
Reo terus saja fokus pada jalanan yang dilalui. Yusha hanya diam mengamati pemandangan luar jendela.
"Yo ... Yo, stop!" teriak Yusha tiba-tiba dan mengejutkan Reo. Pria yang memegang pengemudi itu refleks menginjak pedal rem.
Din ... din ... !!!
Mobil di belakang sahut-sahutan membunyikan klakson, sebab mobil Reo berhenti mendadak. Beruntung tidak menimbulkan kecelakaan, Reo segera menepikan mobil di pinggir jalan. Memberi ruas agar mobil di belakang bisa melanjutkan perjalanannya.
"Bang***, apa sih, ngagetin aja! Untung gak terjadi kecelakaan!" sentak Reo kesal.
"Berhenti sebentar," kata Yusha meraih pegangan pintu mobil dan bersiap untuk turun.
"Eh, lu mau kemana?"
"Ntar," sahut Yusha melenggang pergi.
"Dasar anak itu!" gerutu Reo.
Tak berapa lama Yusha kembali dengan menenteng kantong plastik.
"Lu beli apa?" tanya Reo, setelah Yusha duduk di kursi samping kemudi.
"Beli rujak," jawab Yusha santai dengan menaruh kantong plastik di atas dasbor. Ia mengambil satu bungkus dan membukanya.
"Rujak? Haha ... lu ngidam? Ada-ada aja hari gini makan gituan? Sakit perut ntar." Reo menertawai Yusha.
"Gak tau, lagi pengen aja makan rujak, kayaknya seger."
"Sejak kapan lu doyan gituan? Biasanya lu anti makan yang asem-asem. Bikin asam lambung kambuh."
"Kan, gue udah bilang. Gue gak tau! Pas liat gerobak penjual rujak, rasanya pengen aja." Yusha mengangkat bahu dan tetap menikmati rujakan yang tadi dibeli.
"Dasar aneh," desis Reo. Ia menghidupkan mesin mobil dan kembali menyusuri jalan beraspal.
•
"Kemana Yusha pergi sepagi ini? Weekend bukannya nyantai malah udah kabur duluan. Bikin bete!" Sheli mengomel sendiri. Perempuan itu kesal mendapati kamar-kamar telah kosong, tanpa menemukan suaminya. Ia mencoba menghubungi Yusha, tetapi tidak dijawab. Pesan yang dikirim hanya di read saja. Benar-benar menyebalkan.
Perempuan itu menjatuhkan diri disofa yang ada balkon. Jari lentiknya sibuk men-scrol layar ponsel.
"Hay, Beb?"
"Kenapa sayang?"
"Sibuk?" tanya Sheli.
"Enggak. Hari ini free gak ada pemotretan. Kenapa? Mau jalan?"
"Em ...."
"Kok, suaranya lemes gitu? Gak dapet jatah dari si ideot itu?"
"Aku aja gak tau sepagi ini dia kabur ke mana. Kemarin dia udah nyecerein perempuan kampung itu," cerita Sheli.
"Kenapa kamu biarin dia cerai? Kita gak bisa bebas, gak ada alasan kuat jika suatu hari suamimu mengetahui hubungan kita." Orang diseberang telpon mendesah.
"Sakit mata tiap kali liat mereka berdua."
"Tahan sakit mata daripada dompet kita yang sakit." Pria di seberang mengungkap peribahasa.
"Huh, kamu terlalu takut hidup sederhana! Uangku apa gak cukup buat kita hidup berfoya-foya?!"
"Bukan begitu sayang ... Kalau ada ATM berjalan, kenapa kita harus keluar uang?"
"Otak kamu busuk," sentak Sheli.
"Otakmu lebih busuk, sayang," timpal pria diseberang dengan kekehannya.
Sheli memutar bola mata jengah. Bagaimana ia mencintai pria semacam itu. Orang yang berbicara lewat telepon bukanlah pria baik, tetapi entah mengapa seolah tergila-gila dengan pria itu. Dan, entah motif apa yang membuat Sheli bertahan dengan Yusha padahal perempuan itu tidak memiliki perasaan.
"Jam berapa cabut?" tanya pria diseberang.
"Dua jam lagi. Gue siap-siap dulu,"
"Nanti aja gombalnya. Timingnya kurang tepat."
"Oke sayang, nanti aku kasih gombalan spesial buat kamu."
"By ...."
"By, muach ...."
Tepat saat sambungan telepon terputus, terdengar suara pintu yang diketuk. Sheli segera beranjak untuk membuka pintu. Berharap Yusha yang datang.
"Maaf, Non, di bawah ada tuan besar dan nyonya besar yang sedang menunggu." Bi Mur memberitahu.
"Katakan saya sedang bersiap. Sebentar lagi akan turun."
"Baik, Nona." Bi Mur membalikan badan dan segera berlalu pergi. Sedangkan Sheli mendesah dan mengumpat kesal. Kenapa mertuanya harus datang berkunjung.
Sheli segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dalam waktu kurang lebih 30 menit, perempuan itu telah menyelesaikan ritual mandinya. Ia berdandan menor seperti biasanya, lalu menuruni anak tangga untuk menemui Mahendra dan Vivian.
"Hay, Pa. Hay, Ma ...," sapa Sheli ketika telah sampai di ruang tamu. Seperti itulah cara Sheli menyapa kedua mertuanya. Tanpa kesopanan dan tanpa rasa canggung. Menganggap mereka seperti seumuran. Perempuan itu mendekati Vivian, lalu mencium pipi kanan dan pipi kiri mertuanya.
"Hay, Sheli. Kenapa kamu cuma sendiri? Di mana, Yushaka?" tanya Vivian tidak sabaran.
"Entahlah, Ma. Dari pagi tadi, Yusha pergi gak tau kemana. Aku cari-cari disekitar rumah tapi gak ada," jelas sheli.
"Loh, kok bisa begitu?" Bukannya kalian tinggal satu kamar? Kenapa gak tau pas suamimu pergi?" Vivian keheranan.
"Semalam kami bertengkar lagi gara-gara pembantu kemarin. Semalam Yusha gak tidur di kamar, jadi Sheli gak tau kemana suamiku pergi."
Vivian mengelus pundak Sheli. "Apa selama ini kamu menjalani pernikahan seperti ini?" Vivian memandang iba terhadap Sheli. Perempuan paruh baya itu mengira Sheli lah yang menjadi korban. Padahal, justru perempuan itu penyebabnya.
"Yah ... Mama tau sendiri kemarin," sahut Sheli berpura-pura sedih.
"Maafin Mama yang sudah membawa perempuan itu kemari. Mama pikir, dia perempuan baik karna wajahnya sangat polos. Ternyata kita ditipu."
"Apa Yusha gak ninggalin pesan?" sela Tuan Mahendra.
"Enggak, Pa. Sheli telpon gak dijawab."
"Coba kalau Papa yang hubungi, siapa tau di jawab," kata Vivian. Mahendra lekas mengambil ponsel dan mencari nomor Yusha.
Vivian beralih pada Sheli. "Kamu rapi banget, memang ada jadwal potret?"
"Iya, Ma. Tapi masih ada waktu satu jam lagi, kok, jadi bisa nemenin kalian dulu."
Bi Mur datang membawa minuman dan menyuguhkan di depan mereka. "Silahkan di minum, Tuan, Nyonya."
"Makasih, Bi," ucap Vivian.
"Mama, udah sembuh total?
"Udah. Kemarin cuma syok aja, jadi ngaruh ke tekanan darah."
"Syukurlah Mama pulih dengan cepat. Maafin Sheli gak bisa nemenin, jadwal lagi padet banget," alasan Sheli. Padahal perempuan itu hanya sibuk memanjakan syahwat.
"Gak apa sayang. Tapi Mama mau ngasih nasehat, coba jadwal pemotretan dikurangi, S
siapa tau program hamilnya bisa sukses."
'Huh, hamil lagi, hamil lagi yang dibahas. Dasar nenek-nenek bawel, ngeselin.' Sheli mengumpat dalam hati.
"Karir Sheli masih bagus-bagusnya, sayang kalau harus nolak job. Doain aja program hamilnya berhasil tanpa mengurangi job pemotretan," ujar Sheli. Perempuan itu piawai dalam berbohong dan bersilat lidah.
"Gak dijawab juga sama Yusha. Entah kemana anak itu." Mahendra berucap.
"Apa mungkin ada kerjaan mendadak?" tebak Vivian.
"Mungkin saja." Mahendra menyetujui. "Menjadi pemimpin perusahaan memang harus siap pergi dadakan."
"Kenapa gak nelpon Kevin? Dia pasti tau jadwal kerja Yusha, apa ada penerbangan atau enggak," cetus Vivian.