Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 41


Tenggang waktu satu minggu telah terlewati Nesva tak mampu mengembalikan dana perusahaan yang sudah di korupsi, akhirnya perempuan itu dijemput paksa oleh pihak kepolisian untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya.


Yusha, sang pemilik perusahaan telah bersepakat dengan pihak kepolisian agar menahan Nesva selama satu tahun. Sebenarnya untuk kasus tindak pidana korupsi, minimal mendekam dalam kurungan selama 4tahun. Tapi Yusha sendiri yang mengajukan hukuman itu, hingga pihak kepolisian menyetujui. Tentu dengan adanya syarat tertentu.


Tepat dimana Nesva di giring memasuki mobil polisi, saat itu Sumiati tak sadarkan diri dan pak Bejo meminta bantuan Aris segera membawanya ke rumah sakit.


Satu jam setelah kejadian itu, Pak Bejo mengubungi Niar memberitahukan kekacauan yang terjadi. Tubuh Niar mendadak lemas, luruh di atas lantai. Deraian airmata tak henti mengalir. Perempuan itu menangis terisak dengan perasaan bercampur, menyesal, bersalah, dan menerutuki diri sendiri. Kenapa, kenapa semua menjadi rumit? Saat ini yang ada hanya ingin menyalahkan Yusha, kenapa lelaki itu tega membohonginya. Jika dia berontak dia meyakinkan, semua akan baik-baik saja. Tapi, lihatlah, semua tidak baik-baik saja. Semua kacau.


Niar menguatkan diri beranjak menuju lemari lalu menata pakaian untuk dibawa pulang. Ia takkan membiarkan bapaknya mengatasi semua sendiri. Meski Yusha sedang pergi ke kantor, atau sedang mengurus penangkapan Nesva, ia tak tahu. Ia bertekad pulang sendiri dengan menaiki bis.


Sebelum kaki lemah itu keluar dari pintu, ia berucap dalam hati. 'Tuan, maafkan aku pergi tanpa ijin. Aku pergi untuk alasan baik, semoga Malaikat tidak melaknatku.'


"Nona, anda mau kemana?" tanya salah satu penjaga di rumah Yusha.


"Saya mau pulang kampung, Pak."


"Anda bisa di antar Mas Dedi." Mas Dedi panggilan mereka untuk supir pribadi Yusha.


Niar menggeleng, "Bapak yang itu gak ada. Saya buru-buru, jadi, naik bis saja." Niar melanjutkan langkah menuju pintu gerbang. Tapi segera di cegat lagi dengan dua penjaga tadi. "Sebentar Nona, biar saya ijinkan pada Tuan Yusha, kami takut beliau marah jika anda keluar rumah."


'Saya bukan tawanan yang selalu disembunyikan di dalam rumah. Bahkan untuk pergi menemui keluarga harus di cegah seperti ini.' batin Niar semakin kalut. Perempuan itu tak bisa berpikir jernih. Tak bisa menjangkau maksut Yusha, jika lelaki itu hanya khawatir membiarkannya pergi sendirian. Ya, sedikit demi sedikit hati Yusha mulai menganggap keberadaan Niar. Jika dulu dalam hati dan pikirannya hanya ada Sheli, sejak beberapa waktu lalu nama Niar mulai menyelusup dan dan ikut bersemayam.


Tak mengindahkan larangan dua satpam tadi, Niar melangkah tergesa-gesa keluar pagar. Berjalan jauh demi mencapai jalan besar yang sering di lalui kendaraan umum.


Di seberang telpon Yusha mengumpat marah mendengar teriakan salah satu satpam penjaga, ia menduga jika Niar nekad pulang tanpa seijin darinya.


Lelaki itu meninggalkan ruang metting begitu saja.


"Tuan, anda mau kemana?" Kelvin setengah berteriak memanggil tuannya. Tapi apa perduli, Yusha kabur dengan langkah lebar.


Di dalam bis yang sesak dengan penumpang lainnya, mulut Niar terdiam, namun airmata lah yang terus berbicara. Ia tak bisa menyembunyikan keresahan yang kian meremas dada. Kuku-kuku tajam menusuki buku tangan, namun tak ia rasakan. Jemari itu saling menaut dan menyakiti satu sama lain. Sering ia lakukan jika sedang dilanda resah dalam gelisah.


Ia ingin segera sampai pada tujuan. Perjalanan yang biasa ia lewati seolah kian berputar-putar saja, hingga bis itu dirasa sangat lambat.


Tiga jam lebih, ia baru turun ditempat pemberhentian bis. Dengan tergesa, ia mencari angkutan umum untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Seperti pesan bapaknya.



"Assalamualaikum, Pak. Bagaimana keadaan Ibu? Tidak apa-apakan, Pak? Ibu baik-baik saja, kan?" Rentetan pertanyaan yang ia berondong untuk Pak Bejo.


Pria paruh baya itu mendongak, raut kesedihan terbingkai menghiasi wajah yang kian banyak kerutan. Termakan usia. "Ibu, sedang istirahat, Nak," jawabnya parau.


Sedetik kemudian Niar menjatuhkan lutut didepan sang ayah, ia bersujud meminta maaf. "Ini salah Niar, kan, Pak? Niar bo doh tidak berusaha membantu Ibu juga kakak. Maafin Niar, Pak." Perempuan itu tersedu di bawah kaki Pak Bejo yang lemas.


"Sudah Nak, jangan menyalakan diri." Pak Bejo mengelus pucuk kepala Niar, terbungkus jilbab pasmina. Lelaki itu tercekat melanjutkan kalimatnya. Setengah hati menyalahkan takdir, setengah hati tidak tahu ingin mengelirukan siapa? Apakah ia harus menyalahkan Niar? Sudah banyak kejadian pilu yang dialami perempuan itu hingga mengorbankan masa depan demi menyandang istri kedua untuk menyelamatkan keluarganya. Apakah ia masih tega menyudutkannya? Tidak! Ia takkan tega.


"Kamu baru datang, Nak. Duduklah! Setelah kamu tenang, Bapak titip jagain Ibu, ya. Bapak mau ke kantor polisi menemui kakakmu. Kasihan gak ada yang ikut kesana. Dia juga syok dengan yang dialami." Pak Bejo berkata lirih, membuat Niar semakin dirundung rasa bersalah. Tapi dayanya telah terkuras sejak tadi, ia hanya mampu menuruti ucapan bapaknya. Duduk di samping Pak Bejo dan bersandar pada lengan kiri sang ayah. Menemukan sedikit rasa nyaman, hanya saja kegusaran hati masih enggan untuk menghilang. Ia menutup mulut tapi membiarkan seribu penyesalan menghantuinya.



Hal yang jarang dilakukan, lelaki dengan perasaan tak menentu itu tengah menempuh jarak dari kantor menuju ke kampung, tempat tinggal Niar. Membutuhkan waktu tiga jam lebih, tanpa jeda, tanpa mengenal lelah tetap mengendarai mobil di antara kepadatan pengguna jalan lainnya.


Hal utama yang dipikirkan, Niar pasti kalut dengan rasa menyesal. Bisa ditebak jika perempuan itu menyalahkan diri sendiri untuk kejadian yang sama sekali bukan kesalahannya. Ia mulai memahami sikap Niar yang terlalu lemah menghadapi rundungan orang sekitar. Perempuan itu belum cukup tegar untuk melawan dan bangkit.


Hal lain yang dipikirkan, apakah Niar berubah membenci setelah kejadian ini? Padahal yang dilakukan hanya ingin memberi balasan atas ketidak adilan yang dilakukan Sumiati dan Nesva, dan menurutnya ini tidak setimpal dibandingkan perbuatan mereka yang dimulai sejak lahir hingga sekarang.


Entah mengapa, ia sendiri yang tidak terima jika Niar diperlakukan seperti itu. Jika Niar lemah, ia yang ingin maju sebagai tameng. Namun akan menemui kesusahan karna orang yang bersangkutan seolah tidak ingin di lindungi.