Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 29


Usai berbincang dengan mamanya, Yusha melangkah masuk ke dalam rumah. Menyisir ruangan tapi tidak menemukan Niar. Tebakannya tertuju pada kamar Niar yang dulu.


Mengetuk pintu beberapa kali sampai terdengar jawaban. "Sebentar." Barulah tangan Yusha berhenti mengetuk dan menunggu di depan pintu.


Pintu terbuka dengan munculnya Niar yang masih mengenakan mukena baru, pemberian mahar dari Yusha. "Ada apa, Tuan? Maaf, saya tadi masih sembahyang," jawab Niar.


"Kamu masih menempati kamar ini?" tanya Yusha tanpa basa-basi.


Niar mengernyit, "iya, saya masih menempati kamar ini. Kalau tidak, saya tidur dimana?" jawab Niar dengan wajah bingung.


Tangan Yusha terangkat, memijat pangkal hidungnya. Mungkin berbicara dengan Niar harus secara rinci. Ia menyadari jika gadis itu memang sedikit lambat merespon pembicaraan orang lain.


"Harus saya jelaskan berapa kali?" Yusha mendesah sebentar sebelum lanjut berkata. "Kamu sekarang adalah istri keduaku, bukan lagi sebagai pembantu. Terserah kamu mau pilih kamar yang mana, bebas. Di rumah ini ada banyak kamar dan kamu boleh memilih salah satu. Yang penting jangan kamar utama, karna itu kamarku bersama Sheli," ujar Yusha secara detail.


"Um ... saya sudah nyaman tidur di kamar ini. Tidak perlu pindah ke kamar lain, Tuan," balas Niar.


"Huh .... " Yusha membuang napas kasar. Ia langsung menyerobot masuk.


"Eh ... Tuan mau ngapain geledah kamar saya?" Niar terkejut melihat Yusha mengambil tas pakaian yang tadi siang di bawa dari rumah lamanya.


"Ngomong sama kamu emang perlu kesabaran ekstra juga," cibir Yusha menggelengkan kepalanya. Tapi sudut bibirnya terangkat dan lelaki itu tersenyum miring.


"Niar, ingat! Kamu sudah menjadi istriku, kamu punya tugas melayaniku. Kamu nyaman di kamar ini, tapi aku tidak nyaman."


Deg ...


Ucapan Yusha membuat tubuh Niar mematung. Wajah polosnya berubah memerah, malu saat Yusha mengingatnya untuk melayani lelaki itu. Bagaimana ia lupa tentang malam pertama yang sering di dengar ketika menghadiri acara pernikahan. Kini ia sendiri harus merasakan itu.


Mengamati wajah Niar yang tersipu membuat Yusha gemas sekaligus geram. Mungkin menikah dengan gadis belia memang harus lebih sabar, mereka masih sangat polos belum mengerti banyak hal tentang kebutuhan naf su duniawi.


"Kamu paham, kan maksutku?" tuntut Yusha.


Niar mengangguk ragu, lalu menunduk lagi. Ingin menolak, tapi tidak mungkin. Tujuan utama pernikahan mereka memang untuk itu. Melayani Yusha dan mengandung keturunannya. Siap tidak siap! Di tunda atau tidak, hal itu akan tetap terjadi.


"Tu-tuan, bagaimana dengan Nona Sheli?" tanya Niar takut-takut.


"Sheli ada kerjaan, tidak akan pulang selama dua hari," jawab Yusha.


Sudah tidak ada lagi alasan untuk menolak. Niar menghembuskan napas panjang dengan wajah bercampur bingung, sedih, takut juga tegang.


Yusha tersenyum tipis melihatnya.


"Ayo, pilih kamar yang mau kamu tempati," ajak Yusha. Tanpa melepas mukenanya, kaki Niar mengikuti langkah Yusha yang mengajaknya keluar kamar dan berkeliling deretan kamar yang ada di rumah megah itu.


"Terserah Tuan saja," balas Niar.


Yusha menghembuskan napas, kalau jawaban yang di dengar hanya 'terserah' kenapa tidak menjawab dari tadi. Ia takkan lelah-lelah berkeliling dari satu kamar ke kamar lainnya.


Akhirnya lelaki itu membawa Niar ke salah satu kamar bercat putih dengan aplikasi warna biru muda. Kamar berukuran dua kali lipat dari kamar pembantu yang tadi.


Kepala Niar mendongak mengamati sudut kamar. "Tuan, kamar ini terlalu besar. Kalau di kampung, bisa di bagi untuk beberapa ruangan. Di kamar ini, saya bisa berlari kesana kemari."


"Selain bikin geram, kamu juga bikin perut saya keram. Kamu mikir apa, mau lari-larian di dalam kamar?" Yusha tidak bisa menahan gelak tawanya.


"Saya belum siap untuk ... untuk ... untuk itu-itu," jawab Niar menatap Yusha serius dengan gerakan memberi kode dua jari telunjuk yang di ketuk dan di satukan.


"Hahahaha .... " Kali ini Yusha terpingkal-pingkal menertawai kode dari Niar. Istri keduanya itu benar-benar lucu.


"Ngomong sama kamu, bukan perut aja yang keram, tapi tulang pipi ikut nyeri gara-gara ketawa terus," ledek Yusha.


"Ish ... Tuan! Saya serius, tidak becanda," sungut Niar mendapat ledekan dari Yusha.


"Lalu kalau kamu belum siap, kamu bisa menghindari saya dengan lari-larian di dalam kamar?" tanyanya masih dengan kekeh lucu.


"Iya, jawaban anda benar."


Yusha menaruh tas pakaian Niar di atas ranjang. Lelaki itu berjalan mendekati Niar, membuat Niar semakin gugup, takut dan tegang. "Siap gak siap, harus siap. Entah sekarang, besok ... lusa atau kapan, kewajiban kamu untuk melayani suamimu harus kamu kerjakan. Kamu sendiri yang bilang, surgamu telah berpindah pada suamimu. Jadi, apapun yang di minta, kamu wajib memberikannya, bukan?" cecar Yusha.


Niar menelan ludah dan menatap Yusha dengan anggukan kepala. Perkataan Yusha memang benar, tapi terdengar mengerikan.


"Waktuku tidak banyak, lusa aku ada perjalanan ke luar negeri selama dua hari. Jadi, saya ingin memanfaatkan malam ini bersamamu, agar kamu cepat hamil."


"Atau ... kita bisa memulainya sekarang," goda Yusha dengan tatapan jahil.


"Apaaaaa?" Sontak membuat Niar memekik kaget. "Jangan sekarang!" lugas Niar menolak. Di luar, langit masih menyisakan awan kebiruan. Langit gelap belum sepenuhnya terbentuk, dan Yusha telah memiliki pemikiran ingin meminta haknya sekarang. 'Jangan gila, Tuan!' batin Niar.


Melihat wajah Niar mengerut pasi, tangan Yusha menjentik di depan wajah gadis itu. "Siapkan makan malam. Saya akan meminta makanan penutup nanti malam, bukan sekarang. Kamu gak perlu setegang itu." Setelah mengatakan itu Yusha menjauh dan meninggalkan kamar itu beserta orangnya sekarang sedang mematung di tempat.


"Berdekatan dengan Tuan Yusha tidak baik untuk jantungku. Dari tadi berdegub kencang. Ternyata Tuan Yusha tidak sejahat yang aku bayangkan. Lumayan asik berbicara dengannya." Niar berbicara dengan dirinya sendiri.


Ia melepas mukena dan melipatnya kembali, setelah itu menyimpan ke dalam lemari besar yang ada di kamar itu. Ia juga memindahkan baju-baju lamanya di sama.


Setelah selesai menata dengan rapi, karna baju yang di miliki juga hanya sedikit, ia segera keluar kamar untuk menyiapkan makan malam. Meskipun ucapan Yusha masih membayangi pikirannya dan membuat takut akan kewajiban yang harus di lakukan, Niar mencoba rileks dan tidak menganggap itu sebagai beban.


Yusha menutup pintu kamarnya dan merebahkan diri di sofa panjang. Kedua lengan tangan di jadikan bantalan. Lelaki itu tak bisa menyembunyikan rasa senang. Bahkan untuk sejenak ia lupa jika di hatinya hanya ada Sheli. Kali ini masih membayangkan wajah polos Niar yang menggemaskan. Entah kenapa ia merasa asik saat berdua dengannya.