'menyerah' selang berapa tahun bakal punya anak lagi. Menunjukan bahwa melahirkan itu tak semua berujung buruk, justru ada kebahagiaan saat berhasil melahirkan satu nyawa."
Manik Niar memindai bingkai wajah Sakky, pemuda itu banyak mengerti dan berpikir dewasa. Alangkah beruntung perempuan yang bisa bertakdir dengan pemuda itu.
Walau Sakky pernah mengungkapan perasaannya, tetapi Niar tak lantas menerima. Ia sangat tak pantas bersanding dengan pemuda sebaik Sakky. Selain itu, walau luka dan nestapa berasal dari satu orang pria, tak membuat Niar membenci satu pria itu. Bahkan perasaanya tak sedikitpun menguap, justru tetap singgah menempati ruang hatinya.
Yushaka Demitri Mahendra. Ya ... satu nama itu yang tak pernah memudar hingga saat ini. Bertahta kuat menempati ruang terdalam.
Ia tak mengerti kenapa Tuhan tidak menghapus nama itu. Padahal semua sumber lara dan kerinduan tercipta oleh pria yang telah berbulan-bulan tak dijumpainya. Pria yang menggores kepiluan sebab cintanya tak pernah terbalas. Pria yang sampai saat ini tak pernah ada kabar untuk mencarinya.
Bodoh! Ia mengolok dirinya sendiri. Harusnya hati itu merelakan Yusha yang telah berbahagia dengan Sheli. Kenapa ia justru menyiksa batin dengan membohongi diri jika suatu saat ia bisa menggenggam cintanya. Padahal itu mustahil!
Semua itu karena peran Yusha terlalu kuat menancapakan kenangan yang sukar terlupakan. Hingga sampai saat ini ia terperih dengan harapan yang tak pernah terwujud.
"Senja udah mulai pergi, ayo kita pulang," ajak Sakky.
Niar yang terdiam dalam lamunannya kini tersadar. "Hah? Senja sudah pergi?"
"Kamu ngelamun terus, sampek aku ngomong panjang lebar gak kamu tanggapi," keluh Sakky.
"Oh, ya ampun, maaf, Mas. Maaf banget," ucap Niar merasa bersalah.
"Udah, ayo pulang. Kalau kemalaman nanti si Mbok marah-marah." Sakky berdiri, yang juga diikuti Niar.
Pintu toko sudah terkunci, mereka berdua mulai berjalan pulang.
Perut yang membuncit membuat Niar berjalan pelan, Sakky tetap menemani di sampingnya.
Jika orang yang tak mengenal mereka, sudah pasti anggapan mereka Sakky dan Niar adalah sepasang calon ayah dan ibu.