Janda Bohay

Janda Bohay
Wanita Misterius


Djiwa menatap wanita cantik yang menyapanya. Berusaha mengingat siapa nama wanita tersebut. Sementara itu Mawar malah menatap sebal ke arah Djiwa dan wanita di depannya secara bergantian.


"Siapa ya?" tanya Djiwa yang akhirnya menyerah dan tak ingat siapa wanita di depannya.


Mawar kini menatap sinis ke arah wanita tersebut. Dalam hati Mawar bertanya-tanya apakah Djiwa memang pernah memiliki hubungan dengan wanita di depannya atau tidak.


Sebelum wanita itu menjawab, seorang anak kecil berlari dan menubruk wanita tersebut. "Mama!"


"Hei, Sayang! Hati-hati dong!" kata wanita cantik itu dengan lembut.


Mawar terus mengawasi wanita di depannya. Gaya berpakaian wanita itu terlihat elegan. Jelas berasal dari keluarga kaya. Mawar mengelus dadanya, baru saja masalah Melati selesai sudah ada saingan baru.


Sebersit pikiran jelek menghampiri Mawar. Bagaimana jika anak itu ternyata anak kandung Djiwa?


Mawar menengok cepat ke arah Djiwa dan menatapnya tajam penuh selidik. Djiwa balas melihat Mawar dan menggelengkan kepalanya. Memberitahu Mawar dengan bahasa tubuh kalau dia bukan bapak anak tersebut.


Anak lelaki tersebut menarik dress yang dikenakan Mamanya sebagai tanda kalau ia minta digendong. Dengan sigap wanita cantik itu mengangkat anaknya yang tampan dan menggemaskan.


"Papa!" Anak itu menunjuk ke arah Djiwa.


Djiwa dan Mawar saling tatap. Keduanya terkejut mendengar anak itu menunjuk Djiwa dan memanggilnya dengan sebutan Papa. Mata Mawar sudah mulai digenangi air mata yang siap menetes kapan saja. Ujian hidup yang dipikirnya sudah berakhir ternyata belum. Apakah ia akan kuat melewati semua ini.


"Bukan, Sayang. Papa kamu sedang membayar pesanan," kata wanita cantik itu dengan lembut.


Mawar dan Djiwa kompak menghela nafas lega. Djiwa memegang tangan Mawar dan terus menggenggamnya. Memberi Mawar sedikit kekuatan menghadapi wanita misterius di depan mereka. "Kamu siapa ya?" tanya Djiwa yang sudah tak tahan lagi, ia kembali mengajukan pertanyaan yang belum dijawab oleh wanita itu.


"Ih Mas Djiwa kok lupa sama aku sih?" Wanita itu lalu duduk di kursi kosong depan Mawar dan Djiwa tanpa permisi. "Ini siapa? Istri baru Mas Djiwa?"


Kembali Mawar dan Djiwa saling tatap. Pertanyaan istri baru berarti Djiwa pernah menikah sebelumnya. Ketenangan yang baru saja Mawar rasakan kembali berubah mencekam. Ia menepis tangan Djiwa yang menggenggam tangannya karena kesal.


"Maksud kamu apa ya? Iya ini istri aku. Istri pertama dan satu-satunya aku," jawab Djiwa.


Wanita itu mengambil sebuah croissant yang belum dimakan Mawar dan memberikan pada anaknya agar tidak rewel. "Bagi ya, Mas, nanti aku ganti kalau pesanan aku sudah datang," kata wanita itu seenaknya.


"Hei, lupakan croissant, kalau kamu mau ambil semua cake juga sekalian. Jawab dulu pertanyaanku, maksud pertanyaan kamu barusan apa?" Djiwa mulai terbakar emosi. Mawar sudah menepis tangannya, artinya istrinya juga sudah marah. Selama ini tak pernah Mawar menepis tangannya meski dalam keadaan marah sekalipun.


"Pertanyaan?" Wanita itu mengingat pertanyaan yang ia ajukan sebelumnya. "Oh ... istri Mas."


Wanita itu lalu menurunkan suaranya dan memajukan sedikit tubuhnya agar tidak ada yang mendengar apa yang ia katakan. "Bukankah dulu istri Mas meninggal karena diracun sama Mamanya Mas Djiwa ya?" tanya wanita itu sambil berbisik.


Mata Mawar membola mendengarnya. Tubuhnya jadi merinding. Apa benar dirinya bukan istri pertama Djiwa dan istri sebelumnya Djiwa pernah diracun oleh Ibu Mina?


Djiwa kini teringat siapa wanita di depannya. "Oalah, Carmen! Aku pikir kamu siapa! Mana Zaky?" Djiwa malah tersenyum dan tak menyadari perubahan wajah Mawar yang kini ketakutan.


"Tuh, lagi di kasir!" Carmen menunjuk lelaki tampan yang terlihat dari kaum menengah ke atas yang sedang mengantri untuk membayar.


Djiwa sadar belum memperkenalkan Carmen pada Mawar. Ia pun melihat istrinya yang kini berwajah pucat. "Loh, kamu kenapa, Sayang? Pusing?"


Mawar tak menjawab, ia masih kepikiran dengan perkataan wanita bernama Carmen yang asyik menyuapi anaknya croissant. "Kamu mau air hangat?" tanya Djiwa lagi.


Mawar menggelengkan kepalanya. Ia memberanikan diri bertanya. Semua demi masa depannya dan anak dalam kandungannya. Kalau memang Ibu Mina mau meracuninya, ia akan kabur dan tak akan membiarkan Ibu Mina menemukannya. Sebenarnya Mawar tak percaya Ibu Mina bisa melakukan apa yang wanita bernama Carmen itu katakan, tapi tak ada salahnya berjaga-jaga bukan?


"Mas, benar yang wanita ini katakan? Istri pertama Mas sudah Mama racuni?" tanya Mawar dengan wajah takut.


"Hah? Racuni?" Djiwa memikirkan pertanyaan Mawar dan sadar kalau semua ini adalah ulah jahilnya di masa lalu. Ia pun tersenyum dan mengusap lengan istrinya dengan lembut. "Bohong, Sayang."


"Bohong?" tanya Mawar dan Carmen kompak.


"Iya. Dulu Wira, kakaknya Carmen mau menjodohkan aku dengan Carmen. Aku tahu kalau Zaky mencintai Carmen. Jadi ya aku buat Carmen ilfil dan Wira tak lagi menjodohkan kami dengan mengarang cerita kalau aku seorang duda dan istri pertamaku meninggal karena diracun oleh Ibu tiriku. Ibu tiri loh bukan Mama. Aku mana punya Ibu tiri? Bisa habis duluan tuh Ibu tiriku kalau Mama tahu Papa nikah lagi," jawab Djiwa.


"Ih Mas Djiwa jago banget ngibul. Aku tuh beneran percaya loh!" kata Carmen.


"Aku tuh jago akting tau, bukan jago ngibul." Djiwa kini menatap Mawar yang masih menatapnya dengan tatapan menyeramkan. Perpaduan antara tatapan marah dan kesal yang sudah sampai ke ubun-ubun.


"Maaf, Sayang. Ini hanya kisah masa lalu saja. Aku tak menyangka Carmen akan mempercayai perkataanku. Jujur, aku berbohong hanya untuk membantu sahabatku saja." Djiwa menjelaskan pada Mawar, tak mau istrinya marah dan terus kepikiran. Diangkatnya tangan Mawar dan dikecup dengan lembut dan penuh kasih. "Istri aku hanya kamu seorang. Sekarang dan selamanya."


Mawar tak lagi bisa marah jika Djiwa sudah memperlakukannya dengan semanis ini. "Iya. Aku hanya takut saja Mas."


"Enggak kok, Sayang. Tak akan terjadi hal seperti itu sama kamu. Mama tak akan tega dan aku tak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu," janji Djiwa.


"Sayang, kok kamu malah gabung sama orang lain sih?" Suara pria yang baru datang membuat ketiga orang itu menengok kompak. Hanya anak kecil yang asyik dengan croissant miliknya yang tak menengok. Ia tahu kalau itu adalah milik Papanya.


"Loh, Angkasa Djiwa?" Zaky seakan baru menyadari siapa lelaki yang duduk satu meja dengan istrinya. "Wah, pasti itu Mawar ya, pemilik Warung Janda Bohay yang terkenal itu?"


"Weits, Bapak Zaky, pengusaha muda dan bapak anak satu. Apa kabar, Bro?" Djiwa berdiri dan menyalami Zaky.


"Baik alhamdulillah. Kalau begitu kita gabung satu meja saja ya. Kenalin dulu dong sama istrinya yang suka kamu banggain di depan anak-anak, Wa." Zaky mengulurkan tangannya sebelum duduk di samping Carmen. "Perkenalkan, aku Zaky dan ini istriku Carmen. Djiwa ini salah satu penyelamat hubunganku dengan istriku dulu loh."


"Mawar." Mawar membalas uluran tangan Zaky dan kini menyalami Carmen. Senyum di wajah Mawar merekah, tak lagi marah dan khawatir seperti sebelumnya.


"Wah lagi hamil ya? Sudah berapa bulan?" tanya Carmen. "Eh, Mas Djiwa kok enggak ngundang-ngundang sih nikahnya. Hayo, jangan-jangan ...."


****