
Perempuan itu telah memilih jalan takdir. Membulatkan tekad untuk menjauh dari mereka-mereka yang menoreh luka. Namun, statusnya masih sah menjadi istri kedua seorang Yushaka Demitri, pengusaha muda pemimpin perusahaan Hugs Way.
Ia masih menimang, haruskah pergi secara diam atau menunggu lelaki itu mengucap talak.
Niar menghembuskan napas panjang. Memikirkan sang suami, tidak mungkin segampang itu meminta Yusha mengucap talak. Akan ada beda pendapat dan mungkin sedikit perdebatan.
Tapi, perempuan itu adalah seorang muslim, sedikit banyak tahu tentang pemahaman islam yang tidak membolehkan seorang istri pergi dari rumah suaminya tanpa seijin dari sang suami, karena hukumnya haram. Walau hanya dilakukan satu detik, tetap saja mendapat laknat dari Malaikat.
"Pak, sore ini kita akan kembali ke rumah Tuan Yusha," kata Niar memberitahu Dedi-supir pribadi di rumah Yusha.
"Bukannya Anda ingin menginap di sini selama 2 hari?" bingung Dedi.
"Tadinya begitu, Pak. Tapi, ada masalah yang harus saya selesaikan. Jadi, kita pulang nanti sore saja."
"Baiklah, Non. Saya siap antar kapan saja."
Dedi kembali ke mobil, lelaki berkisar umur 45 tahun itu lebih nyaman berdiam diri di sana.
Niar kembali masuk ke dalam rumah, mendekati Pak Bejo yang masih setia mendampingi Sumiati, duduk disisi ranjang.
"Kamu yakin, Nak?" tanya Pak Bejo dengan lidah kelu. Kembali meyakinkan bahwa Niar sangat tekad dengan keinginannya.
"Yakin, Pak."
"Dari bayi sampai sebesar ini kamu gak pernah jauh dari keluarga. Kamu tinggal di kota karna ikut dengan suamimu. Bapak tenang karna di sana ada yang menjagamu. Tapi, ke pergianmu kali ini tanpa siapapun. Bapak berat untuk memberi restu." Wajah tua Pak Bejo terbingkai dalam kesedihan. Sangat berat menyetujui keinginan Niar untuk pergi merantau ke kota lain. Si bungsu telah menjelaskan alasan kenapa ingin pergi merantau, tapi penjelasan yang didengar tak membuat hati tuanya melega. Tetap ada kekhawatiran besar yang melingkupi hatinya.
"Pak, Niar sangat yakin ingin pergi merantau. Walau tidak ada orang dekat yang menjagaku, tapi ada Allah, yang insya Allah selalu melindungi Niar."
"Kamu benar, Allah pasti melindungimu. Tapi ... masih ada ketakutan dan kekhawatiran tersendiri di hati Bapak."
Sumiati diam saja mendengar perbincangan keduanya, entah apa yang dipikirkan perempuan paruh baya itu.
"Bapak jangan terlalu khawatir. Bapak bisa nelpon Niar kapanpun. Kita masih bisa berkabar, Pak. Niar mohon, tolong restui keinginan Niar. Mungkin saja, di sana ... di tempat yang baru, putrimu ini bisa sukses dan mendapat hal baru yang lebih indah."
•••••••••••
Sore hari, Mobil Pajero Sport Dakar Ultimate 4x4 AT berwarna putih sedang menyusuri Jalan Tol di KM 46 Intan Urban. Mobil itu akan mengantarkan Niar kembali ke rumah Yusha.
Perempuan itu sekali lagi ingin meminta permohonan pada Yusha agar memberinya status baru sebagai seorang janda. Ia telah berkali-kali menimang keputusan itu.
Dan mencoba yakin dengan keputusan yang diambil, meski sakit, meski sulit, tapi ia yakin bisa.
Biarlah cinta tertekan tanpa bisa berkembang sempurna. Cinta tak harus memiliki, jika dipaksa pun akan saling menyakiti. Biarlah cintanya menjadi ujung rindu tanpa bisa bersatu. Namun, di dalam doa yang terus terpanjat akan selalu menyebut namanya--Yusha, Insya Allah. Karna hanya Allah pemilik hati setiap insan, dan maha membalikkan hati. Untuk sekarang hanya ada nama Yusha dalam hatinya, tapi tidak tahu jika Tuhan membalikkan lagi perasaanya. Biarlah takdir Tuhan yang akan mengatur.
Tak terasa perjalanan jauh terasa lebih singkat karna lamunannya yang panjang. Mobil yang di kendarai oleh Dedi sudah berhenti di depan gerbang dan tinggal menunggu penjaga untuk membukanya. Kini mobil itu sudah ada di depan rumah Yusha.
Baru saja melangkah masuk kedalam rumah, kedatangannya disambut hangat oleh Sheli.
"Wah, Nona tak tau malu datang lagi rupanya. Ngapain kamu pulang? Bilangnya mau nginap di sana. Huh ... bikin mood buruk!" cibir wanita itu berdiri dengan berkacak pinggang.
"Maaf Nona Sheli, saya memang bilang ingin menginap. Tapi, saya kepikiran dan ingin segera menuntaskan semuanya."
"Menuntaskan apa maksud kamu?" tanya Sheli masih bernada ketus.
"Saya ingin mengakhiri perjanjian kita," ucap Niar.
"Jangan bertele-tele, deh, to the poin aja."
"Saya ingin bercerai dengan Tuan Yusha. Anda bisa mencari wanita lain saja untuk melahirkan keturunan Tuan Yusha dalam waktu dekat. Waktu saya bersama Tuan Yusha sudah terlalu lama tapi sampai saat ini belum bisa hamil. Mungkin ada yang salah dari kami."
"Yang salah itu kamu! Pasti rahimmu bermasalah atau kamu memang tidak subur. Kalau Yusha, dia baik-baik saja, kami pernah periksa ke dokter. Kenapa aku tidak hamil sampai sekarang karna aku mengikuti program KB, sedangkan Yusha tidak bermasalah. Otomatis, kamulah yang tidak subur!" tuduh Sheli.
"Tapi bagus deh kalau kamu pengen cerai, aku juga muak liat kamu nempel terus sama Yusha, kalian bersenang-senang di belakangku. Apalagi kamu menikmati peranmu sebagai orang kaya baru, cukup ke enakan. Bagusnya kamu pergi jauh gak usah dateng lagi. Aku ikhlasin deh uang seratus dua puluh lima juta yang kamu pakai untuk menebus hutang keluargamu, yang penting kamu segera angkat kaki dari rumah ini." tambah Sheli.
"Untuk uang menebus hutang itu jika saya sudah punya rezeki, entah kapan waktunya pasti saya bayar."
"Nah, ini nih, yang gak aku suka dari kamu. Lama-lama kamu itu belagu! Miskin aja sombong! Kapan kamu bisa bayar uang sebanyak itu! Keluar dari rumah ini jangan bawa barang apapun termasuk barang-barang yang di kasih sama Yusha. Aku lebih ikhlas barang branded yang Yusha kasih ke kamu berakhir di kotak sampah, daripada kamu bawa pergi!"
Cairan bening yang mengaburkan pandangan telah berhasil lolos membasahi pipi Niar. Ia yakin, keputusan untuk meminta cerai memang tepat. Mengingat ucapan Sheli tak mampu lagi ia dengar. Semakin mengoyak harga dirinya.
"Saya berjanji, tidak akan membawa apapun selain barang saya sendiri. Anda bisa memeriksa saya saat kaki ini melangkah keluar."
.
.
.
.
.
Hay readers, akak mei mau tanya nih. Pendapat kalian gimana sih sama tulisanku ini. Sulit dipahami atau lebih enak dibaca? Kalian dapet feel-nya gak?
Akak mei dilema, mau lanjut apa aku stop disini. Merasa kurang yakin, karna sejauh ini, novel ini beda dari ceritaku yang lain. Disini banyak istilah yang aku pakai. Takut buat kalian bosan sama kalimat-kalimatnya.