Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 35


"Pergi sana bikin minuman," usir Vivian ketus.


Niar memilih membalikan tubuh tanpa melihat ke arah Yusha atau Vivian. Mereka tidak boleh tahu jika kedua bola matanya sudah memupuk cairan bening dan siap tumpah kapan saja.


Berjalan pelan dengan menahan rasa sakit di pangkal pahanya yang sejak pagi belum juga hilang. Perempuan itu hanya bisa menggigit ujung bibir untuk menahannya. Apalagi Vivian sering menyuruh untuk melakukan sesuatu, ia sama sekali tidak bisa beristirahat.


Niar menyandarkan diri di samping lemari pendingin, kedua tangannya segera membersihkan sudut mata yang tergenang air. "Kenapa aku menangis? Tidak ada yang salah dengan ini," ucapnya lirih. "Apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini, Niar! Statusmu tetap menjadi pembantu! Ingat, itu!" Ia memperingati dirinya sendiri.


Menarik napas dan membuangnya pelan, ia memijat punggung dan leher belakang yang terasa pegal. Badannya terasa meriang. Tapi nyonya Vivian tak membiarkannya beristirahat.


Tiba-tiba di kejutkan dengan kemunculan Yusha. "Tu-tuan, maaf saya kelamaan. Tunggu sebentar, biar saya buatkan minuman." Ia mengira kemunculan Yusha karna meminta minuman yang tadi di suruh Vivian. Perempuan itu segera mengambil dua cangkir untuk membuat minuman.


Yusha merasa kasihan melihat Niar yang nampak kelelahan. Ia mendekat dan meraih cangkir yang di pegang Niar dan membuat minuman sendiri.


"Tuan," protes Niar.


"Kamu belum istirahat?"


"Tidak pa-pa, saya baik-baik saja." Niar menunduk mengindari tatapan Yusha yang mengarah padanya.


"Sebentar lagi Mama akan pulang, kamu bisa istirahat," ucap Yusha meneruskan menuang air panas ke dalam cangkir yang tadi. "Jangan banyak bicara dengan Mama, moodnya buruk, kamu bisa kena imbasnya," pesannya. Dan di jawab anggukan oleh Niar.


Setelah selesai membuat minuman, Yusha membiarkan Niar untuk mengantar minuman itu ke ruang tengah agar Vivian tidak curiga. Lagi-lagi merasa kasihan melihat Niar berjalan dengan susah payah. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan.


Niar menaruh nampan di atas meja, memindahkan cangkir berisi teh di depan Vivian. "Kamu bikin minuman lama banget. Apa pekerjaanmu setiap hari begini? Saya bisa nyuruh Nila buat ganti kamu dengan pembantu baru. Mentang-mentang anak saya jarang di rumah, kamu mau enak-enakan," tukas Vivian.


"Tidak Nyonya, maaf. Hari ini kurang enak badan, jadi pekerjaan saya sedikit lambat."


Tanpa di duga Vivian menjulurkan tangan menyentuh dahi Niar. "Suhu badan kamu normal. Alesan kamu aja itu."


"Tidak Nyonya, badan saya seperti mriang. Setelah enakan, saya janji akan bekerja dengan baik. Tolong jangan ganti dengan orang lain, saya masih membutuhkan bekerja di sini."


Vivian mendengus. "Ya sudah, sana istirahat. Nanti jangan lupa siapin makan malamnya Yusha."


"Baik Nyonya, terimakasih."


Yusha yang mendengar pembicaraan itu hanya mampu mengepalkan tangan. Telinganya terasa panas mendengar Niar mengiba pada mamanya. Ada perasaan tidak terima melihat Vivian memperlakukan Niar dengan kurang baik. Hanya dia yang tahu kondisi Niar sakit karna ulahnya semalam.


•••••••••••••••••


Sebelum maghrib Vivian sudah kembali ke rumahnya dengan di jemput Mahendra. Kedua orang dewasa itu sempat adu mulut sebentar sebelum Yusha menengahi dan mendamaikan keduanya.


Setelah selesai dengan damai, Vivian dan Mahendra pamit pulang. Yusha bernapas lega, ia bisa dekat dengan Niar untuk menanyai keadaannya.


Yusha membuka pintu kamar Niar dan melihat sosok itu sedang bersujud menyembah Sang Khalik. Ia melangkah pelan menuju sofa dan mendudukan diri di sana.


Lelaki itu melamun, memikirkan entah berapa lama ia tidak melakukan seperti yang di lakukan Niar. Ia terlalu sibuk mengejar dunia dengan jalan hidupnya yang tidak lurus.


Sejak remaja sudah menekuni pergaulan buruk, pergi ke kelab, berganti wanita sudah lama ia lakukan. Hingga bertemu Sheli di kelab malam dan melakukan hubungan itu hanya dengannya. Lalu memutuskan untuk menikah karna ia merasa hanya Sheli yang mampu mengerti dan membuatnya nyaman, dan tambahan bonus pintar memuaskannya di atas ranjang. Maka ia memantapkan diri untuk menjadikan Sheliana Rebbeca sebagai istri.


"Tuan ... " Panggilan Niar membuyarkan lamunan Yusha. Perempuan itu melipat mukena dan menaruh kembali di dalam lemari.


"Kemarilah," perintah Yusha. Niar berjalan dan duduk di kursi berbeda dari lelaki itu.


"Apa badanmu masih sakit? Biar aku panggil Reo buat periksa dan membawakan obat," kata Yusha.


"Tidak perlu, Tuan. Saya minum obat yang tadi di belikan mbak Sari. Tapi badan saya masih sedikit kaku, makanya gak bisa gerak cepat."


"Emang kamu mau ngapain gerak cepat?" Sudut bibir Yusha naik.


"Maksud saya gak bisa melakukan apapun dengan cekatan. Wajar sih Nyonya besar tadi marahin saya terus, emang kerjaan saya lelet."


Yusha menghembuskan napas. "Jangan di ambil hati perkataan mama. Sudah ku bilang, kalau moodnya buruk, semua pekerja bakal kena imbas. Tapi kalau moodnya baik, tanpa bekerja kamu akan dikasih uang cuma-cuma sama mama."


"Benarkah?" Yusha mengangguk.


"Kira-kira kapan mood nyonya besar baik?" tanya Niar. Dahi Yusha mengernyit. "Kalau moodnya baik, saya akan dekati nyonya biar dapet uang tanpa bekerja," imbuh Niar dengan senyuman. Bibir Yusha ikut mengembang tipis. "Kamu juga bisa dapet uang gratis dariku, tanpa bekerja. Malah aku yang akan bekerja untukmu," balas Yusha dengan senyum jahil.


"Huh ... kok bisa begitu?" bingung Niar. "Memang Tuan akan bekerja apa untukku?"


"Aku akan bekerja di atas ranjang untukmu." Melihat Niar kesal dan cemberut membuat Yusha tergelak. Ia sekarang punya kesenangan baru, yaitu menjahili istri keduanya yang polos.


"Tuan ... ih, gak lucu!" sentak Niar kesal. Keduanya pipinya langsung berubah memerah.


Saat asik berdua, terdengar suara bel rumah berbunyi. Niar segera beranjak keluar kamar untuk membuka pintu. Yusha juga mengikuti Niar.


Ceklek ...


Setelah pintu terbuka, orang yang berdiri di luar pintu menyelonong masuk dengan menarik kopernya. "Hola, Baby ... aku merindukanmu." Sheli berjalan menuju Yusha yang sudah duduk di ruang tamu, perempuan itu mendudukan diri di atas pangkuan Yusha dan menyerang bibirnya dengan rakus. Kedua tangan melingkari leher Yusha hingga lelaki itu terkunci.


Deg ...


Niar mematung di depan pintu, tertegun dan terpaku melihat pemandangan di depannya. Ia menelan ludah yang terasa pahit. Entah kenapa bola matanya memanas, dengan merasa nyeri di ulu hati. Kedua tangannya sampai bergetar menahan sesuatu dalam dirinya. Ia ingin menyangkal gejolak hati, bahwa harusnya ia biasa saja karna suaminya memang milik wanita itu, bukan seutuhnya miliknya.


"Sheli, jangan seperti ini," ucap Yusha setelah ciuman mereka terlepas.


"Kenapa Yusha?" tanya Sheli mengikuti arah tatapan Yusha yang menyorot pada Niar. Perempuan itu kembali bersuara. "Gak ada yang berubah, meski kamu sudah menikahi dia. Dia tetap asisten rumah tangga disini. Perjanjian kita cuma menyewa rahimnya. Jadi, tetap sesuka hati kita dong, Sayang. Abaikan dia," ucap Sheli santai.


.


.


.


.


.


Mumpung ada waktu ya, jadi akak mei ngebut up.🙏🙏