
Setelah Mbok kasih dan Nining bersiap siap. Mereka langsung berangkat ke Mension ILham.
Beberapa minit perjalanan. Akhinya mereka tiba di gerbang besar Mension Milik ILham Dan masuk ke pekarang mension yang sangat luas dan sangat asri.
Mbok kasih dan Nining langsung merasa Tidak enak, Karena dia baru tau jika ILham sangat kaya raya.
ILham memarkir mobilnya Tepat Di depan Mensionnya." Ayo" Ajak ILham pada Mbok Kasih Dan Anaknya.
Mereka berempat turun dari Mobil dan melangkah masuk ke dalam Mension ILham. Mbok Kasih Dan Nining tertegun melihat kemewahan mension megah ILham.
" Selamat datang Tuan Muda, Nona Muda" Sapa Pak Din Pada ILham dan Istrinya. Saat sudah tiba di ruang keluarga.
ILham mengangguk" Apa pak Din Sudah menyiap kan kamar yang saya perintah kan tadi pak Din." Tanya ILham.
" Sudah tuan. Saya menyiap kan kamar di lantai dua sesuai dengan Yang Tuan muda Perintah kan" Jawab Pak Din. ILham memang tidak menempat kan Mbok Kasih Di kamar pembantu yang berada di belakang mension. Dia menyiap kan kamar di lantai dua untuk ibu dan anak itu.
" Bagus Pak Din. Kau antar Mbok Kasih dan Anak nya untuk beristirahat di kamar nya" Ujar ILham Lagi pada pak Din.
" Baik Tuan Muda. Mari Saya antar ke kamar nya" Kata Pak Din kemudian Mengajak Mbok Kasih dan juga Putrinya untuk naik ke atas di kamar yang sudah dia siap kan.
" T Tapi tuan Muda, Saya bekerja juga kan di sini" Tanya Mbok Kasih memanggil ILham Tuan Muda Dan merasa Tidak Enak jika hanya berdiam diri di Mension Megah Itu.
" Tidak Usah memanggil ku Tuan Muda Mbok, Panggil saja yang terasa nyaman. Mbok kasih tidak perlu bekerja di Mension ini. Nanti Jika Zira sudah melahirkan, Cukup Mbok kasih Membantunya untuk menjaga Bayi Kami. Dan aku tetap akan menggaji Mbok kasih.." Jawab ILham Melembut kan suaranya. Karena dia tau jika Mbok Kasih pasti merasa sangat canggung berada di mensionnya jika hanya berdiam diri di sana.
" Tapi Den " Ujar Mbok kasih tetap merasa tidak nyaman Karena Zira masih membutuh kan waktu untuk melahirkan. Dan memanggil ILham 'Den' karena ILham tidak mau di panggil 'tuan muda'
" Ya sudah, Mbok kasih bantu bantu saja Pelayan yang berada di Mension ini jika mbok kasih Mau.. Kalo seneng masak, Ya Masak aja.. Buat senyaman nya mbok Kasih aja.. Ya Nggak Kak" Sahut Zira yang dari tadi diam menyimak pembicaraan Mbok kasih dengan Suaminya.
'' Benar'' Jawab ILham tersenyum tipis.
Mbok kasih mengembang kan senyumannya. " Baik Lah neng Zira, Terima kasih" Ujar Mbok Kasih senang.
" Baik Lah. Pak Din Antar Mbok Kasih ke kamar untuk beristirahat"Perintah ILham lagi pada Pak Din.
" Baik Tuan Muda'' Pak Din akhirnya mengantar Mbok kasih dan Nining ke kamar Mereka masing masing Yang sudah pak Din Siap kan.
,,,
Di kamar ILham Dan Zira.
Zira sedang berbaring di kasur sambil menonton televisi yang berada di kamar suaminya.
Cklekkk
ILham melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dia baru saja dari ruang kerjanya. Melangkah menuju ruang ganti dan mengganti Pakaiannya kemudian naik ke kasur dan langsung memeluk istrinya.
" Kenapa kau belum Tidur" Tanya ILham Pada Zira sambil Mengusap perut Zira yang masih setia melihat Layar Televisi.
" Aku belum ngantuk Kak, Kan Siang tadi Udah Tidur" Jawab Zira Dengan Bola yang masih serius menonton.
Tiba tiba ILham Mematikan Layar televisi " Kak ILham apa apaan sih ! Kenapa di matikan Tvnya Kak.. " Kesal Zira pada Suaminya.
" Nanti saja Nontonnya Zira. Aku ingin bertanya pada mu" Kata ILham.
'' Nanti aja tanyanya Kak, Sini remot nya" Zira ingin mengambil remot televisi yang suaminya sembunyikan di punggungnya.