Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 73


Tak pernah meminta luka untuk menghampiri, bahkan setiap sujud selalu meminta kedamaian. Namun, seakan Tuhan tak henti mengajaknya berbicara lewat runtutan takdir-takdir pilu yang telah digariskan.


Tentang pertanyaan ...


Jika ia bukan separuh jiwanya, kenapa kepribadian yang dimiliki mampu menawan hatinya?


Jika ia bukan penyempurna hidupnya, kenapa namanya selalu ditemukan disepanjang ingatannya?


Jika tak ada takdir bersama. Kenapa selalu dipertemukan, meski tanpa kesengajaan?


Niar mencari jawaban untuk itu, namun Tuhan belum bersedia menjawab. Ia dibiarkan terjaring pada pertanyaan-pertanyaan yang diciptakan sendiri.



Setelah menceritakan semuanya pada Mbok Jamu, hati Niar tak lekas membaik. Terbukti perempuan itu masih mengemban resah.


Walau Mbok Jamu telah memberi banyak masukan, namun ia perlu menimang agar tak salah melangkah.


Diputuskan, jika hari ini terakhir bertemu dengan pria itu--dalam artian Yusha hanya datang hari ini saja--maka ia tak perlu mencari dan mengungkap semuanya. Tetapi, jika ia dipertemukan kembali, mungkin Tuhan mengizinkannya untuk berterus terang.


Niar termenung di ruang tamu, rumah Mbok Jamu. Beberapa saat lalu, perempuan paruh baya itu meminta izin untuk pergi sebentar, lalu meninggalkannya sendirian.


Memikirkan semua yang terjadi membuat perempuan berwajah muram itu makin didera pilu.


Rindu yang hampir berlalu, kembali hadir mengoyak-ngoyak tanpa celah. Membuat hatinya berserak luka.


Menyesal. Lebih baik ia tak melihat pria itu datang, bila akhirnya harus menanggung kesakitan.


Tuhan tak membiarkannya istirahat, ia dipaksa mengeyam runtutan luka. Derita yang dipikul terus membebani pundaknya.


Ceklek ....


Pintu ruang samping terdengar dibuka, Niar tak beralih meski mendengar suaranya.


"Nduk ...! Nduk ...!" Mbok Jamu memanggil dengan berjalan cepat menghampiri Niar. "MasyaAllah, pria itu suamimu, Nduk?"


Barulah Niar beralih menatap Mbok Jamu yang baru saja duduk di sampingnya. "Mbok kembali ke sana?"


Ibu paruh baya itu mengangguk. "Maaf ya, abis si Mbok penasaran sama suamimu," ucapnya tak enak hati.


Niar mengalihkan pandangan, terdengar embusan napas panjang. Lalu, wajahnya menunduk. "Dia bukan lagi suamiku, Mbok. Dia hanya ayah dari bayi yang ku kandung."


Mbok Jamu berkedip pelan, ia tahu bagaimana perasaan Niar, sudah pasti sedih dan sakit. Tangan kanan mengelus pundak perempuan sendu itu. "Yang sabar, ya, Nduk. Kamu pasti kuat. Kamu pasti bisa menghadapi masalah ini. Seperti yang sudah Mbok katakan, dia (Mbok Jamu menunjuk ke arah perut Niar) berhak diketahui keberadaanya oleh ayahnya. Mbok tau kamu bisa memperjuangkan calon anakmu, tapi pikirkan juga kebutuhannya. Ia akan sedih jika hanya ditemani sang ibu, dia juga butuh sosok ayah. Jangan egois dengan mementingkan kedamaian sendiri, karna kedamaian calon anakmu juga tanggung jawab kalian. Calon anakmu memang belum bisa berbicara, tapi dia sudah pandai merasakan. Dia pun punya ikatan batin dengan kedua orang tuanya, jangan pisahkan dia dengan elusan ayahnya. Walau kalian tak bisa bersatu, tapi mantan suamimu punya kewajiban mengurus si jabang bayi. Pikirkan itu. Cuma di sini Mbok gak memaksa, pilihan dan keputusan ada padamu. Nasehat Mbok di dengar ya, alhamdulillah. Gak, ya, gak apa." Panjang lebar Mbok Jamu memberi gambaran, namun ia tak memaksa kesanggupan Niar. Membiarkan Niar menentukan pilihannya.


Niar memandang Mbok Jamu dengan pandangan berkaca-kaca. "Makasih ya, Mbok. Mbok sangat baik. Insyaallah, Niar sudah memutuskan. Jika besok atau lusa kami masih memiliki takdir bertemu, Niar akan menyiapkan diri untuk menemuinya dan memberitahu tentang anak ini. Tapi, jika hanya hari ini saja Niar melihat dia, berati Tuhan belum memberi ijin untuk memberitahukan semuanya," jawab Niar.


Niar beralih memeluk Mbok Jamu. Dengan senang hati ibu paruh baya itu menyambut pelukan Niar. Mengusap punggung Niar untuk memberi ketenangan. "Mbok selalu doakan yang terbaik, Nduk. Percaya, Allah tak pernah salah memberi takdir pada hambanya."


"Weh ... kok ada acara peluk-pelukan kek teletabis. Sakky juga mau gabung, dong," ucap Sakky yang muncul dari pintu depan.


Mbok Jamu dan Niar sampai tidak mendengar suara mesin motor Sakky karena terlalu serius berbincang.


"Ck ... Mbok jahat banget nyuruh putra semata wayangmu ini meluk tiang listrik. Keras tau, Mbok!"


"Keras-keras! Emang kamu pernah?"


"Ya enggaklah. Gila aja Sakky peluk tiang listrik, di kira gendeng 'gila' aku nanti."


Niar diam saja dengan gerakan tangan tak henti menyapu sudut mata dan pipi untuk membersihkan air mata.


"Loh, Niar kenapa nangis, Mbok?" tanya Sakky yang menyadari raut Niar.


"Genduk nangis gara-gara ayah dari calon anaknya datang ke sini."


"Loh, pria kurang ajar itu tau dari mana kalau Niar ada di sini?"


"Hust ... ngawur 'asal-asalan'. Sini duduk, biar Mbok ceritain."


Sakky segera mendekat dan duduk di kursi berseberangan. Mbok Jamu menceritakan semuanya, tentang kedatangan Yusha yang ternyata orang kota dan pria itulah yang akan membuka tempat pariwisata. Tentu saja membuat Sakky terkejut. Pria yang baru pulang dari tempat kerjanya beralih meniti wajah Niar. Mencari kebenaran tentang cerita ibunya. Namun Niar enggan menjawab. Bibir pucat itu terkatup rapat.



Usai acara memberi sepatah, dua patah kata pujian untuk Pantai Ujung Kulon, Yusha beranjak pergi dari bawah tenda.


Pria mengenakan kemeja putih tanpa jasnya itu tengah menikmati pemandangan pantai tanpa riuhnya keramaian orang-orang. Empat orang


anak buah mengawal Yusha dari jarak lima meter.


Yusha berdiri di bibir pantai dengan pandangan menerawang jauh tanpa ujung. Sejak menginjakkan kaki di tempat ini, entah mengapa ada desiran yang berbeda. Merasakan kehadirannya namun tak bisa menemukan sosoknya. 'Di mana, kamu, Niar? Aku ingin bertemu dan memastikan keadaanmu baik-baik saja. Walau terpikir itu mustahil, karna aku harus menemukanmu di kota seluas ini. Tapi aku punya harapan, aku punya doa yang semoga di dengar oleh-Nya.'


Dalam pandangan yang menerawang, ingatannya kembali pada beberapa waktu silam. Di mana ia pernah mengajak Niar untuk pergi ke pantai. Yusha pun sangat ingat, jika perempuan yang kini tak tahu di mana itu sangat menyukai pantai. Andai ia dan perempuan itu masih bertakdir, ia tentu mengajak Niar untuk datang ke pantai ini dan menikmati keindahan pantai berdua. Sungguh sayang, ia hanya bisa berandai. Karena semua tak sesuai andaian nya.


Harusnya semua tak berlalu secepat membalikkan telapak tangan. Agar kenangan yang terukir memiliki banyak ruang.


"Vin, suruh orang-orang kita untuk menyisir kota ini. Aku ingin kalian segera menemukan keberadaan Niar!" perintahnya pada Kelvin yang berdiri di belakangnya dengan jarak 2 meter.


.


.


.


.


.


Lanjut gak nih? Ketemu gak ya? Kalau mata masih oke untuk diajak begadang, insyaallah akak mei kasih up satu lagi.


Tapi kalau khilaf dan ketiduran, ya, mohon maap. 🤭


Setelah ini mau up Gibran dulu, ya.🙏