
POV Djiwa
Papa menepati janjinya untuk membantuku. Beliau mengirim orang kepercayaannya untuk membantuku mengusut kecurangan bisnis beras yang keluarga Melati lakukan.
Tugasku tak selesai begitu saja dan hanya berpangku tangan mengandalkan bantuan dari Papa. Aku harus melakukan hal yang lebih penting lagi. Aku harus mengedukasi petani di sini untuk lebih smart dan tak mudah termakan rayuan yang ujung-ujungnya malah membuat mereka merugi.
"Kalau memakai pupuk yang bagus, hasil panen Bapak juga akan lebih bagus lagi. Nantinya harga jual produk Bapak tentu akan lebih mahal lagi. Lebih baik dihargai di negeri sendiri daripada mengirim ke negara lain namun malah merugikan diri kita sendiri. Masalah beras Bapak yang kualitasnya jelek, bukan saya larang jual ya, Pak. Lebih baik kita meningkatkan mutu, caranya ya dengan pupuk yang bagus dan bibit yang unggul juga. Ini namanya kerja cerdas, Pak. Jangan mau Bapak dibodohi oleh oknum yang mengaku mau menolong namun nyatanya malah membuat Bapak merugi,"
"Mereka itu tak ubahnya bak tengkulak namun berkedok malaikat. Apa mereka pernah memberi bukti kalau mereka sudah melakukan exspor beras ke luar negeri? Dari laporan yang saya dapat, tak ada satu pun exspor beras yang mereka lakukan. Nilai nasionalisme kalian malah dimanfaatkan mereka hanya demi keuntungan mereka sendiri."
Satu per satu petani mulai aku edukasi. Tentunya secara sembunyi-sembunyi. Aku tak mau sepak terjangku dengan cepat diketahui oleh Anton dan keluarga Melati. Aku mempelajari secara singkat tentang bagaimana sistem pertanian yang mereka lakukan.
Dengan menggunakan kenalanku yang banyak dari berbagai negara, aku berhasil mendapat informasi cara meningkatkan kualitas beras. Kedepannya aku akan bekerja sama dengan produsen pupuk di dalam negeri agar biaya produksi bisa ditekan lebih murah lagi.
"Nantinya, jika hasil panen lebih baik dari sebelumnya, saya akan usulkan untuk ekspor beras. Tentunya ekspor bisa dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri tercukupi. Namun Bapak tenang saja, meskipun kita menjual di dalam negeri, namun harga yang kami beli dari petani lebih tinggi dibanding yang dibeli oleh pembeli sebelumnya. Bapak mau ikut bergabung?"
Tak mudah meyakinkan orang-orang yang sudah terkena bujuk rayu Melati. Caraku mengedukasi harus benar-benar sabar. Sedikit demi sedikit sudah banyak petani yang bisa aku buka pikirannya.
Huft ... aku kangen kamu, Mawar. Sabarlah sebentar lagi.
POV Djiwa End
****
Mawar tak menyangka kedatangan ibu-ibu sosialita berbarengan dengan kedatangan Ibu Mina, mertuanya. Lebih tidak menyangka lagi ternyata Ibu Mina menyebutnya sebagai menantu.
Apakah kini ia diakui oleh mertuanya?
"Hah? Menantu? Memangnya Djiwa sudah menikah, Ibu Mina?" tanya salah seorang teman Ibu Mina.
"Yang mana menantunya?" tanya yang lain.
"Menantu Ibu Mina karyawan warung ini? Beneran?"
"Ibu Mina lagi nge-prank kita semua 'kan?"
Ibu Mina menghela nafas dalam. Ia langsung diberondong pertanyaan oleh teman-temannya karena pengakuannya barusan.
Ibu Mina berjalan mendekat ke arah Mawar yang menatapnya dengan terkejut. Ia tersenyum ke arah Mawar dan kini berdiri di samping menantunya tersebut. "Perkenalkan, ini Mawar. Istrinya Djiwa."
Semua mata ibu-ibu arisan membola mendengar pengakuan Ibu Mina. Tentu saja mereka kaget, selera Ibu Mina begitu tinggi. Anak-anak mereka yang dijodohkan saja, tak ada yang lolos seleksi padahal berasal dari keluarga kaya raya. Kenapa malah Mawar yang seorang pemilik warung ayam geprek yang diakui sebagai menantu?
Mawar reflek menatap Ibu Mina yang jelas-jelas berbohong. Ibu Mina balas menatap Mawar dan memberikan senyuman hangat dan menenangkan untuknya. "Saat ini, menantu saya sedang hamil. Kedatangan saya ke warung ini untuk mengajaknya periksa ke dokter kandungan karena Djiwa sedang ke luar negeri, ada proyek besar."
"Hamil? Wah, kami kaget sekali loh dengan pengumuman Jeng Mina. Tiba-tiba saja Jeng Mina mengumumkan kalau sudah punya menantu. Pertanyaan kami belum dijawab, Bu. Menantu Ibu karyawan warung ini atau pemiliknya? Berasal dari keluarga mana ya kalau kami boleh tau?" tanya salah seorang anggota arisan yang penasaran.
Ibu Mina tersenyum seakan tak peduli bagaimana reaksi teman-temannya saat mendengar jawabannya nanti. "Mawar ini pemilik Warung Janda Bohay. Dia juga yang memasak saat kemarin arisan di rumah saya. Mawar hanya anak yatim piatu dari kampung. Djiwa begitu pintar memilih pasangan hidup. Ia memilih istri yang akan menjadi teman hidupnya tanpa memandang status sosialnya sama sekali. Saya banyak belajar dari Djiwa, ibu-ibu juga ya nanti. Jangan hanya memandang dari covernya saja."
Ibu-ibu yang lain nampak tak setuju dengan ucapan Ibu Mina. Mereka juga kecewa dengan pilihan Ibu Mina. Susah payah mereka memamerkan anak perempuan mereka agar dilirik oleh Djiwa eh pilihannya hanya gadis kampung polos.
"Maaf tak bisa berlama-lama. Saya harus membawa Mawar ke dokter kandungan. Silahkan dinikmati makanannya ya ibu-ibu." Ibu Mina tersenyum lalu membawa Mawar pergi.
Ibu Mina berbisik pada Mawar dan memintanya berganti pakaian sebelum pergi. "Kamu ganti baju dulu. Dimana kamar kalian?" bisik Ibu Mina.
"Di ... atas, Bu."
"Ayo kita ke atas. Jangan lama-lama berada di bawah. Mereka ngeliatin saya terus," bisik Bu Mina lagi.
Mawar lalu mengajak Ibu Mina naik tangga ke lantai atas ruko. Ibu Mina terus melihat keadaan sekitar dan tak percaya anaknya rela tinggal di ruko sempit ini hanya demi wanita yang dicintainya.
"Hanya ada satu kamar di ruko ini?" tanya Ibu Mina setelah mereka berada di atas.
"Iya, Bu. Maaf kalau ruko kami sempit. Di atas selain sebagai tempat tinggal juga sebagai tempat menyimpan stok barang dagangan. Ibu mau minum apa?" tawar Mawar.
"Tak usah. Cepatlah kamu ganti baju dan kita pergi. Saya sudah buat reservasi sebelumnya." Ibu Mina menatap heran TV kecil berukuran 14 Inch.
Mawar tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Sama saja anak dan Ibu. Melihat TV seakan melihat fosil purbakala.
"Saya ke dalam kamar dulu ya, Bu." Mawar pun masuk ke dalam kamar. Ia mengganti baju yang dengan baju lain yang Djiwa belikan. Tak lupa menyisir rambutnya agar rapi dan memakai make up sederhana. Ia tak mau mempermalukan mertuanya yang kini sedikit demi sedikit sudah membuka diri untuk menerima kehadirannya.
"Sudah?" tanya Ibu Mina saat Mawar keluar kamar.
Mawar mengangguk. "Sudah, Bu."
"Ayo kita pergi." Ibu Mina menuruni tangga dan berhenti sejenak. "Kamu harus hati-hati ya saat naik dan turun tangga. Ingat, ada cucu saya di rahim kamu! Kalau Djiwa pulang nanti, kalian pindah saja. Tinggal di rumah saya atau di apartemen Djiwa. Saya mau cucu saya hidup dengan layak dan sehat!"
"Baik, Bu."
****