
Mentari menyambut hari. Pagi ini sapaan hangat kembali mengudara. Namun kegelisahan hati enggan pergi. Masih ada puing yang tertinggal dari mimpi semalam.
Ia terlalu mengharap yang indah, hingga terbawa ke alam bawah sadar.
Memeluk erat dan menyandarkan beban pundak yang terasa berat. Lekat bayangnya makin tergambar, makin besar keinginan untuk berjumpa agar bisa tertenun di titian pelangi. Ia sangat merindu, mendamba pertemuan yang akan menentukan arah ke depannya.
Kembali mencoba berdamai dengan hati, jika kali ini takdir mengizinkan, niat yang dulu terberai telah ia kumpulkan kembali. Terlepas bagaimana nanti keadaanya, ia berharap kehadiran calon anaknya bisa diketahui oleh Yusha. Itu hanya harapannya, tetapi tak tahu tulisan Tuhan nanti seperti apa.
Niar memeluk tubuh gemuk Mbok Jamu yang sebagian tertumpuk lemak.
Mbok Jamu tak kuasa menahan lelehan air mata, jelas ada rasa berat melepas kepergian anaknya juga Niar.
Perempuan paruh baya itu tak pernah jauh dari Sakky, terasa ada yang hilang jika puteranya ikut pergi. Namun demi perempuan yang tengah hamil besar tak mungkin Mbok Jamu membiarkan Niar pergi jauh seorang diri.
"Hati-hati ya, Nduk. Jangan sampek terpisah sama Sakky. Kamu butuh seseorang untuk menjagamu," pesan Mbok Jamu.
Netra Niar juga mengeluarkan lelehan cairan bening, ia pun enggan meninggalkan Mbok Jamu, tapi jika semua lancar maka petang ini sudah kembali ke Yogyakarta.
Sakky yang telah bersiap di samping pintu mobil mengembus napas panjang. Bola mata bergerak ke atas merasa jengah. "Heh ... kita cuma pergi sehari, Mbok, bukan setaun! Astajim ... pakek acara pamit macam mau jadi TKW ajah!" Sakky memasang wajah masam.
"Walau cuma sehari tapi tetep bikin si Mbok kuatir lho, Le. Kamu jangan sampek lengah jagain Genduk Niar. Awas, kalo terjadi sesuatu, kamu orang pertama yang Mbok kejar!" omel Mbok Jamu.
"Yoh ... dikira maling pakek dikejar segala!" Pemuda itu mengusap-usap dahi. "Udahlah berangkat sekarang aja biar gak buang waktu," ujarnya.
Niar melepas genggaman tangganya, kaki yang terbungkus flatshoes cream mulai bergerak menuju mobil sedan putih yang kemarin sore disewa dari penyedia transportasi.
Perut Niar yang membesar tidak mungkin pergi mengendarai motor, jalan satu-satunya hanya merental mobil.
Perut yang besar dan terasa begah membuat sang calon ibu itu tak menemukan kenyamanan. Apalagi tentang hajat kecil yang tak bisa ditunda, hampir setiap area rehat Niar tak pernah absen untuk minta berhenti. Dan itu membuat perjalanan mereka cukup terhambat.
"Kamu tidur aja kalo capek," kata Sakky sewaktu Niat usai kembali dari toilet yang ada di lokasi SPBU.
Perempuan yang terlihat letih itu mengangguk.
Perjalanan panjang belum sampai pada tujuan, masih ada setengah perjalanan lagi yang harus mereka tempuh. Mata yang berat akhirnya terpejam. Meski tak menemukan lelap karena jantung berdebar tak menentu. Makin dekat perjalanan mereka maka jantung itu makin bertalu-talu.
Dua jam lebih, akhirnya mobil yang disetir Sakky telah memasuki kawasan perumahan elit. Sakky menghentikan di depan gerbang masuk, lalu pemuda itu membangunkan Niar.
"Udah sampek, Mas?"
"Sampek di gerbang masuk. Rumahnya yang mana?" tanya Sakky.
Niar melihat sisi kanan dan kiri. "Masuk lagi, nanti ada gerbang warna hitam dan rumah yang paling besar."
Sakky mengikuti instruksi, kembali melajukan mobil. Tak lama telah sampai pada ciri-ciri yang disebutkan tadi, kini mata Sakky melotot sempurna. "Ini rumahnya?" tanyanya tak percaya.
"Iya."
"Ayo turun!" ajak Niar.
Tak ada yang berbeda dari terakhir kali ia keluar dari rumah Yusha. Penampakan rumah megah namun terlihat sangat sepi dari luar.
Baru saja tangan mereka ingin meraih pegangan pintu mobil, tetapi terdengar bunyi klakson dari arah belakang mobil Sakky. Pemuda itu mencegah Niar turun dan segera menggeser letak mobil agar tak menggangu mobil yang akan memasuki gerbang.
Niar terdiam, ia tahu mobil siapa yang barusaja melintas dan masuk ke halaman rumah Yusha.
Buku tangan Niar mengeluarkan keringat dingin, bukti bahwa perempuan itu menahan gugup dan takut secara bersamaan. Jika bisa, rasanya lebih baik ditunda lebih dulu daripada takut kejadian waktu itu terulang lagi.
"Mas," panggil Niar parau, terlihat sekali ketakutan dari nada suaranya.
"Kamu kenapa?" Sakky mengamati wajah Niar. Ia bisa melihat kecemasan di wajah sendu itu, "jangan takut, tenang aja, aku bakal bersamamu. Kuatkan mentalmu, anggap ini terakhir kali menemui mereka. Ingat kamu datang untuk membayar hutang, jangan pikirkan hal lain."
Niar mengembus napas panjang, ia mencoba menguatkan diri untuk lebih berani. Yakin jika tidak akan terjadi sesuatu, lagipula ada Sakky yang pasti akan menjaganya.
Sakky tak membawa mobilnya masuk, ia biarkan mobil itu terparkir di depan gerbang. Ia dan Niar memilih berjalan kaki.
"Loh, Nona Niar?" sapa penjaga gerbang yang telah mengenal Niar.
"Iya, Pak." Niar tersenyum. "Apa Tuan Yusha ada di rumah?"
"Tuan Muda masih di kantor, Nona. Tapi Tuan dan Nona besar barusaja datang."
Niar melihat ke arah Sakky yang tidak paham apa-apa. "Ayo, Mas," ajaknya. Mereka berdua segera menuju rumah Yusha. Walau tuan rumah tidak ada, ia tetap akan memberikan itu pada Tuan Mahendra ataupun Nyonya Vivian.
"Mas, kita jadi apa enggak?" tanya Niar yang terlihat ragu. Tetapi Sakky tak sabaran, ia yang tak ada sangkut paut merasa tidak sabar ingin segera menyelesaikan urusan Niar agar tidak menjadi beban.
Pemuda itu menekan bel rumah. Selang tidak lama Vivian muncul.
"Ni-Niar ... ?" Vivian hampir membatu terserang keterkejutan.
"Nyonya," jawab Niar dengan tersenyum. Namun kaca-kaca telah terbentuk di pelupuk mata.
Menguasai keterkejutannya perempuan paruh baya itu menyerbu tubuh Niar dalam pelukannya. "Niar, maafkan saya. Tolong maafkan saya. Saya telah melakukan kesalahan padamu. Maafkan saya, Niar," ulang kali Vivian mengucap maaf. Perempuan itu telah menumpahkan tangis.
"Nyonya, Anda tidak pernah bersalah. Kenapa harus minta maaf."
"Perempuan muraha n, beraninya kamu menginjakan kaki di rumah ini?!" tuding Mahendra yang baru muncul dan di belakangnya ada Sheli. Perempuan itu merasa mendidih melihat kedatangan Niar.
Setelah saling meniti, ternyata ada yang berbeda. Mereka mengamati perut Niar yang sangat kentara membesar, lalu beralih pada seorang pemuda yang ada di samping Niar.
Tak ada yang berubah dari Niar, hanya saja setelah beberapa lama tak bertemu kini penampilan Niar jauh berubah. Terlihat anggun dengan memancarkan aura cantik.