Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 79


"Sayang, tolong benerin resleting baju bagian belakang. Tanganku gak sampek," perintah Sheli pada Yusha.


Pria yang sibuk dengan ponsel di tangannya harus menghentikan gerakan jari saat Sheli sudah berdiri di samping sofa tempat ia duduk. Tanpa berkata apapun Yusha membantu seperti yang diperintahkan tadi.


Akhir ini Yusha kembali pada sikap awal, pria itu tak banyak bicara. Lebih suka membisu dan menyibukkan diri dengan pekerjaan.


"Sayang, temenku kirim pesan, katanya kita disuruh mampir sebentar ke cafe miliknya. Gimana, kamu mau mampir, gak? Atau kita langsung ke bandara?"


"Kita langsung pulang aja. Kamu tau sendiri badanku akhir-akhir ini sering meriang. Aku mau nemuin Reo buat periksa kondisi badan. Sekalian kamu lepas alat kontrasepsi seperti katamu kemarin."


Sheli menelan ludah seketika, padahal kemarin ia hanya tak sengaja mengatakan itu. Kini kata-katanya tak bisa ditelan kembali, ia harus merelakan karir juga dirinya untuk hamil anaknya Yusha.


Tok ... tok ....


Kelvin muncul dari balik pintu. "Selamat pagi, Tuan, Nona."


"Pagi," jawab Yusha. Sedangkan Sheli hanya melengos lalu melenggang pergi untuk melanjutkan bersiap.


"Tuan, apa Anda sudah bersiap."


"Sudah, tinggal nunggu Sheli belum selesai." Yusha menaruh ponsel di atas meja. Lalu beralih menatap Kelvin. "Vin, apa ada kabar baru?"


"Belum ada, Tuan. Tapi mereka tetap di sini untuk mencari keberadaan Nona Niar."


"Huft ... suruh mereka cepat kasih kabar kalau udah menemukan Niar. Dan, suruh mereka untuk tetap menyusur daerah pantai."


"Baik, Tuan."


Sejujurnya ia sangat berat meninggalkan kota Yogyakarta. Jika bisa memilih, ingin lebih lama lagi di kota itu untuk menemukan Niar. Tetapi hidup harus terus berjalan, ia punya tanggung jawab dengan perusahaan. Ia juga tak bisa mengabaikan Sheli begitu saja. Apalagi Sheli mau berubah demi dirinya. Ia berusaha menerima apa yang telah di gariskan.


Berpasrah menjalani hari seperti biasanya, jika bertakdir, akan dipertemukan dan dipersatukan. Tetapi bukan berati ia menyerah, ia akan terus menyuruh orang untuk mencari keberadaan Niar.


Angin, sampaikan maafku padanya. Suatu saat aku akan kembali untuk menemuinya.


Kini Yusha, Sheli dan Kelvin sudah berada di dalam mobil. Jadwal penerbangan tinggal satu jam lagi, tak ingin ketinggalan pesawat mereka memilih berangkat lebih awal. Selain itu, Sheli kekeh ingin mampir ke cafe temannya. Untuk itu mereka akan singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan menuju bandara.


Cafe Earls terletak tak jauh dari pasar gede, sedangkan tak jauh dari tempat mobil Yusha berhenti ada terminal angkot. Banyak deretan angkot juga pejalan kaki yang memenuhi sisi jalan. Suasana mulai terik tak membuat kita itu sepi, malah kian bertambah ramai.


"Sayang, kamu gak ikut turun?"


"Enggak. Aku di sini aja. Kamu turun dengan Kelvin, biar dia yang menjagamu. Kepalaku pusing, aku mau istirahat."


Sheli memberengut, kesal karena Yusha tak mau ikut turun. Tetapi apa boleh buat, pria itu tidak suka dipaksa. Akhirnya Sheli masuk ke dalam cafe di kawal Kelvin.


Yusha nampak bosan memainkan ponsel, ia beralih menatapi sekeliling lalu membuka jendela mobil untuk membeli air mineral yang dijajakan anak kecil tak jauh dari mobilnya. Biasanya Kelvin selalu menyiapkan air minum di dalam mobil, karena saat ini mereka menyewa jasa rental jadi lupa untuk menyiapkannya.


"Dek, beli air mineralnya satu." Yusha setengah berteriak. Anak kecil itu segera berlari menghampiri mobil Yusha, memberikan satu botol air mineral dan mengucap terima kasih saat Yusha merelakan sisa uang kembaliannya.


Yusha segera membuka tutup botol dan menegak air langsung dari botolnya.


"Uhuk ... uhuk ...." Yusha terbatuk-batuk saat tak sengaja bola matanya menemukan obyek tak terduga. Pria itu seperti kesetanan, segera membuka pintu mobil dan berlari ke jalanan.


"Niar .... !!!" panggilnya dengan sekuat tenaga.


Deg ....


Seorang perempuan yang ada di seberang jalan mendadak mematung saat mendengar Yusha memanggil namanya.


Keduanya saling pandang, namun tak bisa langsung mendekat karena terhalang jarak.


Kala sudah mendekat, pria itu khilaf dan ingin menghambur pelukan pada perempuan yang masih bergeming. Namun air matanya bebas meluncur dari manik sendu yang berkabut mendung.


"Tidak! Jangan! Kita sudah bukan muhrim."


Deg ....


Kedua tangan Yusha menggantung di udara, tatapan pria itu tak lepas memindai wajah sendu yang amat ia rindukan akhir ini. Ingin rasanya ia memeluk dan bersama perempuan itu. Melewati hari seperti berapa waktu lalu saat mereka masih sah menjadi pasangan suami istri. Walau perceraian mereka belum di serahkan ke Jaksa Hukum, namun dalam Islam pernikahan mereka telah berakhir. Mereka telah menjadi orang asing lagi. Tanpa bisa menyentuh dan memadu rindu.


Sosok yang berdiri di depannya telah mengubah seorang Yushaka, pria yang tak mengenal kebimbangan dan tak mengenal jauhnya rindu kini harus merasakan semua itu.


"Ka-kamu di sini? Kamu baik-baik saja?" Yusha ingin memegang tangan Niar, namun perempuan itu menghindar.


"Seperti yang Tuan lihat, saya baik-baik saja." Sekuat tenaga Niar menegarkan hati. Tanpa di sangka, tanpa diduga, ia di pertemukan secara tidak sengaja. Entah apa rencana Tuhan?


Niar menunduk menyembunyikan cairan bening yang tak pernah surut menggenangi kelopak matanya.


"Kamu tinggal di mana?" Yusha mendominasi untuk bertanya. Rasa bahagia membuncah namun berselimut was-was.


"Maaf, saya harus pergi."


"Tidak Niar! Katakan, kamu tinggal di mana? A-aku akan menemuimu lagi."


Niar menggeleng. "Tidak, jangan cari dan jangan temui saya lagi."


Keduanya kembali saling tatap. Terdapat kerinduan namun ada jarak yang tak bisa di singkirkan.


*Sorot mata itu yang kurindui, wajah itu yang selalu menghantui malam-malamku. Kuingin mendekap dan merasai nyamannya pelukan yang lalu pernah kurasakan. Tetapi jarak diantara kita jelas terbentang. Kau bukan lagi milikku, kau bukan lagi takdirku. Dadaku makin gemuruh. Ku tak bisa berbuat apa-apa.


Niar berbalik ingin pergi, tetapi Yusha sigap menarik pergelangan tangannya.


"Ni-ar ...." Lidah itu tiba-tiba kaku hanya untuk mengucap rindu, ia tak punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya.


Mendengar namanya disebut, Niar makin terisak. Suara itu, suara yang selalu ingin di dengar. Suara yang selalu dirindukan.


"Aku rindu ...."


"Kembalilah Tuan, Nona Sheli telah menunggumu. Dan tolong jangan bicarakan tentang pertemuan ini. Karna ini pertemuan kita yang terakhir."


"Tidak! Aku akan kembali menemuimu."


Manik Niar melihat Kelvin keluar dari cafe, ia segera menepis tangan Yusha dan melangkah menjauh. Yusha tak tinggal diam, pria itu mengikuti.


"Tuan jangan ikuti saya, lihatlah, Nona Sheli mencari Anda." Yusha menoleh ke belakang, dan ternyata benar, Sheli sudah keluar dan sedang berjalan menuju mobil.


.


.


.


.


.


Kalian gak nyangka kan mereka ketemu? 🤭 gimana nih, mau lanjut gak?


Oke, maaf ya ada yang komplain ceritanya kesan bertele-tele. Besok akak mei skip. ✌️ beneran.