Janda Bohay

Janda Bohay
Kekuatan Netijen


Rendi mengerjakan apa yang Djiwa perintahkan. Ia menghubungi salah seorang kenalannya dan menyuruhnya membuat konten.


"Wa, ini yang lo mau." Rendi mengirimkan hasil pekerjaannya pada Djiwa keesokan harinya.


Djiwa sedang duduk santai di ruang tamu rumah Mawar sambil menikmati susu jahe yang dibuatkan oleh Iman. "Udah selesai?"


"Udah dong. Biar kita bisa segera pulang ke Jakarta," jawab Rendi.


Djiwa menyunggingkan seulas senyum. "Memangnya lo aja yang mau pulang ke Jakarta? Gue juga. Sampai enggak ngitungin sudah berapa lama kita berada di kampung ini. Ibaratnya, rasa rindu gue ke Mawar tuh lebih tinggi daripada gunung di belakang sana!"


Djiwa menyalakan ponsel miliknya dan memutar video yang dikirimkan oleh Rendi. Nampak di video tersebut seorang selebgram berbicara di kamera.


"Gaes, hari ini aku akan kasih emak-emak challenge, mereka harus masakkin aku kangkung ini!" Selebgram tersebut mengangkat kangkung yang dibawanya dan ditunjukkan ke kamera. "Tentunya ada hadiah dong untuk yang menang. Aku akan kasih uang lima ratus ribu jika masakan yang dibuat emak-emak beruntung ini enak, kalau tidak enak juga dapat uang dua ratus ribu. Siapakah yang beruntung kali ini? Ayo ikuti aku masuk ke dalam!" Selebram tersebut lalu masuk ke dalam mini market dengan kamera yang terus merekam kegiatannya.


Nampak dua orang ibu-ibu berbelanja bersama. Keduanya sedang membandingkan mana minyak goreng yang harganya lebih murah.


"Selamat siang ibu-ibu yang cantik. Aku mau chalange ibu-ibu nih. Mau enggak masakkin aku kangkung ini? Kalau masakannya enak nanti aku kasih lima ratus ribu!" kata selebgram dengan penuh semangat.


"Hah? Lima ratus ribu? Mau dong!" Kedua ibu-ibu mendengar akan mendapat uang lima ratus ribu langsung semangat empat lima. Lupa perdebatannya tentang minyak goreng.


"Boleh ... boleh. Ibu-ibu bisa ikut dua-duanya. Yang kalah akan dapat uang dua ratus ribu. Siap?"


"Siap!" jawab dua ibu-ibu itu dengan semangat.


"Bukan hanya uang saja yang ibu dapat, bahan-bahan pun akan aku belikan." Adegan pun dipercepat. Selebgram mengambil beberapa bahan makanan dan dua buah beras produksi perusahaan Melati.


"Ayo gaes, kita lihat proses masaknya!"


Video pun menampilkan adegan dua ibu-ibu memasak beras dan lauk di halaman depan minimarket yang sudah disediakan. Kamera menyorot bagaimana proses memasak nasi dilakukan. Ini memang reques dari Rendi.


Djiwa menonton video duel memasak sampai selesai. Keningnya berkerut dalam. "Ren, lo buat apa sih? Ini sih malah buat konten enggak penting!" protes Djiwa.


"Justru itu tujuan gue, Wa. Kalau kita terlalu frontal nyerang mereka, kita bisa kena undang-undang. Pakai cara halus. Gue tau lo udah enggak sabaran. Kita jangan menambah masalah lagi dengan hukum. Ini tuh baru umpan yang gue tebar agar menarik perhatian netijen,"


"Selanjutnya netijen julid akan gue masukkan ke dalam kolom komentar. Biar mereka membuat ramai di kolom komentar dan topik hangat ini menyebar di masyarakat. Tentu wartawan tak akan melewatkan hal ini bukan? Pasti berita tentang beras produksi perusahaan Papanya Melati yang dioplos akan diangkat kembali. Pukulan yang telak bukan?" kata Rendi menjelaskan panjang lebar.


"Wah gila, pinter banget lo. Bisa menggiring opini publik lalu membuatnya jadi bola api liar yang siap membakar suasana. Udah berapa yang nonton?" tanya Djiwa.


Rendi mengecek tontonan di aplikasi Itok Itok. "Lumayan, Wa. Udah 2 ribu yang like."


"Wow, cepat juga ya? Apa karena kebanyakan orang terlalu sering bermain ponsel ya? Kerjaannya pantengin aplikasi terus. Sekarang netijen julid udah lo masukkin belum?" tanya Djiwa.


Rendi menunjukkan kolom komentar yang berisi netijen yang ia tugaskan membuat komentar yang memancing rasa ingin tahu netijen yang lain. "Coba lo baca yang ini sama yang ini." Rendi menunjuk contoh dua netijen yang disuruhnya.


"Enak banget bisa dapat rejeki kayak gitu. Semoga rejekinya nular ya. Loh kok berasnya jelek gitu sih? Bukannya itu beras yang terkenal ya? Kok isi berasnya jelek sih? Kayak ada pecahannya gitu?"


"Saya juga mau dong ikutan. Saya masakkin deh tapi pakai beras yang biasa saya pakai saja ya. Beras yang dipake jelek, menang merk doang tapi isinya campuran. Jangan-jangan benar yang diberitain di TV kalau berasnya dioplos? Pertamanya doang bagus eh selanjutnya beras oplosan yang dijual."


Lalu ada komentar di dalam komentar.


"Masa sih? Saya coba cek punya saya juga ah."


"Saya biasa pakai beras itu sejak pertama kali keluar lima tahun lalu. Sekarang memang kualitasnya jelek banget. Beda sama dulu. Jangan-jangan benar dioplos lagi?"


"Beneran loh punya saya juga jelek kayak gitu."


Djiwa membaca satu demi satu komentar dengan senyum puas di wajahnya. Kini saatnya menghancurkan usaha keluarga Melati.


****


Serangan demi serangan mulai gencar Djiwa lakukan. Keluarga Melati semakin tersudutkan, apalagi dengan pemberitaan di media massa yang mengatakan kalau beras produksi perusahaan keluarga Melati adalah beras oplosan.


"Kenapa bola panas ini bisa bergulir tanpa kalian ketahui?" maki Papa Melati pada meeting dadakan yang diadakannya.


Semua karyawannya yang ikut meeting menundukkan kepalanya. Takut melihat murka sang bos.


"Penjualan kita merosot drastis dan banyak agen beras yang mengembalikan produk kita? Gila! Kerja apa kalian selama ini?" Satu per satu karyawan ditatap oleh Papa Melati. Semuanya tak ada yang berani mengangkat kepalanya. Semua takut melihat bos besar mereka marah.


"Saya tidak mau tahu, redam isu ini! Jangan sampai terus memanas dan membuat kita merugi!" Papa Melati meninggalkan ruang meeting dan kembali ke ruangannya. Melati dengan setia mengikuti langkah Papanya tersebut.


Brakk


Papa Melati menggebrak meja di ruangannya dengan kencang. Ia berbalik badan dan kini mengomeli pekerjaan putrinya yang tak becus.


"Apa saja yang kamu lakukan sampai kecurangan kita diketahui oleh media? Katanya kamu bisa menghandle proyek ini sendirian tapi apa?" omel Papa Melati pada putri semata wayangnya.


"Maaf, Pa. Aku akan perbaiki semua kekacauan ini," kata Melati dengan kepala tertunduk.


"Perbaiki? Perbaiki dengan apa? Kamu lihat sendiri bukan, kerugian kita setiap harinya terus bertambah! Mau buat perusahaan Papa semakin hancur kamu?" maki Papa Melati.


Melati menggelengkan kepalanya. "Tidak, Pa," jawabnya pelan.


"Kacau semua!" Papa Melati mengacak rambutnya dengan kesal. "Bagaimana pencarian terhadap Djiwa? Sudah ketemu?"


Melati kembali menggelengkan kepalanya. "Belum, Pa. Di warung, rumah orang tuanya, apartemen dan perusahaan tak pernah sekalipun Djiwa menampakkan batang hidungnya."


"Sudah dilacak GPS-nya?" tanya Papa Melati.


"Sudah. Sepertinya Djiwa sudah tahu kalau selama ini kita melacaknya lewat GPS. Nomornya tak pernah aktif, mobil miliknya juga tak pernah terlihat di CCTV sejak meninggalkan kampung tempat terakhir terlacak. Djiwa seakan hilang ditelan bumi," jawab Melati.


"Hilang? Kata siapa dia hilang? Pasti ini semua ulahnya! Cari sampai dapat! Suruh Anton dan anak buahnya kerja yang benar! Papa tak mau tahu, jangan sampai perusahaan kita hancur karena ulah Djiwa!"


****