
Yusha berbalik, Niar yang terkejut reflek memundurkan kepala ke belakang.
"Kamu dapat cerita dari mana? Baru ini saya denger orang terluka gara-gara malam pertama,"
"Itu cerita dari temen saya," balas Niar.
"Malam pertama gak seseram yang kamu bayangin, dan gak begitu mengerikan seperti yang kamu takutkan."
Niar menatap Yusha dengan pandangan tidak percaya. Bisa saja lelaki itu membohonginya.
"Kamu dengerin saya, malam pertama memang awal untuk memulai sebuah hubungan. Mungkin untuk pertama sedikit kesakitan, tapi rasa sakit itu akan terganti dengan sebuah puncak kenikmatan."
Perkataan Yusha membuat rona di pipi Niar memerah. Jika lampu utama menyala, Yusha bisa melihat semerah apa wajahnya. Niar malu mendengar kata-kata yang di ucapkan Yusha, baginya terlalu vulgar.
Tapi nyatanya mata Yusha bisa melihat wajah Niar yang malu-malu, menggemaskan. Keduanya saling berhadapan dengan posisi sama, bisa melihat wajah satu sama lain. Tatapan Yusha menyelami bibir Niar yang merona seolah siap untuk di hi sap madunya.
Niar mengalihkan pandangan agar tidak bertabrakan dengan mata Yusha yang mana semakin membuatnya malu.
"Percayakan padaku, aku akan melakukannya dengan pelan," ucap Yusha meminta.
Bola mata Niar bergerak kesana kemari sedang berpikir, belum memulai tahap awal tapi suhu badannya berubah panas dingin. Berbeda dengan telapak tangannya yang berkeringat dingin.
"Sudahlah kalau kamu tidak percaya," Yusha merajuk kembali dan ingin berbalik. Tapi gerakan Niar cepat menarik baju tidur yang di kenakan suaminya.
"I-iya Tuan, mari kita coba. Tapi pelan-pelan dan jangan paksa saya. Saya takut," ucap Niar.
Kekesalan Yusha hilang seketika, bibir lelaki itu menyunggingkan senyum tipis.
"Ta-pi saya tidak tau harus bagaimana," sambung Niar.
"Kamu gak usah ngapa-ngapain, biar saya yang bekerja," balas Yusha dengan menggeser tubuhnya kembali.
"Kok begitu? Katanya Tuan ingin melakukan malam pertama, kenapa malah bekerja? Apa pekerjaan anda tadi belum selesai?"
Yusha melongo, lalu menepuk dahinya pelan. Bisa-bisanya di saat seperti ini, gadis itu melawak. Dia yang mulai on harus turun lagi gara-gara Niar yang tidak paham dengan perintahnya.
"Kamu cukup diam dan biar saya yang mengawali. Oke!"
Yusha lebih mendekatkan diri pada Niar, sejenak mengamati wajah Niar yang gugup tapi masih terlihat meneduhkan. Perlahan wajah Yusha ingin mendekati wajah Niar, terasa tangan gadis itu bergetar menyentuh dadanya. Tangan Yusha menggenggam kedua tangan Niar untuk memberi rasa nyaman.
"Tu-tuan," Wajah Yusha semakin dekat dan hanya tinggal beberapa centi saja.
"Sstt," Yusha memberi kode pada Niar agar diam saja.
Saat bibir Yusha menempel pada bibir Niar, tubuh itu menegang kaku juga matanya terpejam erat. Dalam genggaman Yusha, tangan Niar mengepal kuat. Ingin berontak tapi sekuat tenaga ia tahan. Ia menyadarkan pikirannya bahwa ini memang tugasnya melayani kebutuhan suaminya.
Dengan pelan dan sentuhan lembut, bibir Yusha mulai menggigit kecil pinggiran bibir Niar. Gadis itu diam saja tanpa merespon. Yusha melanjutkan untuk menerobos masuk mengabsen rongga mulut itu tapi Niar tak juga membuka mulutnya. Yusha menggigit sedikit keras, pada saat Niar terkejut dan ingin berteriak Yusha memanfaatkan kesempatan untuk segera memasuki mulut Niar dan memberikan ciuman dalam, dalam, dan semakin dalam.
Niar yang awalnya asing kini mulai lengah dan membiarkan Yusha menjelajahi mulutnya. Keringat dingin perlahan mulai menghangat, kini mulai menikmati pertukaran saliva mereka.
Ketika tangan Niar tidak terlalu bergetar, Yusha melepas genggamannya dan beralih memegang bahu Niar tapi gadis itu kembali menegang. Terpaksa Yusha menghentikan ciumannya. "Jangan terlalu tegang, rileks aja," bisik Yusha pelan.
Kali ini Yusha melepas jilbab instan yang menutupi kepala Niar, awalnya gadis itu menolak, tapi Yusha berbicara pelan agar Niar kembali luluh.
Saat rambut panjang itu mulai terlihat, tatapan Yusha sejenak terpaku. Ternyata istri keduanya itu lebih cantik ketika melepas hijab yang selalu dipakainya. Tanpa sadar Yusha terpesona dengan kecantikan Niar yang tersembunyi. Gejolak jiwa memanas kini semakin membara, tak sabar ingin segera menikmati madu manis milik gadis belia itu.
Ciuman Yusha turun menjelajahi leher jenjang, putih mulus dan sangat menggiurkan. Tubuh Yusha mulai mengapit tubuh Niar, jemari tangannya sibuk membuka kancing baju hingga terbuka semuanya. Tapi perjuangan Yusha tak sampai di situ, ia harus membuka beberapa baju lagi yang membungkus tubuh Niar.
"Tu-tuan," panggil Niar lirih seperti *******. Kecupan di leher mampu membangkitkan gelenyar aneh pada diri Niar. Hingga perempuan itu mulai sulit mengontrol pikiran normalnya. Ia jatuh dalam buaian seorang Yushaka.
"Nikmati malam kita, sayang," bisik Yusha dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
Butuh perjuangan ekstra, akhirnya Yusha berhasil membuang suruh benang yang menempel pada tubuh Niar. Gadis itu menggigil kedinginan dan sangat malu saat Yusha memandangnya dengan tatapan kelaparan. Tak tahan, Niar menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Jangan di tutup, biar aku melihatnya,"
Niar menggeleng tanpa mau menjawab. Yusha beralih membuka pakaiannya sendiri hingga semua tanggal dari tubuhnya.
Niar ingin menjerit dan menangis kencang saat Yusha kembali mengapit tubuhnya. Dan kulit mereka saling bersentuhan menjalari kehangatan yang mungkin sebentar lagi menjadi lahar panas dan siap meledak.
Yusha mengulangi langkah awal lagi agar Niar kembali memanas, ia benar-benar harus ekstra sabar agar Niar merasa nyaman dan tidak ketakutan.
"Ssstt, Tu-tuan." Suara Niar terdengar aneh tapi membuat Yusha semakin bersemangat. Tangan yang sudah lihai itu menemukan harta karun sangat tersembunyi, ia harus pelan-pelan memegangnya.
Tubuh Niar menegang hebat pertanda telah sampai pada batas permainan. Yusha tersenyum senang saat jemarinya semakin hangat. Ia tahu ini saatnya pertempuran yang sesungguhnya. Pisang emas miliknya telah siap masuk ke dalam mulut goa yang di lindungi.
Sudah bersentuhan, tapi Niar berontak. "Aku takut,"
"Gak akan sakit,"
"Tapi ... "
Bibir Niar kembali di bungkam agar terdiam, ia yang sudah berada pada final tak bisa mundur lagi. Harus segera menuntaskan lahar panas yang hampir meledak.
Sangat sulit menerobos gua itu, berkali-kali pisang emas milik Yusha meleset tanpa mengenai sasaran.
Yusha bekerja keras, saat itu tangan Niar mencakar apapun yang di jangkau tangannya.
"Tuan sakit ..., " pekiknya.
"Tahan sebentar, nanti akan hilang."
Setelah berhasil menerobos masuk, airmata Niar keluar membasahi sebelah sisi mata. Perasaanya bercampur sakit, sedih, sesal tapi tak terlupakan.
Setelah cukup beradaptasi, Yusha mulai melakukan aktivitasnya dengan pelan. Menikmati setiap sentu han yang di rasa. Kenikmatan dunia yang membuatnya lupa akan hal lain. Bahkan bayangan Sheli sudah memudar tak di ingatnya lagi. Yang ada hanya keindahan untuk malam ini. Kehebatannya menakhlukan gadis polos dengan kerja keras dan usaha panjang.
.
.
.
.
.
Maafkan akak mei yang benar-benar tidak bisa lebih dari ini. Ada banyak pertimbangan di setiap kalimatnya. Semoga kalian gak kecewa.😢