
Malam menampilkan sunyi. Dengkuran serangga malam masih bernyanyi. Resah hati tak mampu ditutupi, hadir dalam benak untuk menghantui.
Bukan malam ini saja resah gelisah menghampiri, karena sejak kepergiannya, ketenangan jiwaku ikut menghilang.
Pria itu gelisah memikirkan Niar, sampai terbawa ke alam bawah sadar dan mengganggu tidurnya. Manik tajamnya terjaga mendadak. Keringat bercucuran menghiasi wajah tampan berbalut muram.
Yusha segera bangkit dari pembaringan lalu menuju kamar mandi. Tak berapa lama sudah keluar dengan ujung-ujung rambut yang basah. Melirik ke arah ranjang, sang istri masih pulas dengan mimpinya. Pria itu tak lantas kembali tidur, justru terus melangkah menuju balkon kamar.
Ketika pintu dibuka, angin malam menyapa seluruh tubuh, menimbulkan dingin tak terkira bahkan seolah tembus sampai ke tulang-tulang.
Pria yang hanya mengenakan kaus oblong meletakkan dua siku untuk bertumpu pada pinggiran pembatas balkon. Manik mata bergerak mencari obyek yang indah untuk dipandang. Menemukan gambaran bulan yang bersinar penuh. Langit hitam pekat bertabur ribuan bahkan milyaran bintang. Angin malam riuh menderu. Namun tak mampu menawar gelisahnya.
"Huft ...." Pria itu mengembus napas panjang. Bimbang, kini perasannya benar-benar dipasung kebimbangan. Seolah sulit untuk memilih tinggal untuk mencari Niar atau ikut pulang bersama Sheli, perempuan yang dulu sangat menawan, namun kini tampak biasa saja.
"Hidupku tak pernah sekacau ini! Gara-gara ide gila dari Sheli, aku berada disituasi ini. Bingung dengan perasaanku sendiri. Mungkinkah yang dikatakan Reo benar? Hatiku telah berpindah haluan? Tapi Sheli? Harus bagaimana hubunganku bersamanya? Tidak mungkin tiba-tiba aku mengakhiri hubungan pernikahan ini, semua akan bertambah runyam! Aaakhh ...." Yusha memekik tertahan. Ia takut membangunkan tidur Sheli.
Bagai seorang pengecut yang bersembunyi tanpa bisa menghadapi. Rumit. Apa yang dirasakan terlalu rumit untuk dijabarkan. Ia tak punya solusi untuk memecahkan teka-teki hatinya sendiri.
•
Perempuan dengan hati nelangsa menatap langit, linangan air mata tak jua surut dari beberapa jam lalu. Masih setia menemani lukanya.
Malam ini lebih perih dari malam-malam lalu. Hati dirajam kenyataan, bercucuran darah, begitu menyakitkan.
Tak pernah terbayang dan tak pernah meminta untuk dipertemukan kembali dalam keadaan demikian.
Aku di sini disiksa perasaan ini, namun kau di sana dihiasi bahagia. Bodohnya aku, bodohnya perasaanku, masih mendamba meski tahu kau tak pernah bisa kugenggam. Tuhan, sudahi sakit ini. Sudahi lara ini. Aku tak sanggup.
Kenapa cintanya ditumbuhkan, bila akhirnya tak terbalas?
Kenapa rindunya tak jua hilang, justru makin menyayat kalbu?
Apakah Dia tak pernah meridhoi lahirku, hingga selalu menakdirkan kesakitan?
Tok ... tok ...!!!
Ketukan daun pintu membuyarkan renungannya, Niar mengusap wajah demi membersihkan sisa air mata.
"Mbok?" Niar terkejut Mbok Jamu telah berdiri di depan pintu. "Apa Niar berisik sampek membangunkan tidur, Mbok?"
"Enggak. Mbok udah tidur tadi. Tapi Sakky yang bangunin Mbok."
"Mas Sakky?" bingung Niar.
"Kamu pasti susah tidur? Sakky nyuruh Mbok buat nemenin kamu."
"Niar gak apa, Mbok."
"Kamu selalu bilang gak apa, tapi kenyataanya kamu menangis sendirian. Ayo, Mbok temenin kamu sampai bisa tidur. Biar kamu gak kepikiran sama dia."
Niar mengizinkan Mbok Jamu untuk masuk kamarnya. Ia justru kepikiran dengan Sakky, bagaimana pemuda itu tahu jika ia belum tidur? Bahkan tahu jika ia menangis? Padahal kamar yang ditempati tidak berbatasan langsung dengan kamar Sakky, melainkan terhalang dengan kamar Mbok Jamu.
•
Pagi hari.
Sakky telah siap dengan pakaiannya. Pria itu membawa bungkusan dan menyodorkan di depan Niar.
Niar melihat bungkusan yang disodorkan lalu beralih menatap Sakky.
"Susu hamil. Tadi malam aku beli lagi, tapi pas pulang kamu udah tidur. Aku gak enak mau bangunin," terang Sakky menjawab kebingungan Niar.
"Bukankah Mas tau kalau saya gak tidur sampek tengah malam?" cetus Niar.
Pemuda itu tersenyum tipis, tidak mau menjawab dan beralih mengambil piring untuk sarapan.
Niar mengamati gerak Sakky, lalu ikut duduk di hadapan pemuda itu. "Makasih, ya, Mas. Nanti aku ganti," ucapnya tak ingin memperpanjang pertanyaan pada Sakky tadi.
"Santai aja." Sakky melihat Niar sebentar. "Hari ini gak usah ke toko," larangnya.
"Tapi aku jenuh kalau cuma di rumah terus."
"Gak inget pesen bidan?"
"Kalau di rumah, aku bakal kepikiran terus." Niar tak menjabarkan, pemuda yang sedang bermain dengan piringnya pasti tahu maksud jawabanya.
"Kalau ke toko tunggu si Mbok pulang mider, biar Mbok bantu kamu jaga toko."
"Kasihan Mbok udah capek keliling, masih harus bantu Niar jaga toko."
"Atau aku aja yang ijin cuti biar bisa bantu kamu jaga toko, kalau kamu mgerasa gak enak sama si Mbok?"
Niar melihat wajah Sakky, tepat saat itu Sakky juga melihat ke arahnya. Pandangan mereka bertemu sekian detik hingga Sakky mengalihkan pada meja makan dihadapannya. Keduanya canggung bila tak sengaja saling pandang.
Dari semalam Niar menebak perhatian Sakky. Pemuda itu sangat baik juga memberi perhatian lebih. Tidak mungkinkan pemuda itu berpikir lain?
"Gak usah, Mas. Kalau gitu sama aja aku bakal ngerepotin Mas."
"Keadaanmu saat ini memang harus merepotkan orang lain. Kamu gak bisa melewati semua sendirian, kamu gak bisa menjaga dia sendirian. Jangan pertaruhkan dia, demi rasa seganmu pada kami. Kami tulus membantumu. Gak usah sungkan," ujar Sakky serius. Dia yang dimaksud adalah calon anak Niar.
"Aku memang segan sama Mas dan si Mbok. Aku bukan siapa-siapa, tapi kehadiranku banyak merepotkan kalian. Maaf," ucap Niar tak enak hati.
"Weh ... tumben omonganmu bener, Le? Opo karna si Mbok menanak tiwul, makanya otakmu encer." Mbok Jamu menyahut dari pintu dapur.
"Biuh Mbok! Apa hubungannya menanak tiwul sama otak encer? Orang Sakky juga belum makan tiwulnya?"
Mbok Jamu terkekeh, lalu ikut bergabung duduk bersama mereka. Tidak menanggapi Sakky, tetapi beralih pada Niar. "Bener yang dikatakan Sakky tadi, Nduk. Kamu gak usah sungkan sama kami. Kami ikhlas membantumu. Kamu akan kesulitan melewati harimu sendirian, anggap kami keluargamu biar kamu gak terbebani rasa sungkan."
"Makasih ya, Mbok, Mas, atas kebaikan kalian. Mudah-mudahan Allah membalas dengan limpahan rahmat dan pahala." Mata Niar berkaca-kaca menatap Mbok Jamu dan Sakky bergantian. Entah apa jadinya jika ia tak bertemu dengan mereka, mungkin ia tak sanggup bangkit dari keterpurukan.
"Aamiin ...."