
Zira baru tiba di Mension suaminya saat sudah pukul delapan malam. tadi Zira meminta ILham menurun kannya di dekat rumah Abinya. ILham menurut saja. setelah itu Zira Kembali naik ojek ke rumah suaminya.
Zira melangkah masuk ke dalam Mension suaminya. dan naik ke lantai atas di kamarnya, saat ingin membuka pintu kamar nya dia mendengar suara ILham yang berbicara padanya. " Kau dari mana Zira.. kenapa kau baru pulang, bukan kah sudah ku kata kan jangan telat.." tanya ILham seperti biasa dengan wajah Datar nya.
Aku seperti ingin mencakar wajah datarnya itu, jika bukan karena mu aku pasti tidak akan terlalu telat pulang seperti Saat ini. Batin Zira mengatup kan giginya melihat suaminya.
" Maaf... tadi aku mengantar pesanan, dan aku telat pulang kak" Jawab Zira Berusaha melembutkan suaranya. padahal dia Sangat geram tingkat dewa pada suaminya.
ILham melangkah mendekati istrinya dan menghirup aroma Zira" kau bau parfum laki laki. apa yang kau lakukan di luar sana" tanya ILham penuh selidik kembali mengerjai istrinya. karena parfum ILham memang menempel di pakaian Zira.
Aduh.. kenapa tadi aku tidak membuka pakaian ku yang berada di dalam gamis ku ya, kan aroma nya uda tercium. batin Zira.
"Enggak kok, perasaan Kakak saja, aku malah hanya mencium bau aroma parfum kakak " Jawab Zira berusaha terlihat santai.
" Aku tidak mencium seperti itu.. apa kau menyelingkuhi ku" tanya ILham menajam kan netranya pada Zira.
"Tidak.. aku tidak menyelingkuhi mu" Elak Zira yang sudah benar benar geram pada suaminya.
Kau yang menyelingkuhi ku dengan.... arh... pokoknya kau menyelingkuhi ku, meski pun itu aku sendiri. biar kan saja, toh istri Angkuh nya juga kan tukang selingkuh. Batin Zira mengoceh dalam hati.
"Kau berbohong... Jangan jangan kau sudah jebol lagi" ILham sengaja membuat Istrinya bertambah geram padanya.
Zira membola kan kedua bola matanya saat mendengar ILham mengatai nya sudah jebol.
Apa kata nya, 'jebol' aku ini masih perawan ting ting.!!!!. teriak Zira dalam hati.
'' Jangan menuduh sembarangan'' Jawab Zira berusaha bersabar.
" Menuduh.. buktinya kau Bau aroma parfum pria" Ujar ILham.
"Baik lah," Zira menarik tangan suaminya masuk ke dalam kamar nya dan membawa ILham ke ranjang. tiba di sana Zira menarik cadarnya dan langsung mendorong suaminya hingga terlantang di ranjang dan Zira langsung mengukung ILham dengan emosi.
"Ayo, di buktikan saja tuduhan mu" Ketus Zira ingin mencium suaminya yang berada di kukungan nya tapi ILham dengan cepat langsung menahan wajah Zira.
"I i iya, nanti saja... Turun lah kau berat" Gugup ILham tidak menyangka jika Zira akan seberani itu melakukan hal yang tidak pernah dia bayangkan.
" Berat kata mu.. aku kecil seperti ini kau mengatai ku berat. sudah terlanjur seperti ini, sudah di teruskan saja" Zira dengan iseng ingin mencium suaminya.
"Zira, kau pasti belum solat Isyak, pergi lah solat" ILham terus menahan Zira yang ingin menciumnya.dan memberi Alasan.
" Tadi kau yang menuduh ku, sekarang aku ingin membuktikan pada mu tapi kau malah banyak alasan.." ujar Zira yang masih berada di atas tubuh ILham.
Deg ! deg ! deg !
Sial.. kenapa aku jadi berdebar debar seperti ini. batin ILham berusaha menahan dadanya yang berdebar debar.
" Aku hanya becanda Zira, turun lah, kau berat" Bohong ILham. dia terlalu gugup melihat wajah Zira yang sangat cantik berada di atas tubuhnya.
Zira turun dari tubuh ILham dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi sambil mengoceh.
"Gadis itu.. dia bisa membuat ku jantungan.. dia Benar benar bar bar.. aku tidak menyangka dia sangat berani..." gumam ILham mendudukkan dirinya di ranjang Zira saat Zira sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Tiba tiba....
"Arkhhhhh" teriak Zira dari dalam kamar mandi.