
Deg ....
Yusha Demitri? Bukankah itu persis dengan namanya. Pria dengan ciri khas rambut gondrong itu dibuat penasaran dengan sosok gadis kecil yang hampir mirip dengannya.
"Nama kamu siapa?" Kini ganti Yusha yang bertanya.
"Nama aku Yuara Sora Demitri. Kata Mama, aku punya dua papa. Satu Papa Sakky dan satu lagi Papa Yusha Demitri. Tapi Papa Yusha kerja ditempat jauh dan belum pernah datang nemuin Yua sama Mama Cantik. Nama Om mirip sama Papa Yusha, Om pasti Papa aku, kan?"
"Tuan Yusha," panggil Kelvin yang telah kembali berdiri di belakang Yusha.
Yusha melihat ke arah Kelvin dan memberi kode agar sekretarisnya diam. Setelah itu Yusha beralih lagi pada gadis kecil yang bercerita aneh, menurutnya.
"Memang nama mama kamu siapa?" tanya Yusha.
"Yua manggilnya Mama Cantik," jawab Yuara.
"Mama Cantik?" bingung Yusha.
"Iya. Papa Sakky yang ajarin Yua buat manggil Mama Cantik. Tapi sekarang Mama Cantik sedang sakit, dijagain terus sama Papa Sakky. Semua gara-gara Om Jahat yang nyakitin Mama."
Yusha menggaruk pinggiran pelipis, tidak mengerti dengan cerita Yuara. Namun anehnya ia sangat betah mendengar celotehan gadis kecil berbadan gemuk didepannya. Wajahnya sangat cantik dan menggemaskan.
"Ayo, Pa. Kita temuin Mama Cantik, Papa harus sembuhin Mama Cantik biar bisa ketawa lagi!" ajak Yuara yang langsung memegang tangan Yusha dan menariknya.
"Eh ... tunggu!!!" ucap Yusha ingin mencegah, tapi mau tak mau melangkah mengikuti karena Yuara terus menarik tangannya.
Hanya berjarak berapa meter, Yuara berhasil membawa Yusha dihadapan Sakky dan Niar.
"Ma ... Papa Yusha udah datang," ucap Yuara berhasil mengejutkan Sakky.
Deg ....
Kali ini jantung Yusha hampir terhenti, tubuh membatu dengan tatapan tertuju pada satu objek yang membuat nyawanya hampir melayang.
Berapa kali bermimpi ingin bertemu dengan pemilik rindu, tetapi bukan dalam keadaan demikian.
Apa ini hukuman?
Ia seperti mendapat hukuman, dari suatu kesalahan yang telah disadari. Dulu, ada perasaan yang membara namun dipadamkan seketika. Ada impian yang tinggi namun ia jatuhkan secara sengaja. Ada harapan dan keinginan yang menggebu namun ia sapu seperti debu.
Ada cinta yang merekah namun ia balas dengan dusta. Ada kasih sayang yang tulus tercipta namun disia-siakan tanpa perasa.
Tentang semua itu, dahulu dengan sadar telah melukai sebuah hati. Dustai rasa yang tulus diberi. Mungkin juga menghentikan seluruh nadi impian hidup yang dimiliki. Lalu cintanya mati bersama ketulusan yang telah ditelantarkan.
Terpikir ini seperti hukuman, bahkan mungkin ini seperti karma. Seperti dera yang terpahit yang pernah menghampiri. Ini dera terdingin yang pernah dipeluk dengan kesadaran diri. Ini dera yang membuatnya sadar ada hati yang telah ia matikan. Maafkan aku.
Tubuh terhenyak dengan tetesan-tetesan terus mengalir. Kaki kokohnya hampir tak kuat menopang berat tubuh karena melemas seketika.
Pria itu menangis tanpa suara, pria itu menyesal dan pria itu ingin menghancurkan dirinya sendiri. Atas apa yang dilihat begitu menghancurkan hati.
"Ni-Niar ...." Bergetar, lirih, nyaris tenggelam dalam krusak-krusuknya angin.
"Niar ...." Kedua kali memanggil. Kali ini —untuk kali ini— tubuhnya benar-benar terasa melemas. Yusha menjatuhkan diri di depan Niar. Perempuan yang hanya diam tanpa membalas pandangannya. Perempuan dengan cekungan mata kentara juga lingkar mata menghitam itu tetap diam.
Sakky dan Yuara mengamati pemandangan yang sama sekali tak terlintas sebelumnya.
Pria dengan penyesalan terdalam itu tak menghiraukan keberadaan Sakky, melupakan salah paham yang dipikirkan selama ini. Ia rengkuh tubuh rapuh ringkih itu dengan kehangatan dan cucuran air mata.
Hati remuk terperikan. Dada sesak terhimpit batu besar tak kasat mata, dihujam ribuan sembilah tajam. Bagai mimpi buruk yang mengerikan.
"A-ku datang ...," bisik Yusha.
Kamu datang, tapi ragaku hampir tak kuat menahan semuanya. Ini pertemuan yang selalu kurindu dan pertemuan yang sangat kudamba. Andai —seandaianya— kamu datang lebih awal. Mungkin senja takkan menghilang.
"Niar, a-aku datang. Maafkan aku."
Dulu, perempuan yang ada di depannya ini sangat cantik dengan wajah teduhnya. Memiliki mata berbinar, bibir tipis yang selalu menerbitkan senyum saat menyambut kedatangannya. Sekarang —untuk sekarang— kemana wajah berbinar itu? Kemana terbitan senyumnya?
"Niar ...," panggil Yusha sekali lagi.
Sesuatu terjadi, mata redup itu mengeluarkan tetesan kristal bening meskipun bibirnya tetap diam dengan tatapan mata yang menyorot pada payoda jingga yang hampir menghilang.
"Apa yang terjadi dengan dia?!" Tak mendapat jawaban, Yusha beralih bertanya pada Sakky.
"Dia ... mengalami trauma psikis berat yang membuatnya seperti itu," jawab Sakky menelan ludah bulat-bulat.
"Hore ... Ini beneran Papa Yusha. Mama Cantik Papa Yusha udah datang, dia mau jemput kita seperti Mama bilang kemarin," sorak Yuara girang.
Sakky dan Yusha beralih pada Yuara. Tetapi sesaat kemudian Yusha kembali pada Sakky berharap pria itu menjelaskan sesuatu.
"Em ... Senja hampir menghilang. Ayo kita pulang!" ajak Sakky.
"Belum, Pa. Biasanya sebentar lagi baru pulang," tolak Yuara.
"Ini udah hampir maghrib. Waktunya shalat dan doain Mama Cantik agar cepat sembuh," ujar Sakky.
"Tapi Papa Yusha ikut dengan kita, kan? Papa Yusha harus obatin Mama Cantik juga, biar cepet sembuh."
Sakky mengangguk. "Iya. Dia akan ikut kita pulang."
"Nanti aku jelaskan semuanya, jika kamu mau, ikutlah dengan kami," ajak Sakky.
Mereka pergi, juga dengan senja yang ikut pergi. Meninggalkan gelap gempita.
•
Di teras rumah Niar, Sakky dan Yusha duduk di lincak (kursi terbuat dari anyaman bambu) dua pria itu akan terlibat pembicaraan serius.
Menurut Sakky, mungkin ini waktu tepat untuk membongkar sebuah rahasia besar. Memang bukan kuasanya, namun ia tahu jika Niar membutuhkan Yusha untuk bisa bangkit, bisa kembali seperti berapa waktu lalu.
Selama lima tahun ia mengejar dan menunggu hati Niar namun tak sekalipun perempuan baik itu membalas perasaanya. Ia tahu jika pria bernama Yusha masih menjadi seorang yang dicintai Niar.
Mbok Jamu sering menasehati, cinta tak perlu bersama juga tak bisa dipaksa. Mungkin harus belajar ikhlas melepas perasaanya demi melihat orang yang disayangi bahagia.
Ia tahu, Allah telah menciptakan manusia dengan berpasang-pasangan, ia akan mendapat hati lain setelah ikhlas merelakan Niar kembali dengan Yusha.
Sakky menghirup udara dan menghelanya panjang. Pria itu berusaha lapang dada dengan kedatangan Yusha. Ia belajar ikhlas, tetapi tak menutup kemungkinan ada nyeri yang dirasa.
"Selama lima tahun ini dia selalu menunggu kedatanganmu."
Yusha langsung menoleh.
"Kamu sangat beruntung bisa memiliki hatinya, meskipun takdir kalian terpisah tapi cinta Niar utuh untukmu."
Deg ....