
Pluk ...!!!
Sheli melempar secarik kertas di atas meja kerja Yusha. Pria yang tadinya sibuk mengamati layar laptop kini beralih menatap sang Istri yang menatapnya dengan kemarahan.
Pria menggunakan kemeja lengan pendek itu nampak santai, jemari tangan menggaruk alis tebalnya yang tak tahu sungguhan gatal atau ingin mengalihkan pandangan dari Sheli.
Melihat raut kemarahan di wajah Sheli membuat Yusha dapat menebak apa penyebab perempuan itu terlihat murka.
Yusha mengambil cangkir kopi yang mulai dingin, ia seruput dengan pelan dan kembali menaruhnya di atas meja. Benar-benar tak menanggapi Sheli dengan serius.
"Yusha ...!!!" pekik Sheli geram.
"Apa?" jawab Yusha masih dengan nada datar. "Kamu bisa baca sendiri isi surat itu, kan?" Bibir Yusha terangkat tipis. Manik mata tajamnya melihat pada kertas yang dilempar Sheli tadi.
"Apa ini! Tiba-tiba ada surat sidang pengadilan?! Kamu gugat cerai aku?!" Sheli lekat menatap manik Yusha. Menanti jawaban dari pria di depannya yang masih saja terlihat santai, seolah tidak terjadi apapun.
"Ya, aku yang gugat kamu ke pengadilan. Aku ingin kita cerai!"
"Kenapa?! Kenapa tiba-tiba kamu menggugat cerai? Apa karna aku belum bisa hamil?! Egois kamu, Yusha!" tuding Sheli di depan wajah Yusha, "aku rela meninggalkan karirku, meninggalkan dunia yang selalu menjadi impianku. Bahkan sekarang aku hanya sebagai istri rumahan yang hanya melayanimu, semua itu kulakukan demi memenuhi keinginan kamu. Lalu, apa yang kudapat? Seperti ini balasanmu?! Kamu justru mengirim gugatan cerai tanpa diskusi denganku!" teriak Sheli mulai tak bisa menguasai emosi.
"Kamu jahat, Yusha! Kamu EGOIS!!!" Derai air mata mulai deras membanjiri pipi Sheli.
Kamu memang sangat lihai berakting, Sheli. Kalau gak tau kebusukanmu, banyak yang simpati melihat tangisanmu. Cih, menjijikan. Dasar wanita munafik! batin Yusha menahan emosi supaya tidak terpancing untuk meladeni akting Sheli.
"Kamu yakin ... semua demi aku?"
"Apa lagi maksud kamu? Lalu demi siapa?" tantang Sheli.
"Pernikahan kita hanya ada pertengkaran. Aku lelah berdebat denganmu. Dan, bukan hanya aku yang egois. Kamu lebih egois, Sheli. Daripada tidak ada ketentraman, lebih baik kita akhiri pernikahan ini."
"Seenaknya kamu bilang kita akhiri pernikahan ini! Kamu lupa bagaimana kamu selalu menuntutku, ini dan itu? Ingat, banyak yang kukorban demi kelangsungan pernikahan kita. Lalu dengan mudahnya kamu mau kita berakhir? Di mana kata-kata cintamu yang ingin sehidup semati. Liatlah, aku belajar berubah demi kamu. Pikrikan, jangan cepat mengambil keputusan. Rumah tangga kita masih bisa dipertahankan. Oke, kalau kamu berpikir aku mandul, kita bisa adopsi bayi. Jika kamu ingin keturunan dari darah dagingmu sendiri, kita lakukan prosedur bayi tabung sampai berhasil," papar Sheli.
Ya Tuhan, bagaimana Kau ciptakan wanita semunafik ini. Dia mengemis seperti ini hanya demi hartaku. Ck ... dasar wanita gila harta. Andai aku tunjukan bukti yang aku dapat kemarin, kamu gak akan bisa menyanggah.
"Aku ingat. Tapi mau bagaimana lagi, rumah tangga kita terasa hambar. Semua sudah aku pikirkan, dan menurutku perceraian jalan terbaik."
"Tidak Yusha! Aku gak ingin cerai!!"
Sial!!! Ada apa dengan pria idiot ini tiba-tiba menceraikanku. Kalau sampai Jerry tau, dia akan marah besar! Saat seperti ini pun yang dipikirkan perempuan itu justru tentang Jerry.
"Sampai ketemu di pengadilan," kata Yusha enteng, lalu melenggang pergi melewati Sheli yang bernapas tersengal menahan amarah.
"Yusha!!!" Sheli mengejar langkah Yusha yang hampir meraih handel pintu.
Rahang kokoh Yusha mengeras, telapak tangan terkepal, sebisa mungkin menahan diri tidak sampai menyakiti perempuan dihadapannya.
Yusha sangat malas mendebat, pria itu tetap melanjutkan langkahnya.
Selepas pria menyebalkan itu pergi, amarah Sheli makin menyeruak untuk diluapkan. Perempuan mengenakan kaus kerah rendah itu kembali ke kamar dan mengacak isi kamar.
Yusha yang mendengar teriakan Sheli tak perduli, pria itu menuju lantai dasar dan lebih nyaman berada di kamar yang dulu pernah di tempati oleh Niar.
Keadaan tidak baik saja, namun malam ini ia merasa tenang. Entah karena apa, tetapi seolah semesta menenangkan hatinya. Ketika membuka jendela, angin meniup jauh memandu aroma tubuh seseorang yang amat dirindukan.
Yusha memejamkan mata merasai bayang kenangan sewaktu ia masih bersama Niar. Rindu yang tercipta makin mengemban ingin tersalurkan, namun ada satu yang menggangu pikiran.
Siapakah pemuda yang waktu itu menggenggam dan membawa Niar pergi?
Ia mencoba menebak namun hatinya tak terima, lalu segera ia tepis jawaban yang tidak penting. Ia yakin, perempuan yang selalu bersikap sabar itu tak mungkin secepat itu menerima kehadiran sosok lain. Mungkin saja pemuda itu hanya teman, bukan pacar atau suami.
Jika suami tentu saja bukan, karena sampai detik ini ia tak pernah mengurus perceraiannya ke pengadilan. Juga tak pernah mendapat kiriman surat dari pengadilan. Jadi, secara hukum mereka belum berstatus cerai.
Justru pernikahannya bersama Sheli yang lebih dulu akan berakhir.
•
"Niar, kamu udah bersiap belum?" tanya Sakky.
"Udah Mas, besok berangkat pagi, kan?" jawab Niar yang kembali melempar pertanyaan.
"Iya, jam 7 kita udah berangkat biar sampek Jakarta gak kesorean."
"Hati-hati ya, Nduk. Kandunganmu di jaga, jangan sampek kenapa-napa. Entah sungguhan atau mitos, kata orang ... kalau kandungan berusia 8 bulan itu malah sangat rentan, dia kembali muda lagi seperti umur 6 bulan, jadi harus extra hati-hati menjaga calon anakmu." Mbok Jamu berpesan.
"Iya, Mbok, insyaallah Niar akan menjaganya dengan baik." Tangan Niar mengusap dengan lembut, merasai gerakan-gerakan kecil yang membuatnya sangat bahagia.
Saat Mbok Jamu dan Sakky pulang ke rumah mereka, Niar tak lantas terlelap. Justru pikirannya tak bisa terhenti dari bayangan Yusha. Entah seperti apa esok hari ketika datang kembali ke rumah itu. Rumah yang menyimpan rentetan kenangan indah, pun kenangan sakit hati.
Hati Niar bergolak, satu sisi ingin berjumpa dengan Yusha. Namun satu sisi lain semoga ia tak menjumpai sosok pria itu. Ia bimbang dengan keadaan.
Pandangan Niar turun ke bawah, menatapi perutnya yang menggembung menyerupai bola besar. Anak yang dikandung hampir terlahir ke dunia, tetapi ayah biologisnya tak mengetahui tentang kehadirannya. Miris.
Tetapi hal itu juga yang diinginkan, ia tak menyalahkan siapapun. Ia yakin, suatu saat tabir Tuhan lah yang akan mengungkap semua kebenaran dengan jalan indah.