
Perempuan berhijab biru tengah memandang laut lepas yang juga memancarkan warna biru kehitaman. Lengkungan di bibir tersungging sangat manis, bisa memabukkan mata para pria yang melihatnya. Namun, sejauh ia menjalani hari, tak ada satu pun yang mampu memabukkan hatinya. Tetap pada satu pendirian.
Tak ada yang lain, perempuan mengenakan gamis hitam berenda pink cerah itu tetap memikirkan dan menantikan kehadiran seseorang. Tetapi, lagi-lagi hanya angin dan kekosongan yang ia jumpai. Setelah apa yang dinanti tak ditemui, ia akan pulang menggendong rindu dan pilu. Nyatanya pria itu tak pernah menepati ucapannya.
Ia hampir lelah menunggu senja menghilang, pria itu tak juga muncul membawa kesenangan. Takut, cengkeraman rasa takut mulai menghantui. Takut akan hal baru yang bisa menggantikan sebuah rasa yang terpatri.
Ia berdiri dengan terpaan angin mengoyang-goyangkan helaian kain yang dipakai. Mata sendu nan redupnya ia pejamkan kembali, mengingat-ingat kenangan yang dulu dilalui. Ternyata sudah sangat lama sekali. Namun tak mau melebur dari memori.
Embusan napas terdengar panjang. Tuhan begitu melindungiku hingga tak lagi memberi kita kesempatan untuk bertemu, mungkin Tuhan tak percaya aku bisa setegar ini ketika dipertemukan kembali dengan pria penoreh rindu. Hingga kita bagaikan main petak umpet, saling bersembunyi di tempat ternyaman.
Bukan waktu sebentar menunggu senja menghilang, nyatanya telah melewati lima purnama ia tetap teguh pada pendirian. Berpijak dengan tatihan tapak kaki yang penuh luka, hingga bisa berdiri kuat ditengah terjangan gelombang menerpa.
Meski air mata dan darah tak kasat mata bercucuran menemani perjuangannya, namun ia masih tetap bertahan. Jika, suatu hari lelah menghampiri, ia ingin melengkungkan senyum untuk orang-orang terkasih.
Suara tangisan anak kecil membuyarkan imajinasinya. Ia segera menoleh pada dua orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya. Menemani setiap tarikan napasnya, dan memberi kekuatan besar melanjutkan langkah.
"Sayang, kamu kenapa?" Niar berjongkok menyamai tinggi badan anak kecil itu.
Anak perempuan berumur 4 tahunan menangis dan mengucek kedua matanya. Bibir mungilnya mencebik. Dan membuat siapa saja gemas menyaksikannya.
"Papa Sakky nakal, Ma! Gangguin Ara bikin rumah istana," adunya dengan mulut menggemaskan. Rambut panjang hitam legamnya dikepang dua, dan Niar mengusap pucuk kepala anaknya.
"Nanti Mama hukum Papa Sakky. Dia emang rajanya jahil." Niar melirik pada pria yang tengah tersenyum lebar padanya.
Niar berdiri dan menggelengkan kepala. "Mas ini gangguin Ara terus, lupa kalau dia ngambek bakal susah dibujuk?" omel Niar.
"Palingan ngambeknya bentaran doang, kalau udah dibeliin permen gula-gula bakal nemplok lagi." Sakky mengangkat kedua alisnya dan tersenyum pada gadis kecil bernama Yuara Sora Demitri yang dipanggil Ara.
"Permen gula-gula? Beliin dua yang besar, ya, Pa." Gadis kecil itu berubah berbinar.
"Nah, kan, udah jingkrak-jingkrak gitu," sahut Sakky. Ia langsung menggendong tubuh gemuk Ara. "Kasih Papa ciuman dong ...," pinta Sakky.
Niar menggeleng pelan, keduanya memang begitu setiap saatnya. Bertengkar, satu menit langsung berbaikan.
"Ara gak boleh makan permen gula-gula dengan porsi banyak. Ingat, kalau mau jadi dokter giginya harus sehat, gak boleh hitam, dan gak boleh ada ...."
"Lubangnya," sahut Ara.
"Anak pintar." Niar kembali mengusap pucuk kepala Ara.
Kebinaran mata Ara sedikit meredup. "Tapi, Ma. Yua pengen makan gula-gula, gak 2 juga apa. Boleh, ya ... ya ...," rengeknya.
Niar menggeleng ke kanan dan ke kiri. "No, Princess!"
Bibir Ara kembali mengerucut, gadis kecil itu beralih menyembunyikan wajah dibalik ceruk leher Sakky. Tetapi Sakky membisikkan sesuatu yang membuat gadis kecil itu tersenyum merekah.
"Mas, jangan aneh-aneh! Jangan manjain Ara, jangan turuti semua keinginannya. Kita pilah mana yang baik untuk dia," ujar Niar memperingati.
"Enggak, aku cuma nenangin pacarku aja," seloroh Sakky. Niar memutar bola mata jengah.
"Nenek ...!" teriak Ara ketika Mbok Jamu muncul dari arah belakang Sakky. Sakky dan Niar langsung menoleh.
"Kalian ini betah banget di pantai sampek langit mau gelap gak pulang-pulang. Liat tuh, pengunjung hampir bubar. Ayo pulang, Mbok baru selesai bikin pecel lele. Nanti kita makan bareng." Meski usianya sudah tua, Mbok Jamu masih sehat.
"Makasih, Mbok," ucap Niar.
"Hei, Genduk Kecil. Nenek gorengin ikan lele, kamu pasti seneng, to?"
"Seneng dong, Nek. Ikan Lele kesukaan Yua, ada kumisnya seperti Papa Sakky." Gadis kecil itu tergelak.
"Ish ...." Sakky pura-pura merajuk, yang justru menimbulkan gelak tawa semuanya.
Mbok Jamu dan Yuara telah lebih dulu meninggalkan pinggiran pantai, kini Sakky dan Niar berjalan pelan menikmati jingga yang hampir tenggelam.
"Jingga itu sangat indah, Mas. Meski ia hampir menghilang, tetapi cahayanya mampu memberi kedamaian bagi jiwa yang merasainya."
Netra Sakky menyorot pada langit jingga seperti yang sedang dipandang Niar.
"Berapa tahun udah berlalu, kamu masih seneng liat senja menghilang."
Niar mengangguk. "Aku punya mimpi, jika suatu saat aku pergi, aku ingin pergi seperti senja menghilang. Bagiku senja menghilang itu indah, dia menutup hari dengan kedamaian. Tanpa hujan yang membuat suasana menjadi kelam."
"Kamu gak akan pergi. Sampai kapanpun kamu tetap di sini, kita akan selalu menyaksikan senja menghilang."
"Iya, Mas. Aku tetap di sini, bahkan ketika aku pergi aku tak ingin kembali ke asalku. Aku ingin tetap di kota ini. Kota yang mengajarkan aku perjuangan. Kota yang menjadikan aku sukses dengan usaha jerih payahku. Di sini, aku menemukan kebahagiaanku."
"Udah, gak usah bahas yang gak ada perlu. Kita akan tetap seperti ini. Kecuali untuk ...."
Niar menghentikan langkah dan tersenyum pada Sakky. Ia tahu maksud pria itu, namun ia tak mau membahas.
Sakky balas tersenyum, lalu tangannya menggandeng lengan tangan Niar yang tertutup lengan baju panjang.
•
Pria temaram itu tengah berdiri di balkon kamar dengan ditemani kesepian. Beberapa hari lalu ia baru menginjakan kaki di negara kelahirannya. Setelah sebelumnya menetap di Paris.
"Yushaka ...." Suara yang paling ia hapal terdengar. Pria itu menoleh.
"Ma," sahutnya.
Vivian menjajari puteranya dan menepuk pelan pundak Yusha.
"Lima tahun lebih. Kamu masih betah seperti ini?"
Embusan panjang dari hidung Yusha untuk menjawab pertanyaan dari Vivian. Pertanyaan yang tak bisa lagi dihitung. Dan ia pun menjawab sama.
"Sampai kapanpun tetap seperti ini, Ma."
"Kalau begitu, coba kamu cari dia lagi."
"Aku tau dia di sana, tapi aku takut hatiku kembali hancur." Pria itu menunduk.
"Pastikan, setelah itu ambilah keputusan."
.
.
.
.
.
Dah nih, dah skip panjang banget. Udah gak BULET dan Gak bertele-tele, kan?
Hayo ... setelah ini gimana ya? 🤭
Ada yang mau sumbang nama buat gadis kecilnya Niar dan Yusha? Akak mei reflek pas ngasih namanya. Mohon maaf jika sewaktu akak mei rubah namanya.🙏