
"Tuan, bolehkah saya tinggal di sini sementara waktu? Saya ingin merawat Ibu. Kasihan Bapak, beliau harus bekerja lalu siapa yang akan merawat Ibu?" Niar memandang lekat, berharap lelaki yang duduk disampingnya mau memberi ijin.
Yusha diam saja, tampak berat membuka mulut untuk memberi jawaban, bahkan lelaki itu enggan menganggukkan kepala. Bibir tipisnya dibiarkan terkatup rapat. Ia masih mempertimbangkan keinginan Niar.
"Setelah kesehatan Ibu pulih, saya segera kembali ke rumah Anda." Niar mencoba membujuk.
'Setelah kesehatannya kembali? Kapan? Berapa lama? Bahkan penyakit strok membutuhkan waktu sangat lama untuk pemulihan," geram Yusha dalam hati. Merasa tidak ikhlas bila Niar tinggal di sini, sedangkan ia harus kembali ke rumah sendirian. Lelaki itu merelakan waktu, jauh-jauh menyusul ke kampung hanya demi Niar. Lalu apa hasilnya jika Niar tidak ikut pulang. Bagaimana ia menjadi sandaran jika orang itu tidak mau bersandar padanya.
"Niar ... Ibu sudah bangun," kata Pak Bejo berdiri disamping pintu.
Niar yang duduk dikursi tunggu, bersebelahan dengan Yusha langsung berdiri. Berjalan cepat menghampiri bapaknya dan mereka masuk bersamaan. Begitu juga dengan Yusha, lelaki dengan pakaian formal itu tetap setia mengikuti langkah Niar.
Di atas ranjang kesakitan, kedua bola mata Sumiati sudah terbuka. Wanita itu hanya diam, namun saat ujung mata melirik pada Niar, biji mata itu berubah membesar, menatap tajam. Ada sirat kemurkaan yang membara. Wanita paruh baya yang terbujur lemah ingin memaki dan melontarkan sumpah serapahnya, namun kesulitan untuk membuka mulut selebar mungkin. Ia sedikit terkejut dengan perubahan tubuhnya, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Tetap berusaha sekuat mungkin untuk mengungkapkan emosinya.
"A-anak ... pem-ba-wa ... si-al!" Dengan terbata juga suara yang tidak jelas, Sumiati berusaha memaki Niar. Hanya tiga kalimat itu saja, membuat napasnya memburu. Ranjang tempatnya berbaring bergerak-gerak, karna Sumiati berusaha menjangkau Niar. Bila tangan itu tidak berubah kaku, mungkin sekarang Niar akan menjadi bahan amukannya.
"Huh ... huh ... ka-mu ...!" Sumiati ingin menunjuk wajah Niar, namun otot-otot tangan terasa kaku hingga sulit di gerakan.
"Bu, tenang. Jangan seperti ini. Dokter bilang, kondisi Ibu harus di jaga biar gak tambah parah," ucap Pak Bejo memperingati. Mengelus lengan tangan Sumiati pelan. Berharap sang istri sedikit melunak.
Sumiati menggeleng, airmata keluar dari cela sudut matanya. Bola mata itu enggan beralih, masih sama menatap ke arah putri keduanya yang juga berderai airmata.
Sesak menghimpit rongga dada, ulu hati seolah tertancap ribuan jarum. Kesakitan namun tak bisa berteriak untuk meminta pertolongan. Kesakitan itu hanya ia sendiri yang merasakan.
Nyali Niar semakin ciut untuk sekedar meminta pengampunan dari sang Ibu. Ia bisa melihat kebencian dan kemurkaan yang semakin menjilat-jilat, hingga meleburkan keberaniannya.
"I-Ibu ...," panggil Niar lirih, tertelan suara tangisannya yang kian terdengar teriris. Ingin memeluk tubuh lemah tak berdaya yang merintih di atas ranjang, tapi takut melihat tatapan Sumiati terus mengintimidasi.
"Ja-ngan pa-nggil a-ku, I-bu!" Dengan suara terbata, Sumiati tetap ingin menghakimi.
Sembilu semakin terasa saat sang Ibu benar-benar membencinya. Niar tak tahan untuk menubruk tubuh tuanya. "Ibu, maafin aku," ucap Niar terisak, "ampuni aku, Ibu."
Berada di pelukan Niar, Sumiati tidak suka dan sebisa mungkin memberontak. Tiba-tiba. "Cuih!" perempuan paruh baya itu meludahi wajah Niar.
"Bu ...!" Pak Bejo bersuara meninggi.
"Ibu ...!" Di susul suara Yusha tertahan. Tatapan tajam Yusha melekat pada Sumiati. Ia juga ingin menghakimi wanita paruh baya itu.
"Pak, jangan, ini salah Niar." Perempuan itu menghapus sebagian wajah yang berderai airmata bercampur ludah.
Tangan kanan Yusha terkepal, rahang kokohnya mengeras melihat Sumiati meludahi Niar. Lelaki itu tak habis pikir dengan Sumiati--sang ibu mertua. Keadaan yang dialami bukannya di jadikan pelajaran, justru semakin menyalahkan Niar. Kali ini Yusha benar-benar geram dengan ibu mertuanya sendiri. Jika tidak mengingat Niar, ia bisa menyuruh orangnya untuk melenyapkan wanita tak tau diri itu.
Namun ia masih bisa berpikir panjang, tak mau membuat Niar kalut dalam kesedihan. Ia tahu, sejahat apapun perlakuan ibunya, Niar tetap sayang dan menghormati wanita itu.
"Niar, keadaan seperti ini tidak baik untuk kesehatan Ibu. Mungkin Ibu butuh istirahat, Nak," ucap Pak Bejo.
"Nak Yusha, tolong tenangkan Niar," pinta Pak Bejo pada Yusha. Lelaki muda itu mengangguk.
Yusha mendekati Niar dan menarik tangan Niar dengan lembut, mengajak wanita itu untuk keluar. Kali ini Niar menurut, mengikuti langkah Yusha untuk keluar.
Menutup pintu, tapi lelaki itu tidak mengajaknya duduk di kursi tunggu. Langkahnya menyusuri lorong panjang hingga terhenti di depan lift.
"Tuan, kita mau kemana?" tanya Niar dengan suara serak. Suaranya menghilang akibat terlalu lama menangis.
"Kemanapun, asal kamu bisa lebih tenang," jawabnya.
"Saya ingin di sini saja!"
"Kamu butuh ketenangan. Ikut saja denganku."
"Saya malu," jawab Niar menunduk.
"Malu kenapa?" Kening Yusha mengerut.
"Orang-orang pasti memandangku aneh." Perempuan itu menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan. Merasa aneh dengan pandangan yang terasa menyipit. Mungkin sekarang kedua matanya setengah membengkak.
Yusha mengangkat sebelah bibir, tersenyum tipis menanggapi Niar. Keluguan dan kepolosannya tidak berubah meski dalam perasaan sedih. Dan itu juga yang membuat Yushaka Demitri gemas ketika bersama Niar.
"Tidak ada yang menganggapmu begitu selagi kamu berada disampingku," balas Yusha.
Keluar dari lift, Yusha menyuruh Niar menunggu di lobi rumah sakit. Ia pergi ke basemen untuk mengambil mobil.
Niar duduk merenung, kalut dalam lamunan tanpa perduli beberapa orang berlalu lalang di depannya.
Terus saja terbayang perlakuan Sumiati yang tega meludahi wajahnya, se-benci itukah sang ibu terhadap dirinya?!