
Tak membuahkan hasil dengan mendatangi rumah Yusha. Sumiati justru mendapat usiran paksa dari sang menantu. Ibu paruh baya itu pulang dengan harapan kosong.
Yusha tak sampai hati membiarkan ibu mertuanya pulang sendirian, ia memerintahkan Dedi--supir priadi--untuk mengatarkan Sumiati pulang ke kampung.
Meski Sumiati menangis dan mengiba didepan Yusha, lelaki itu tak luluh juga tak bergeming. Ia tak berada diposisi Niar namun ikut merasakan emosi jiwa, saat lagi-lagi Sumiati dan Nesva berbuat ulah. Karna setelah itu Niar lah yang akan di kambing hitamkan. Di manfaatkan untuk mencari solusi atas kesalahan yang dilakukan mereka.
Namun kini Yusha dibuat tercenung dengan wanita didepannya, yang berusaha membela ibu dan kakaknya meski kedua wanita itu sering memberi luka.
"Tu-an, harusnya anda tidak mengusir, ibuku." Niar masih tergugu, tatapan mata sendu itu lurus kebawah. Tanpa berani membalas tatapan Yusha.
"Aku tidak menyukai ibumu ada di sini, apalagi mencoba memanfaatkanmu lagi!"
Niar terdiam, ingin menyanggah namun tak ada keberanian. Ia juga tak memiliki kuasa atas rumah megah itu. Yusha lah pemiliknya.
Hati Niar diambang kebingungan, melihat sang ibu mengiba meminta bantuan pada Yusha namun di tolak, ada rasa tidak tega yang memenuhi rongga dada.
Dengan Nesva, apakah ia harus membiarkan sang kakak mendekam dalam penjara? Tanpa melakukan apapun?
"Tuan, saya mohon ... bantu keluarga saya. Anda bisa menghitungnya sebagai jatah bulanan saya," pinta Niar lirih. Perempuan itu menggigit ujung bibir. Sesekali jemari lentiknya mengelap sisa cairan bening yang ada di kedua sudut matanya.
Yusha mendesah tertahan. Bagaimana, Niar masih membela keluarganya. Sudah banyak kesakitan dan ketidak adilan yang diterima, tapi kesabaran yang dimiliki perempuan itu masih meluas seolah tak pernah menyempit.
"Biarkan Nesva bertanggung jawab atas perbuatannya. Jika kamu berusaha membantunya, sama saja membela kesalahan yang diperbuat. Dengan dia mendekam di penjara, kakak kamu akan berubah lebih bertanggung jawab dan tidak berbuat sesuka hati. Itu juga sebagai imbalan karna selalu merundungmu." papar Yusha secara terang-terangan. Namun tak membuat Niar melega, hati lembutnya tetap berontak ingin membantu sang kakak.
"Tapi aku gak tega kalau kak Nesva harus mendekam dipenjara. Hati ibu pasti sedih," tutur Niar dengan sendu.
Yusha menghembuskan napas panjang, pria itu mengalihkan wajah sebentar lalu menatap Niar lagi. "Kamu memikirkan hati ibumu akan sedih? Niar ... bukankah selama ini mereka tidak perduli dengan kesedihanmu? Untuk apa kamu memikirkan mereka?" Yusha merasa gemas sekaligus geram dengan sikap Niar yang menurutnya terlalu polos. Seperti tidak bisa membedakan, mana yang harus dibela dan mana yang harus ditentang. Tidak bisa membedakan mana yang tulus membutuhkan bantuan dengan mana yang hanya bermodus.
"Perasaan sedih saya tidak penting, Tuan. Hidup saya yang pelik memang selalu berteman dengan kesedihan. Dan saya sudah terbiasa dengan itu. Tapi Ibu ... rasanya berdosa jika membiarkan ibu bersedih tanpa bisa membantu."
"Niar, dengarkan aku. Bangkitlah, beranikan dirimu berspeak up didepan mereka! Tunjukan jika kamu tidak lemah, agar mereka tak lagi memanfaatkanmu. Dengan begitu keberadaanmu akan lebih dihargai," tutur Yusha dengan menatap lekat pada Niar. Berharap perempuan itu bisa mengerti yang dikatakannya.
"Anda tidak tau, Tuan, berapa kali saya berbicara dan meminta mereka agar menghargai keberadaan saya. Tapi, apa yang saya dapat?! Ibu justru lebih membenci dan menghujat dengan kata-kata menyakitkan."
"Jika begitu, kamu harus balas perlakukan mereka. Abaikan mereka, jangan perduli dan ikut campur apapun yang menjerat mereka. Biarkan mereka menyelesaikan masalah yang dibuatnya sendiri. Kamu harus tegas menolak jika mereka datang meminta bantuan, dengan begitu kamu tidak dianggap lemah dan mereka tidak akan merundungmu lagi!" Yusha menasehati dengan nada tegas.
"Saya tidak bisa, Tuan. Dengan membiarkan ibu menangis, saya merasa berdosa. Apalagi harus mengabaikan permintaan ibu, saya rasa tidak bisa." Niar memandang Yusha, airmata itu mulai surut tak seperti beberapa waktu lalu yang selalu menganak sungai.
"Kamu harus bisa! Harus! Sekali saja abaikan mereka. Berbicara dosa, Tuhan pasti tau, mana yang akan dinilai dosa atau bukan," saran Yusha. Lelaki itu menunggu respon dari Niar. Namun tak kunjung mendapatkan jawaban, perempuan itu tenggelam dalam pikirannya dengan raut penuh pertimbangan.
Menyuruh Niar berontak bukan berati Yusha memiliki pemikiran jahat. Lelaki itu hanya ingin memperjuangkan senyum Niar dan menyadarkan bahwa selama ini perempuan itu terlalu lemah menghadapi sikap Sumiati dan Nesva.
Yusha ingin melihat Niar lebih tegas, kuat dan tidak lemah didepan mereka. Berharap perempuan itu bisa bangkit untuk melawan agar Sumiati dan Nesva tidak semena-mena memanfaatkannya.
"Apa-kah saya harus diam melihat kak Nesva di penjara?" tanya Niar meminta pendapat.
"Ya, diamkan saja. Biar mereka urus sendiri masalah yang diperbuat, supaya lebih bertanggung jawab. Dan dengan sikapmu yang cuek tanpa membantu mereka, kamu tidak akan dimanfaatkan lagi."
"Tapi saya takut--" ucapan Niar menggantung diudara karena Yusha memotongnya.
"Apa yang kamu takutkan?"
"Saya hanya punya mereka, jika ibu dan kak Nesva semakin benci, lalu apa yang harus saya lakukan?"
"Ada ayahmu ... ada aku, yang akan menguatkan dan membelamu. Dan Pak Bejo bisa lebih bertanggung jawab agar tidak seolah-olah diam saja melihatmu diperlakukan tidak adil."
'Ada aku, yang akan menguatkan dan membelamu' kalimat itu sedikit menyamarkan kesedihan dan kegusaran dihati Niar. Seolah ia mendapat perhatian dari Yusha.
"Aku sengaja mengusut kasus Nesva ke jalur hukum. Memberinya sedikit pelajaran supaya lebih berpikir panjang untuk memikirkan sebab akibat apa yang diperbuat. Dengan begitu, dia akan berusaha lebih bertanggung jawab," jujur Yusha tanpa mau menutupi perbuatanya.
Niar yang terpaku pada kalimat perhatian Yusha tadi, kini dibuat mengernyit dengan kejujuran lelaki itu. "Maksud, Tuan?" tanyanya tidak mengerti.
"Kasus Nesva memang sengaja aku kuak dan kubawa ke jalur hukum. Sengaja. Aku ingin memberi dia sedikit pelajaran. Dalam artian, orangku lah yang melaporkan Nesva pada polisi. Tapi semua itu memang kesalahan Nesva sendiri yang sudah menggelapkan uang perusahan."
Pengakuan Yusha barusan beralih membuat Niar tercengang. Biji mata itu melebar sempurna dan menatap Yusha dengan raut wajah sangat terkejut. Mulutnya ikut melebar, benar-benar tidak menduga masalah yang menimpa kakaknya ternyata berhubungan dengan suaminya sendiri.