Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 88


"Pa, tenang, Pa ...," ucap Vivian mengelus lengan suaminya.


"Bagaimana Papa tenang lihat perempuan perusak rumah tangga anak kita datang lagi ke sini?!" Rahang Mahendra mengeras terselimuti kemarahan luar biasa. Tatapan matanya mengintimidasi Niar.


Di tempatnya berdiri darah Sakky ikut mendidih menyaksikan dan mendengar perkataan pria paruh baya yang menuding Niar dengan lontaran kata tidak pantas. Ia memang tidak tahu jalan cerita Niar dengan keluarga Yusha seperti apa, tetapi menurutnya Mahendra sangat keterlaluan. Di sini Niar yang menjadi korban, lalu tanpa pemikiran mereka justru menyalahkan Niar.


Rintikan air mata deras membanjiri pipi Niar, perempuan itu menggigit ujung bibir untuk mengalihkan rasa sakit yang menghujam ulu. Namun, sesak yang dirasa tak menyurut, tetap saja tudingan Mahendra meluluhlantakkan hatinya.


"Maaf Om, saya ke sini tidak ada niat buruk. Kedatangan saya hanya ingin menunaikan perkataan saya untuk membayar hutang." Dengan gemetaran Niar membuka tas kecil miliknya dan mengeluarkan uang tunai yang ia siapkan sebelumnya. "Saya tidak punya nomor ATM Tuan Yusha atau Nona Sheli, makanya saya terpaksa datang ke sini," terang Niar menahan isak tangis.


Vivian juga tak henti mengeluarkan air mata, ia yang tahu kebenarannya tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Waktu itu Yusha memberi pesan agar tak menceritakan semuanya pada Mahendra. Kini hanya bisa membungkam mulut meski tahu keadaanya.


Yusha, dia pulang Nak. Pulanglah, kamu sangat menantikan kedatangan Niar. Dia sudah datang, tapi Mama gak bisa bela dia! batin Vivian menjerit.


Melihat lembaran uang di tangan Niar membuat Mahendra dan Sheli cukup terkejut. Bagaimana perempuan itu bisa mendapatkan uang sebanyak itu, sedangkan mereka tahu bagaimana keadaan Niar yang tadinya hidup serba kesulitan.


Sheli maju satu langkah menjajari papa mertuanya. "Alesan aja! Aku yakin kedatanganmu bukan hanya untuk itu saja! Kamu ingin melihat Yusha dan menggodanya lagi, iya kan?! " tuding Sheli dengan tatapan nyalang dan terlihat sangat marah.


"Jaga mulut Mbak!!!" sentak Sakky yang sudah geram dengan tudingan mereka yang sama sekali tidak mendasar. Sudah dijelaskan Niar datang untuk tujuan apa, mereka tetap menghakimi dengan demikian. Hampir saja kemarahan Sakky tidak tertahan.


"Mas," ucap Niar menenangkan Sakky.


"Liat Ma, Pa, pantas kita sebut dia jala ng. Berapa bulan dia angkat kaki dari rumah ini dan sekarang datang lagi sudah dalam keadaan hamil? Kalau bukan jual diri, apa namanya? Aku yakin uang itu uang haram. Aku gak akan terima uang haram darimu!"


Sheli menyahut lembaran uang yang ada ditangan Niar dan menghamburkannya di depan wajah Niar. Seketika lembaran uang berwarna merah itu berserak memenuhi lantai.


Dada Niar bergemuruh, uang yang ia kumpulkan dengan cucuran darah dan keringat tak ada artinya bagi mereka. Bahkan sakit sekali mendengar Sheli mengatakan itu adalah uang haram. Kenyataanya, sampai saat ini usia kandungannya telah memasuki usia 8 bulan, tetapi ia lebih mementingkan untuk membayar hutang daripada belanja kebutuhan calon anaknya. Begitu dengan teganya mereka lagi-lagi merendahkannya.


Selalu, apapun yang dilakukan tetaplah salah! Tetaplah tak ada artinya. Kini pikirannya tertuju pada perasaanya terhadap Yusha, makin jauh halang melintang di antara mereka. Makin jauh harapan yang selalu ia tunggu. Kini menjadi abstrak tak dapat dibayangkan lagi.


Ketegangan mereka terusik dengan suara klakson yang berasal dari mobil Yusha. Pria itu turun dari mobil dan mengambil langkah cepat.


Jantung Niar hampir tak terkontrol mengetahui kedatangan sosok pria yang menjadi sumber segalanya.


"Jangan melampaui batasanmu, Sheliana Rebbeca!!!" Datang-datang pria itu membentak Sheli. "Aku bisa bongkar semuanya!!!" Yusha sangat murka.


"Yusha!!!" pekik Sheli.


"Kamu perempuan licik! Menyalahkan orang lain atas masalah yang kamu ciptakan sendiri karna keegoisanmu!"


"Yusha, stop!!!"


"Niar," panggil Yusha lirih. Pandangan Yusha sudah beralih sendu ketika bertatapan dengan perempuan yang selalu menghadiri malam-malamnya. Perempuan yang sangat ingin ia temukan, dan sekarang perempuan itu sendiri yang datang ke rumahnya. Namun sayang keadaanya sudah kacau.


"Yushaka!" panggil Mahendra dengan tegas. "Jangan terpancing dengan kedatangan wanita murahan itu!"


"Pa, yang murahan itu menantu papa, bukan Niar!"


"Jangan buta, liat saja berapa bulan dia pergi dari sini tapi sudah hamil dengan pria lain. Apa seperti itu bukan wanita murahan!"


Yusha baru sadar dengan penampilan Niar dengan perut yang buncit. Kini pandangannya lekat ke perut Niar yang tertutupi jilbab panjang namun masih bisa dilihat dengan jelas. Tubuh Yusha seketika mendadak melemas, hampir saja meluruh. Sangat jauh dari angan-angannya. Secepat inikah perempuan yang sangat ia nantikan telah berpaling hati.


"Dia memang wanita murahan gak pantas kamu bela!!!"


"Aaakhhh ... !!!!" Niar berteriak saat tubuhnya tiba-tiba didorong oleh Sheli. Ia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh, beruntung Sakky sigap menyangga tubuh Niar. Bahkan gerakan Yusha kalah cepat dengan Sakky.


Niar erat memegangi perutnya karena reflek ingin melindungi calon anaknya.


"Hah ... benar-benar keluarga minim perikemanusiaan! Anda-Anda ... orang kaya dengan pendidikan tinggi, tapi gak punya attitude untuk menghargai kaum miskin seperti kami! Sungguh mencengangkan mendengar tudingan kalian terhadap Niar, padahal tuduhan kalian sama sekali tidak benar. Dia mengumpulkan uang sebanyak itu tanpa mengenal lelah, dia rela mengesampingkan keinginannya demi bisa melunasi hutangnya pada kalian! Dan sampai di sini kalian tidak ada yang menghargai usahanya." Sakky tak bisa lagi untuk bungkam. Ketika Sheli mendorong Niar, pemuda itu hampir saja tak terkontrol.


"Apa kalian tidak malu dengan jabatan kalian masing-masing yang harusnya lebih mengerti bagaimana menghargai orang lain," imbuh Sakky.


Pemuda itu beralih melihat Niar.


"Niar, ayo kita pergi. Tidak perlu menjelaskan kebenaran apapun! Semua percuma, mereka tidak punya hati!"


"Untuk Anda, Tuan Yusha, suatu saat nanti silahkan nikmati penyesalan Anda. Waktu yang diberikan telah Anda sia-siakan. Semua gak akan terulang!!!" Sakky mengacungkan jari telunjuk di depan muka Yusha.


Sakky memegang pundak Niar untuk diajaknya pergi. Kaki Niar lemas seolah tidak mau beranjak. "Mas Sakky."


"Gak perlu mikirin mereka! Biarkan mata hati mereka dibuka oleh Tuhan. Setelah itu biarkan mereka menikmati penyesalan telah menyakiti hatimu. Tuhan tidak akan diam melihat ketidakadilan terus menimpamu. Mereka akan merasakan KARMA!!!"


"Niar jangan pergi, Niar!" teriak Vivian. Tetapi tangan Mahendra mencegah.


Yusha mengejar langkah Niar dan Sakky.


"Niar ...!"


"Tuan ...." Niar menoleh dengan lelehan air mata.


Ingin sekali ia menghambur ke pelukan pria itu. Ingin sekali ia mengatakan gundah gulana yang dialami selama berbulan-bulan setelah perpisahan mereka.


.


.


.


.


.


Akak mei mohon maaf jika alurnya lambat. Jika saya percepat, 10 bab lagi akan tamat. Jadi tolong nikmatin dulu ya, gak akan lama kok. 🙏 akak mei juga jengah kalau cuma gini-gini aja, pengen cepet ending biar bisa istirahat atau garap 1 cerita aja. Saya gak mau kesannya gantung, jadi sedikit saya buat detail. Tapi justru seperti diperlambat ya. Nanti coba deh akak mei ringkas biar cepet end ya🙏


makasih semuanya masih setia bersama Niar.