Janda Bohay

Janda Bohay
White and Gold


"Boleh, Sayang, boleh. Mau apa saja boleh. Bebas. Mau kasih semuanya juga boleh. Aku tak akan rugi. Saat mukena, kopiah dan sajadah dipakai sholat, aku juga yang dapat pahala. Jadi, kita kasih saja semua, oke?" Djiwa mengusap lembut rambut Mawar. Betapa ia begitu memanjakan wanita yang sedang mengandung anaknya tersebut.


"Baik sekali sih hati kamu, Sayang. Aku sekarang paham kenapa harta kamu banyak, pekerjaan kamu sukses dan rejeki kamu selalu mengalir deras. Semua karena kamu tak pernah pelit dalam bersedekah. Hidup kamu berkah. Tak merasa kekurangan. Aku jadi makin bangga deh sama kamu." Mawar mengelus pipi Djiwa dengan lembut.


"Ah ... jadi ge er deh dipuji kamu, Sayang," jawab Djiwa.


"Ehem!" Rendi berdehem untuk menghentikan sepasang suami istri bermesraan terus di depannya. "Maaf, Bos, masih ada Ibu pemilik panti. Bisa tidak mesra-mesraannya dilanjutkan nanti malam di rumah saja?"


Wajah Mawar langsung bersemu merah saat Djiwa ditegur Rendi. Malu rasanya apalagi saat melirik Ibu pemilik panti yang ikut tersenyum. Tangan Mawar mencubit lengan Djiwa dengan gemas. Memberi kode agar suaminya tak lagi berlebihan di depan orang lain.


"Maaf ya, Bu. Maklum, saya sempat berpisah jauh dari istri saya selama beberapa bulan. Setelah kembali rasanya saya selalu kurang memanjakannya jadi ya ... setiap ada waktu kita selalu bermesraan gitu," jawab Djiwa membuat Mawar menundukkan wajahnya karena bertambah malu.


"Tak apa, Pak. Saya mengerti, apalagi Bapak dan Ibu hendak menyambut anak pertama, sedang bahagia dengan hubungan kalian," jawab Ibu pemilik panti.


"Ibu tau saja. Asisten saya bicara begitu karena iri, Bu. Belum nikah. Anak orang dilamar doang, dinikahin belum. Kebanyakan rencana jadi ya gitu deh, tiap lihat saya dan istri bermesraan bawaannya sensi terus," gerutu Djiwa.


Mawar mencubit lengan Djiwa pelan. "Sayang, jangan begitu ah. Kasihan Mas Rendi," tegur Mawar.


Rendi senyum-senyum melihat bosnya diomelin. "Puas ya lo, Ren? Ayo kita lanjut kerja lagi!" ujar Djiwa.


Djiwa kembali membuat perencanaan. Rendi mencatat dan Mawar memberi masukan. Semuanya harus terealisasi dengan baik demi acara penting nanti.


****


"Aku bagus tidak, Mas, pakai baju ini?" tanya Mawar yang hari ini memakai baju dress dengan warna putih bermotif gold.


"Bagus dong. Senada dengan bajuku. Couple." Djiwa juga terlihat tampan dan gagah dengan kemeja putih dengan corak gold. Terlihat mewah bak artis.


"Kenapa sih kamu memilih tema white and gold?" tanya Mawar yang masih mematut dirinya di depan cermin. Hasil makeup yang disapukan ke wajahnya benar-benar membuat Mawar terlihat cantik. Pangling.


"Hmm ... kenapa ya? Aku memilih white and gold karena memiliki banyak arti. White artinya pernikahan itu suci, jangan dikotori dengan perselingkuhan. Gold artinya emas atau berharga. Pernikahan itu sejatinya berharga di mata Allah, tujuannya mulia yakni menyempurnakan ibadah. Perpaduan antara white and gold artinya pernikahan itu suci dan bernilai ibadah. Jangan dikotori dengan hal yang tak penting macam selingkuh, kekerasan dalam rumah tangga dan rasa saling curiga juga hal-hal buruk lainnya,"


"White juga berarti kita akan menyambut buah hati kita yang suci dan bersih karena lahir dari buah cinta kita. Gold bisa menjadi doa agar buah hati kita berharga dan bersinar seperti emas. Apapun artinya, kita doakan yang terbaik untuk masa depan kita kelak." Djiwa mengecup kening Mawar dan memeluknya.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih telah hadir di hidupku. Terima kasih telah membawa perubahan baik dalam hidupku. Tetaplah menjadi teman hidupku sampai kapanpun. Aku tak menjanjikan kehidupan yang selalu indah dan bahagia untukmu namun aku berjanji akan mengusahakan semua itu untuk kamu dan anak-anak kita kelak," janji Djiwa.


"Sama-sama, Mas. Terima kasih juga Mas telah hadir di hidupku. Membawa warna baru dan menyingkirkan kesalahpahaman semua orang selama ini padaku. Jika tanpa Mas, aku mungkin masih menjadi seseorang yang menyalahkan diri sendiri dan berpikir kalau aku pernah membunuh orang padahal kenyataannya tidak. Mengenal Mas adalah anugerah untukku. Tetaplah disisiku dan jadi pelindungku selamanya. Aku juga akan selalu di belakang Mas, mendukung Mas dalam suka maupun duka. Kita adalah pasangan dan selamanya akan menjadi teman hidup."


Djiwa menggenggam tangan Mawar lalu mengecupnya. "Aamiin. I love you."


"Sudah siap menemui para tamu undangan?" tanya Djiwa.


"Siap, insya Allah."


Djiwa memberikan lengannya untuk Mawar dan disambut Mawar dengan senyum di wajah. Bak pangeran dan tuan putri, Djiwa dan Mawar berjalan keluar dari ruang serbaguna di panti asuhan.


Halaman belakang panti sudah disulap menjadi taman bermain oleh Djiwa. Anak-anak panti bermain dengan riang. Tawa canda mereka seakan obat yang menentramkan hati siapapun yang mendengarnya.


Aneka makanan yang lezat sudah terhidang. Anak-anak panti bebas mengambil makanan yang mereka suka. Wajah bahagia mereka membuat para tamu undangan ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan.


Kedatangan Djiwa dan Mawar disambut tepuk tangan riuh dari para tamu undangan. Ternyata yang Djiwa undang lumayan banyak juga. Mawar pikir hanya kerabat dekat saja, ternyata tidak.


Di sisi sebelah kiri terdapat para karyawan di warung Mawar sudah berdandan rapi. Mawar juga mengundang bapak-bapak yang selama ini selalu menggodanya. Bapak-bapak berambut klimis yang hari ini tampil lebih klimis lagi. Pomade yang dipakainya sampai membuat rambutnya licin, semut saja yang lewat sampai kepeleset saking licinnya.


Di sebelahnya ada pemuda berkulit hitam yang memakai kaos warna orange. Penampilannya memang gonjreng namun ia tetap percaya diri. Selanjutnya ada bapak-bapak yang suka memakai koyo. Di hari spesial ini, bapak-bapak berkoyo melepas koyo yang biasa dipakai. Baju kemeja kotak-kotak mirip kemeja kampanye waktu itu dikenakannya. Rapi dan bersemangat sekali.


Sisanya di bagian kiri adalah karyawan di kantor Djiwa. Mawar mengenali kepala keuangan dan HRD yang kemarin melihat ke arah perutnya terus. Dua body guard Djiwa juga nampak di bagian belakang. Tak lupa Imam yang ikut serta dalam misi balas dendam Djiwa juga diundang.


Di bagian tengah nampak Ibu Mina dan Pak Prabu. Di belakang mereka ada keluarga dekat Ibu Mina dan Pak Prabu yang terlihat berkelas. Pasti dari keluarga kaya juga. Teman-teman arisan Ibu Mina dan beberapa rekan bisnis Pak Prabu juga turut diundang.


Di sebelah kanan, adik-adik panti asuhan sudah duduk dengan rapi. Mereka yang bermain sudah dipanggil dan diminta duduk manis karena acara akan segera dimulai.


"Sudah bisa dimulai Pak Djiwa acaranya?" tanya MC yang disewa Djiwa. MC tersebut adalah MC terkenal yang biasa wara wiri di layar TV.


"Boleh, silahkan!" jawab Djiwa yang duduk manis di kursi pelaminan mereka. Tentunya berada di bagian depan tepat di tengah agar semua bisa melihat sepasang suami istri yang berbahagia tersebut.


"Baiklah, acara akan kami mulai. Bismillahirrahmanirrahim, assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh." MC mulai membuka acara.


"Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh," jawab para tamu yang hadir.


"Terima kasih kami ucapkan atas kehadiran bapak dan ibu, para tamu undangan di acara syukuran pernikahan dan tujuh bulanan kehamilan Ibu Mawar. Acara kali ini-" Belum selesai MC memberikan kalimat pembuka, tiba-tiba ada suara yang menginterupsi.


"Eh sebentar dong, jangan mulai dulu. Boleh tunggu sebentar enggak?"


Semua pasang mata menoleh ke asal suara. Hmm ... siapa ya yang datang?


****