
Terhitung hampir enam bulan ketika kata 'sah' di ucapkan. Namun pernikahan yang dijalani tak ada kemajuan. Sampai detik ini perempuan berkulit putih itu belum juga hamil. Kendati demikian, Yusha tetap mempertahankan Niar berada disisinya.
Hari berlalu semakin menyenangkan bagi Yusha, tapi tidak untuk Sheli--si model cantik merajai internasional. Perdebatan dan pemikiran tidak sejalan kini mulai terjadi di antara keduanya. Sedikit besar model cantik nan cemerlang itu mulai terusik melihat kedekatan Yusha bersama Niar. Secara terangan Yusha menunjukan perhatian lebih pada perempuan kampung itu.
Sore ini, ketika si tampan berwajah tegas pulang dari kantor pertama yang dicari keberadaan Niar. Meski kaki panjangnya lelah namun tak henti menyusuri sudut ruangan demi mencari istri keduanya yang lambat laun memiliki ruang rindu tersendiri.
"Tumben hari ini tidak menyambut kedatanganku," ucap Yusha tiba-tiba dan mengejutkan Niar yang sedang duduk di ayunan besi.
"Tuan sudah pulang? Maaf, aku keasikan melamun sampai lupa waktu," kilah Niar menunduk menutupi sisa jalanan airmata dipipinya.
"Kamu kenapa?" Yusha bertanya karna menyadari bekas itu.
"A-ku ... kangen sama Ibu."
"Perjanjian kita satu minggu sekali kamu pulang ke sana. Hanya tinggal satu hari, besok lusa biar di antar Dedi untuk pulang. Nanti malam Sheli pulang, aku tidak bisa mengantarmu," terang Yusha.
Niar mencoba tersenyum meski ada sedikit rasa sesak, tetap yang utama adalah wanita itu--Sheli.
"Apa aku boleh menginap di sana?" tanya Niar penuh pengharapan. Mencoba peruntungan untuk meluluhkan Yusha.
Lelaki memakai jas abu-abu itu menggeleng tidak setuju. "Tidak. Paginya kamu dan aku akan ke rumah sakit untuk periksa keseluruhan."
"Maksudnya periksa keseluruhan?"
"Benar ucapan Sheli, mungkin ada yang salah dari kita. Rasanya aneh, menikah sudah 6 bulan tapi belum ada tanda-tanda kamu hamil. Aku berkonsultasi dengan Reo, dia menganjurkan kita untuk cek kesuburan. Nanti akan tau penyebab kamu belum hamil, di antara kita, kamu atau aku yang tidak subur," papar Yusha.
"Aku juga tidak tau kenapa belum hamil sampai sekarang. Padahal semua normal, mungkin Tuhan belum mempercayai kita untuk menerima amanah. Atau ... karna kita meminta secara paksa, Allah justru tidak suka. Atau juga Allah sedang menguji kesabaran kita."
"Sampai kapan Tuhan menguji kesabaranku? Umurku tidak muda lagi, aku ingin segera memiliki keturunan." Wajah yang terlihat lelah itu semakin muram. Binar kesenangan berapa waktu lalu menghilang terganti raut kecewa.
"Maafkan aku, Tuan. Sampai sekarang belum bisa memenuhi keinginanmu. Tapi, akupun tak pernah luput minta pada Sang Kuasa, agar mengabulkan keinginan Anda. Meminta supaya rahimku diisi makhluk bernyawa," ucap Niar tak kalah sedih. Selama enam bulan hidup bersama Yusha, lelaki itu bersikap sangat baik. Bahkan selalu ada untuk menjaga dan menguatkan hati yang sering rapuh.
Ia pun ingin menyenangkan Yusha dengan kabar baik darinya, tapi apa boleh buat, Allah belum mau menitipkan amanah meski disetiap sujudnya tak henti meminta.
•••••••••••
Seperti biasa, makan malam hanya di isi mereka berdua dengan candaan dan suara tawa yang menggelegar di dalam ruang makan. Ya, mereka sudah sedekat itu. Terkadang seperti teman, sahabat, ayah dan anak, juga seperti musuh--bertengkar seperti anak kecil--mengejek satu sama lain.
"Kamu makan kayak anak kecil," ejek Yusha.
Niar mengerut, "Kayak anak kecil, gimana?" tanyanya bingung.
"Itu, ada sisa makanan blepot di pipimu," tunjuk Yusha.
Niar mendenting sendok ke atas piring, lalu mengusap pipi kanan dan kirinya. "Mana ... gak ada!" sungutnya merasa kesal ketika melihat Yusha malah tergelak. Berati lelaki itu sedang mengerjainya.
"Sepuluh kali aku ngibulin kamu dengan trik yang sama, tetep aja kamu ketipu," ejek Yusha masih dengan gelak tawa.
"Setelah ini, kita nonton. Ada film baru yang aku unduh. Kelihatannya seru."
"Terserah Anda saja, Tuan."
Seusai menghabiskan makan malam, Yusha mengajak Niar ke suatu tempat. Di mana tempat itu kesukaannya bersama Sheli. Mereka berada di ruang bioskop mini.
Yusha menyiapkan segala sesuatu dan kembali duduk di samping Niar.
"Ini sama aja seperti nonton TV," ucap Niar melihat layar besar yang tertempel pada dinding.
"Iya sih, tapi kita bisa nentuin film apa yang mau di tonton."
Entah kebetulan atau memang sudah dipikirkan, lelaki itu memilih genre romance 21+. Niar yang tidak mengerti judul film, hanya menurut dan menikmati pertunjukan dilayar persegi itu.
Ketika adegan mulai menayangkan sesuatu yang lebih menjurus adegan ranjang, perempuan itu beralih menunduk. Jantung terpacu berdebar kencang dengan wajah bersemu.
Berbeda dengan Yusha yang diam-diam hanyut dalam imajinasinya. Lelaki itu bergeser duduk. "Hem ...." Berdehem untuk menyadarkan Niar. Tapi perempuan itu bergerak tidak nyaman saat tangan Yusha mulai berpindah di atas pundak.
"Tu-Tuan ...," panggilnya lirih masih enggan melihat layar di depannya.
"Hem ...,"
"Ganti saja filmnya ...," pinta Niar malu-malu.
"Kenapa? Itu bagus buat referensi malam kita," goda Yusha gemas.
"Ih ... geli!" Niar memberengut tidak suka. Walau sering berbuat seperti itu, tapi tidak menyukai kata fulgar yang didengar secara langsung.
Ya, Yusha tidak bisa memenuhi permintaan Sheli untuk menyentuh Niar sekali saja. Nyatanya jiwa kelelakiannya tak dapat ditahan ketika bersama Niar. Ketika Sheli tak ada, semua dikerahkan untuk perempuan lugu itu. Kebersamaan hampir setiap waktu membuat keduanya saling nyaman dan rasa canggung itu memudar.
Yusha mendekatkan wajah, lalu berbisik. "Sepertinya referensi itu sangat manjur."
Niar memundur dan memasang wajah ngeri.
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Bukankah malam ini Nona Sheli akan datang. Aku takut ...."
Yusha mundur beberapa senti. Terlihat menimbang, tapi apa boleh buat, sudah kepalang tanggung. Berhenti ditengah jalan pun tak mengenakan. Akal kalah dengan gelenyar aneh yang telah merasuk. Lelaki itu memilih maju melanjutkan sesuatu yang tak dapat ditahan. Kembali mendekatkan wajah untuk merasakan sentuhan lembut yang berjuang menuntut.
Perempuan itu bukan tak punya harga diri atau pendirian! Ia hanya menerima takdir yang digariskan Tuhan. Menjalani kehidupan sebagai istri kedua meski ada beban dan luka yang tetap dirasa.