
Niar berdiri di depan rumah bu Tini, tampak ragu ingin melanjutkan langkah kakinya untuk menemui bu Tini. Sudah banyak kemalangan yang ia adu kan pada wanita itu dan dengan kebaikannya, bu Tini selalu membantu. Apakah kali ini ia akan meminta bantuan lagi?
"Kenapa gak masuk, Aira?" Pertanyaan dari Aris mengejutkan Niar. Gadis itu menoleh ke belakang dan tenyata Aris sudah berdiri di sana. 'Aira' begitulah pemuda itu memanggil nama Niar. Ia lebih suka memanggil nama itu daripada dengan sebutan Niar.
Baginya nama itu lebih cantik ketimbang nama Niar yang diberikan oleh Sumiati.
"Ka–k A–ris?" Niar tergagap memanggil pemuda itu.
"Ayo masuk, bunda ada di dalam." Aris mengajak Niar memasuki rumahnya dan mencari keberadaan bundanya. Setelah menemukan sang bunda berada di antara pegawai produksi keripik singkong, pemuda itu mendekat. "Bun, ada Aira didepan," ucapnya.
Bu Tini segera berdiri dan berjalan menuju ruang depan, sedangkan Aris menuju kamarnya untuk menaruh tas ransel yang tadi dibawanya.
"Eh Niar, tumben jam segini udah pulang kerja? Ada perlu apa, Nak?" Bu Tini bertanya dengan ramah. Bisa menebak jika Niar datang bukan sekedar berkunjung. Di lihat dari raut wajahnya menunjukkan kecemasan.
"Iya Bu, tadi bapak jatuh dari motor makanya Niar ijin pulang cepet." Niar melihat ke arah ibu paruh baya di depannya lalu menunduk lagi. Lidahnya terasa kaku ingin menyampaikan maksud kedatangannya. Tak sampai hati ingin merepotkan keluarga bu Tini lagi.
"Astagfirullah! pak Bejo jatuh dari motor?" pekik bu Tini setengah terkejut. "Lalu bagaimana keadaanya, Nak?" tanyanya.
"Lengan tangan bapak di gips, Bu. Sama ada luka lecet-lecet," jelas Niar.
"Terus kedatangan mu kesini pasti ada perlu 'kan, Niar?" tebak bu Tini.
Niar memandang bu Tini dengan tatapan sedih, ia benar-benar tak enak hati, tapi tak ada pilihan lain. Ia harus meminjam uang lagi pada bu Tini demi kesembuhan bapaknya.
"Bu, kedatangan Niar ke sini mau minta tolong sama Ibu buat pinjam uang. Bapak sudah boleh pulang tapi di tahan oleh pihak rumah sakit karna kami belum bisa melunasi tagihannya."
"Kamu butuh berapa Nak, nanti biar Aris ambil di-ATM dulu. Ibu belum sempat cairin uang kemarin."
Begitulah bu Tini, selalu baik dengan keluarga Niar, tapi karna sikap Sumiati iri dengan kehidupan wanita itu, membuat Sumiati tak menyukai tetangga depan rumahnya. Setiap keluarganya mendapat kesulitan selalu mengandalkan Niar untuk meminjam uang.
•••••••••••
Niar dan Aris berada dalam satu mobil, bu Tini menyuruh putranya mengantar Niar sekaligus memberi tumpangan pada pak Bejo untuk di antar pulang.
"Kak Aris, makasih ya mau anter Niar," ucap Niar.
Aris tersenyum dan memandang Niar sejenak. "Mau berapa kali kamu ngucapin makasih, Aira? Ini juga kewajibanku menolong tetangga dekat," balas Aris.
"Sebenarnya Niar gak enak, setiap ada masalah selalu ngerepotin keluarga Kakak."
"Santai aja, Bunda juga ikhlas nolongin keluarga kamu. Apa Nesva juga ada di rumah sakit?"
"Tadi belum ada. Mungkin sekarang udah dateng," balas Niar mencelos ke arah jendela. Bukan tak tahu jika pemuda di sampingnya itu tengah menjalin hubungan dengan kakaknya. Tanpa mereka tahu jika Niar pun mengagumi sosok Aris yang tumbuh sebagai pria tampan dan berkarisma.
Bukan hanya ketampanannya saja yang di kagumi oleh Niar, namun lebih pada sikap Aris yang baik dan santun.
Perempuan mana pun di rasa akan jatuh hati pada pesona yang di miliki Aris. Namun keberuntungan lagi-lagi berpihak pada Nesva, hampir satu tahun terakhir mereka berdua digosipkan berpacaran. Meski bu Tini tidak setuju tapi menghargai perasaan anaknya yang menyukai Nesva bukan Niar.
Ibu satu anak itu hanya berharap Aris bisa merubah hati dan memilih Niar, karna gadis itu lebih cantik akhlaknya. Tidak seperti Nevsa yang hanya mengunggulkan kecantikan wajahnya.
Sampai di ruang pak Bejo, ada Sumiati juga Nesva. Sedangkan pak Bejo berbaring lemah di atas brankar. Aris menyalami pak Bejo dan Sumiati. Lalu tersenyum manis ke arah Nesva yang juga di balas manis.
"Kakak datang sama dia?" Nesva menanyai Aris tapi melirik ke arah Niar.
"Iya. Biar sekalian aja, 'kan kita satu tujuan," balas Aris.
"Tapi gak ngapa-ngapain 'kan?" selidik Nesva.
Aris tersenyum, "emang mau ngapain, Va? kita cuma bareng aja ke sini nya. Kasihan Aira kalau harus pesen ojek lagi."
Jawabnya Aris tidak melegakan, membuat Nesva memberengut kesal dan keluar dari ruangan.
"Bu, boleh saya kejar Nesva sebentar. Nanti pak Bejo pulangnya bareng Aris aja, begitu tadi pesen bunda," ujar Aris meminta ijin pada Sumiati untuk mengejar Nesva.
"Iya Nak Aris, gak apa. Maaf ya, Nesva memang sedikit manja anaknya. Dan makasih juga ya kamu perhatian sama keluarga kami, mau ngasih tumpangan," balas Sumiati ramah.
"Iya Bu." Aris sudah melangkah keluar menyusul Nesva.
"Eh dungu! ini gara-gara kamu. Ngapain kamu ke sini bareng Aris? Kamu bisa naik ojek 'kan? Liat tuh kakak kamu jadi ngambek sama Aris. Gara-gara kamu, tuh!" Sumiati melirik Niar tajam.
"Tadi bu Tini yang nyuruh aku bareng kak Aris. Niar gak enak kalau nolak," jawab Niar.
"Halah ... alesan kamu aja! awas kamu coba godain Aris. Dia itu milik kakak kamu. Ngerti!" ancam Sumiati.
"Niar sadar diri Bu, kak Aris juga gak bakal mau sama Niar. Jadi Ibu tenang aja," balas Niar sedikit ketus. Rasanya ia lelah hampir setiap hari di sudutkan oleh ibu dan kakaknya. Selama ini menjadi anak baik, penurut dan mengabdikan diri untuk keluarganya tapi tak pernah di anggap. Ia tetap di rundung dan di pandang sebelah mata.
Hanya nasehat-nasehat baik dari bapaknya, membuat Niar bertahan tinggal di rumah itu. Jika tidak, gadis itu ingin pergi dan mencari kebahagiaan sendiri.
"Bu, sudah! Niar mau usaha buat nyari pinjaman uang harusnya ibu bersyukur, jangan marahin dia terus. Lihat juga anak kesayanganmu! apa yang bisa di lakuin buat bantu kita? Dia lebih memilih teman-temannya daripada bapaknya yang sakit!" lerai pak Bejo.
"Belain aja terus anak kesayanganmu itu. Nesva memang anak kesayanganku karna dia bisa di banggakan. Gak seperti si dungu itu, lelet gak ada guna!" omel Sumiati dengan ketus.
Pak Bejo menghembuskan napas panjang. "Terbuat dari batu hati kamu, Bu!" ucapnya.
"Kamu beresin pakaiannya, nanti langsung pulang kalau Aris sama Nesva udah masuk!" perintah Sumiati pada Niar.
Niar menyusut sudut matanya yang berair, lalu mengangguk.
"Dan, kamu gak boleh satu mobil sama kita. Kamu pulang aja naik ojek. Ngerti!" imbuh Sumiati.
"Bu ... !" sentak pak Bejo.
"Bapak ini masih sakit dari tadi nantangin terus. Kalau sakit itu diam! jangan banyak protes," ketus Sumiati.
"Bapak sudah ... Niar gak apa pulang naik ojek. Yang penting Bapak bisa naik mobil dengan kak Aris," sahut Niar. Ia tahu amarah pak Bejo tidak baik untuk kesehatannya, apalagi saat ini pak Bejo masih dalam masa pemulihan yang butuh ketenangan. Lebih baik ia yang mengalah.