
"Bukan tega atau gak tega, Bu. Tapi aku harus bantu apa?!" Niar berkedip pelan, sungguh ia lelah berada di posisi ini. Setiap ada masalah, keluarganya seolah mendesak perempuan itu yang harus menyelesaikan.
"Suamimu 'kan kaya, coba kamu minta bantuan dia."
"Bu, masalah keluarga kita tolong jangan libatkan Tuan Yusha. Harus berapa kali Niar ingetin, Bu ... di sini aku cuma di anggap pembantu, bahkan ... mungkin lebih rendah dari itu." Niar menunduk, menggigit ujung bibir yang bergetar. Tak kuasa menahan cairan bening yang lolos begitu saja.
Selama ini tidak ada yang tahu, betapa tersiksanya ia menjalani hidup dalam diam tanpa mampu menyuarakan apapun yang dirasa. Saat Sheli memaki karna sampai dua bulan belum juga ada tanda-tanda hamil. Saat perempuan itu sedikit cemburu karna Yusha sedikit terang-terangan memberi perhatian padanya. Maka setiap Yusha pergi, dan Sheli masih berada dirumah, maka jam-demi-jam takkan membiarkan ia beristirahat.
Mundur. Ia ingin mundur dari perjanjian yang hanya menguntungkan belah pihak, tapi berpikir ia hanyalah seonggok daging yang tak memiliki kuasa untuk melawan mereka. Terutama hati, setiap Yusha memberi sedikit perhatian maka hati itu secepatnya meleleh. Meskipun ia ingin menolak dan mencoba membentengi diri, tapi pesona Yusha lebih kuat mengalahkan hatinya.
Satu pria yang memperlakukannya dengan baikpun, akhir-akhir ini sering mengusik dengan pertanyaan 'apa kamu belum hamil?' Sedih, ia sangat sedih saat menjawab pertanyaan itu dengan gelengan kepala maka bingkai gambar Yusha akan berubah sedih, marah bahkan ada emosi.
Ia ingin berteriak, ingin menyuarakan apa yang dirasa. Ia ingin memberitahu jika seonggok daging ini memiliki hati dan perasaan. Ia ingin dihargai, meski keberadaanya belum bisa memberi kebahagiaan. Karna hanya Tuhan yang mampu memberi kehidupan dalam rahimnya. Jangankan orang lain, ia pun tak mengerti kenapa sampai hari ini belum hamil.
"Bagaimana yang kamu maksud rendah? Kamu bukan selingkuhan, bukan istri siri. Kamu itu sah menjadi istri kedua," jelas Sumiati. Perempuan paruh baya itu geram dengan anak keduanya yang terlalu polos. Apapun mengandalkan hati, tanpa berpikir materialistis. Tapi karna kepolosan dan kebaikan hati Niar, ia bisa mengandalkan apapun padanya.
"Walau aku sah menjadi istri kedua, apa aku bisa mengatakan itu pada semua orang? Aku disembunyikan, Bu. Tidak ada yang boleh tau, siapa aku. Lalu apa gunanya menjadi istri kedua? Bisakah aku meminta apapun dengan adil? Bisakah aku menuntut banyak hal?! Pernikahan itu sah agar anak yang aku lahiran nanti kuat secara hukum," sanggah Niar. Airmata terus menganak sungai disudut matanya.
"Ibu sudah bilang, pintar-pintar kamu aja manfaatin kesempatan menjadi istri kedua seorang Yusha, jika kamu sudah melahirkan ... kamu bakal pergi dari rumah ini. Pada saat itu, harusnya kamu sudah berhasil menjadi perempuan kaya," sentak Sumiati dengan kesal. Geram, selain bodoh, anak keduanya itu selalu keras kepala.
"Astagfirullah hal'adzim ... Niar gak tau harus katakan apalagi pada Ibu, tentang posisiku di rumah ini. Ibu gak tau apa yang aku jalani. Yang jelas, sekali lagi Niar tekankan, tolong berusahalah jangan libatkan Tuan Yusha untuk masalah keluarga kita." Niar menyorot mata ibunya dengan iba, berharap sang ibu tak lagi menekannya dalam situasi yang tidak diinginkan.
"Terlepas dari statusmu, hanya kamu yang bisa menolong Nesva. Ibu harus minta bantuan siapa? Apa Ibu harus gadaikan rumah lagi demi Nesva?"
Niar melengos, kesal, sedih, kecewa, marah, semua menumpuk bercampur menjadi satu. Kenapa hanya Nesva, Nesva dan Nesva yang ibu bela sampai titik terendah sekalipun. Tidak sekalipun ibu memandang keadaan dan kepahitan yang dialaminya. 'Aku disini lebih menyedihkan dari nasib kakak, Bu.' Ingin berteriak seperti itu. Tapi hanya airmata yang mampu menggambarkan kepiluannya.
Tak sedikitpun hati Sumiati bergetar dan merasa kasihan melihat Niar terisak. Sudah sering melihat anak keduanya itu menangis, tak ada pengaruh apa-apa dalam jiwa keibuannya. Mungkin berbeda dengan Nesva, jika itu adalah Nesva, Sumiati akan segera memeluk dan mengupayakan apapun agar Nesva berhenti menangis. Perbedaan kasih sayang yang sangat jauh.
"Kamu bisa meminta bantuan pada Yusha, minta uang agar Nesva bisa mengembalikan uang perusahan. Tidak banyak ... Hanya lima puluh juta." Bahkan Niar masih terisak pilu, tapi Sumiati tak sabar mendesak Niar agar mau membantu putri kesayangannya.
"Ya Allah, Bu. Sebenarnya kebutuhan Kak Nesva itu apa? Kenapa selalu menghamburkan uang sebanyak itu?!" pekik Niar. Ia tak habis pikir tentang ibu dan kakaknya yang sering memakai uang apapun demi menuruti gaya hidup. Tanpa berpikir akhirnya seperti apa.
"Niar gak bisa bantu, Bu. Maaf," ucap Niar.
"Kenapa kamu langsung menolak membantu kakak kamu, Niar! Kamu belum berusaha. Ayolah, coba kamu bicara sama Yusha," desak Sumiati belum menyerah. "Dia pasti membantumu."
"Tidak!!!"
Deg ...
Kedua wanita berbeda umur itu dikejutkan oleh suara bariton yang tiba-tiba terdengar di indra pendengaran mereka.
"Tu-tuan .... "
"Yu-sha .... "
Yusha menatap tajam pada Sumiati. Meskipun wanita paruh baya itu ibu mertuanya, namun seorang Yusha tidak menganggapnya begitu.
"Tidak ada bantuan apapun untuk Ibu atau anak manjamu itu," tegas Yusha dengan dingin. Lelaki itu berjalan menuju sofa tunggal dan duduk di sana.
"Na-k Yu-sha .... " Sumiati terbata. Lidah yang tadi berkata dengan tajam kini terbata dan terasa kelu saat berhadapan dengan Yusha. Lelaki itu tak beralih menatapnya tajam.
"Biar saja dia menanggung akibat yang diperbuat." Lelaki itu melonggarkan dasi yang melilit lehernya.
"Ta-pi, Nak Yusha ... Ibu minta tolong, untuk kali ini tolong bantu kakaknya Niar. Jangan sampai dia masuk penjara." Bukan hanya mengiba, mata Sumiati mulai berkaca, takut jika pria dihadapannya itu tidak mau membantu. Lalu bagaimana nasib Nesva?
"Kakak? Apa selama ini kalian menganggap Niar adiknya Nesva? Bahkan Ibu sendiri pernahkan menganggap dia sebagai putrimu? Harusnya Ibu malu datang dan meminta bantuan padanya." Yusha melihat kearah Niar lalu beralih pada Sumiati.
Niar mendongak, tidak menyangka Yusha berkata seperti itu. Selama ini berapa kalipun ia menanyakan pertanyaan yang sama tapi tak pernah Sumiati meladeni.
Sedangkan pertanyaan Yusha barusan bagai kata skak mat hingga Sumiati bungkam seribu bahasa.