Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 38


Dua bulan berlalu.


Tak ada yang berbeda dari hari sebelumnya. Aktivitas atau apapun masih tetap sama, hanya saja keberadaan Sheli dan Yusha lebih sering keluar negeri untuk melakukan tuntutan pekerjaan.


Sejak kemarin pagi di kediaman megah itu hanya ditinggali Niar dan Bi Mur, Yusha maupun Sheli sedang keluar negeri. Meskipun sama-sama pergi, tapi keduanya berada di negara berbeda.


Terhitung sudah dua hari Yusha pergi ke Paris, hingga pagi ini belum ada tanda-tanda akan pulang. Juga tidak memberi kabar.


"Bi, Niar bantuin ngepel ya," tawar Niar, ia bersiap mengambil alat pel yang barusaja disiapkan oleh Bi Mur.


"Nggak usah, biar Bibi aja yang kerjain." Bi Mur tidak bisa membiarkan nona kedua di rumah itu melakukan pekerjaan yang dilakukan pembantu. Sebelumnya Yusha juga telah melarangnya.


"Bi, Niar bosan gak ngapa-ngapain." Perempuan itu kembali duduk dikursi meja dapur, mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuk.


"Nggak ngapa-ngapain gimana? Kamu baru selesai siram tanaman, nyapu halaman teras, itu aja kalau ketahuan Tuan Yusha, Bibi akan dimarahi. Sudah, kamu duduk aja atau gak istirahat. Semisal Nyonya besar berkunjung atau Nona Sheli pulang, kamu udah gak bisa istirahat," papar Bi Mur, terkadang gemas dengan sikap Niar yang keras kepala.


"Bi, Tuan Yusha gak ada. Bibi gak bakal dimarah. Nona Sheli juga jarang pulang pagi, biasanya pulang sore atau malam." Perempuan itu masih bisa menjawab.


Ni Mur menghela napas dengan menatap Niar, masih saja keras kepala. Saat mulutnya akan mendebat lagi. Tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi. "Aku aja Bi yang buka," sahut Niar cepat dan melesat ke ruang depan.


Membuka kunci dan memutar handel pintu, biji mata Niar hampir terlepas mengetahui siapa yang datang. "I-ibu ..., " ucapnya terbata, ia dikejutkan dengan sesosok ibunya yang telah berdiri didepan pintu.


"Ternyata benar, kamu tinggal di rumah ini." Sumiati tak henti meneliti bangunan megah yang dipijaknya.


"I-ibu tau dari mana alamat rumah Tuan Yusha?"


"Huh, anak dungu gak berubah-berubah!" kesal Sumiati. "Ibu datang jauh-jauh bukannya disuruh masuk, dibikinin minum, malah dihadang pertanyaan." ketusnya.


"Silahkan masuk, Bu." Akhirnya Niar mempersilahkan masuk. Mau bagaimana lagi, ia tak mungkin mengusir ibunya sendiri. Meskipun Yusha melarang siapapun datang disaat ia pergi. Tapi tamu yang datang, tak kuasa untuk diusir.


"Dari tadi kek, Ibu capek perjalanan dari kampung sampai sini jauh banget. Berangkat sehabis subuh, takut ketinggalan bis." Sumiati bercerita sambil bersungut.


"Niar," panggil Bi Mur yang menyusul ke ruang tamu, ia mengira nyonya Vivian atau Sheli yang datang. Ternyata bukan, menemukan orang asing duduk dikursi, dan ia tidak mengenal orang tersebut. Memandang Sumiati dengan kebingungan.


"Bi, kenalin, ini ibuku." Niar memperkenalkan ibunya pada Bi Mur.


"Oh .... " Bi Mur menganggukkan kepala, "ibu, perkenalan ... saya Mur, pembantu dirumah ini." Bi Mur mengenalkan dirinya.


"Saya Sumiati, ibunya Niar," balas Sumiati.


"Sebentar Bu, Niar buatkan minum." Tapi belum sempat Niar berdiri telah dicegah oleh Bi Mur.


"Biar Bibi aja yang buatin minum. Tunggu sebentar ya, Bu," ucap Bi Mur segera berbalik menuju dapur.


"Ibu, ada apa sampek nyusul Niar kesini? Kalau ada perlu, Ibu bisa bicara di telpon."


"Selama ini kamu tinggal disini? Enak sekali hidupmu. Pantesan tiga bulan betah gak pulang kerumah, ternyata di sini kamu jadi nyonya. Wah-wah ... Ibu gak sangka, suami kamu sangat kaya," tutur Sumiati dengan mengagumi arsitektur rumah Yusha. Bukannya menjawab pertanyaan Niar, ibu paruh justru mengabaikannya. "Gak sia-sia kamu jadi istri kedua kalau suamimu sekaya ini. Kamu bisa manfaatin semua fasilitas mewahnya. Tapi, kenapa kamu cuma ngirimin uang bulanan tiga juta perbulan? Harusnya lebih dari itu. 7 atau 10 juta perbulan," protesnya.


"Halah, kamu aja yang bodoh! Harusnya pintar-pintar kamu aja buat morotin Yusha," cetus Sumiati.


"Bu, hati-hati kalau bicara." Niar memperingati. Ada perasaan sedih saat menatap Sumiati, kenapa sikapnya tidak bisa berubah. Bahkan terakhir terjadinya pertengkaran, Sumiati sendiri yang mengatakan akan merubah sikap lebih baik dan menganggap dirinya seperti Nesva, namun perkataan itu hanya dusta belaka. Nyatanya sikap Sumiati tidak ada yang berubah.


Sumiati melengos dan memutar bola mata. Sejenak wanita itu lupa tujuan awal datang mencari keberadaan Niar.


Niar menghembuskan napas panjang. Mencoba mengatur perasaanya sendiri, meski sedih dan kecewa dengan sikap ibunya, tak lantas mengambil sikap acuh. Ia tetap harus menghormati ibunya. "Ibu, ada apa Ibu nyari Niar? Bapak sehat,kan?" Niar mengulang pertanyannya. Ia penasaran kenapa sang ibu sampai menyusul ke kota. Apa telah terjadi sesuatu dengan Pak Bejo?


Mendengar itu, Sumiati langsung mendongak. Ia ingat akan tujuan kedatangannya mencari Niar. Segera mungkin men-setting wajah melas.


"Di rumah sedang ada masalah," kata Sumiati.


Dahi Niar mengerut, masalah apalagi yang terjadi pada keluarganya. Baru tiga bulan hidup tenang tanpa beban, dan kini terjadi masalah lagi? 'Semoga masalah kali ini tidak terlalu berat.' batin Niar.


"Apa masalah pernikahan Kak Nesva?" tebak Niar.


"Ini tentang kakak kamu," ujar Sumiati lirih, tidak seperti waktu datang tadi yang bersikap ketus, ia telah merubah raut wajahnya menjadi sendu.


"Kak Nesva kenapa?"


"Kamu harus bantu kakak kamu,"


"Bantu apa, Bu?"


"Begini ... Nesva, ketahuan menggelapkan uang perusahan di tempatnya bekerja. Dia mendapat peringatan untuk mengembalikan uang yang diambil. Jika tidak ... kakak kamu akan masuk penjara. Karna masalah ini juga, keluarga Aris menunda lamarannya." Sumiati menjelaskan.


"Apa????" pekik Niar terkejut.


"Kamu harus bantu kakak kamu, Niar! Hanya kamu yang bisa membantu Nesva." desak Sumiati.


"Tapi Bu, Niar ti-- " Niar ingin menyangkal tapi perkataanya terpotong.


"Kamu tega kalau sampai Nesva di penjara? Kamu gak kasihan dengan nasibnya?"


.


.


.


.


.


Ayo-ayo ... keluarkan makian kalian untuk Sumiati dan Nesva.🤭 akak mei tunggu yang paling gokil.