
"Capek? Mau aku belikan koper yang bisa kamu duduki agar kamu tidak lelah selama berjalan-jalan di Mall?" tanya Djiwa penuh perhatian.
Djiwa dan Mawar sedang berjalan-jalan di Mall. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka namun tak Djiwa indahkan. Ia hanya fokus pada Mawar, jangan sampai istrinya yang sedang mengandung kelelahan.
"Enggak kok. Aku biasa jalan-jalan pagi sama Mama. Jalan muter-muter di Mall begini sih kecil buatku," jawab Mawar dengan bangga.
"Wah hubungan kalian cepat sekali mengalami kemajuan ya sejak aku tak ada. Aku dengar dari Papa katanya kamu yang memasak untuk acara arisan ya? Aku juga dengar kalau masakan kamu mendapat banyak pujian, benar begitu?" tanya Djiwa yang sesekali tersenyum saat ada kamera mengarah ke arahnya. Tebar pesona tetap harus ia lakukan. Bersikap ramah akan menjaga citranya tetap baik.
"Alhamdulillah, Mas. Allah mudahkan semua selama Mas tak ada. Allah pula yang membolak-balikkan hati Mama. Aku bisa diterima sama Allah sudah merupakan salah satu rejeki yang harus aku syukuri. Aku senang bisa akrab dengan Mama. Hidupku yang semula sepi, kini menjadi ramai kembali. Kami sering masak bareng loh, Mas. Mama bahkan membantuku menyiapkan untuk keperluan Warung," kata Mawar dengan wajah berseri bahagia.
"Oh ya? Baguslah. Aku lebih suka Mama menghabiskan waktu dengan kamu dibanding dengan teman-teman arisannya yang lebih banyak pamer dan bermuka dua."
"Bermuka Dua? Seperti judul novel Mizzly saja. Oh iya Mas, sejak kenal Mama, aku juga jadi rajin membaca. Ya meski baru baca novel saja sih."
"Kamu jadi suka membaca? Novel apa yang kamu baca? Karangan Mizzly?" tanya Djiwa. "Aku pernah dengar tuh namanya."
"Iya, Mas. Salah satu novel yang aku baca judulnya Batas Tipis Cinta dan Benci. Aku suka cerita Ayara dan Rezvan yang bak kucing dan anjing. Berantem terus tapi saling kangen. Sweet banget deh. Novel yang tak melulu tentang adegan ranjang atau sinetron ikan terbang."
Djiwa mengusap lembut rambut Mawar. "Tak apa. Isi waktu luang kamu dengan banyak membaca dan lakukan apa yang kamu suka. Kita sudah sampai." Djiwa menunjuk toko perhiasan di depannya.
"Toko berlian?" tanya Mawar. "Mau beli apa?"
"Panci," jawab Djiwa cepat sambil menahan tawanya. "Ya mau beliin kamu perhiasan, Sayang. Ayo kita masuk dan beli apa yang kamu suka. Jangan khawatir masalah harga. Toko ini milikku."
Djiwa menggandeng Mawar masuk ke toko perhiasan. Kedatangannya disambut hormat dan senyum ramah para karyawannya. "Selamat sore, Pak Djiwa. Ada yang bisa kami bantu?" tanya manager toko pada Djiwa.
"Sore. Saya mau membelikan istri saya satu set perhiasan model terbaru."
Mendengar Djiwa menyebut kata istri, para karyawan menatap dirinya. Mereka terkejut karena tak pernah ada berita kalau bos mereka sudah menikah. Yang mereka tahu Bos mereka adalah most favorit jomblo yang banyak diincar pada karyawan.
Merasa ditatap oleh karyawan Djiwa, Mawar pun tersenyum ramah. "Perkenalkan, ini Mawar, istri saya. Kapanpun istri saya datang dan menginginkan perhiasan, berikan saja."
Mawar menyentuh lengan Djiwa. "Mas, apa sih. Jangan begitu ah."
Djiwa tersenyum dan kembali membanggakan istrinya di depan para karyawan. "Istri saya memang pemalu, tapi baik kok. Oh ya, mana set perhiasan yang model terbaru?" tagih Djiwa.
Manager toko yang sempat terdiam mencerna informasi mengejutkan dari Djiwa kini tersadar dan cepat-cepat memberikan koleksi terbaru toko mereka. Aneka kalung, cincin dan gelang model terbaru ditunjukkan pada Mawar.
"Kamu mau yang mana, Sayang?" tanya Djiwa.
"Aku ... pilih sendiri?" tanya Mawar.
"Iya dong. Kamu mau yang mana? Pilih yang kamu suka."
Mawar bingung memilih mana yang ia suka. Semuanya bagus. Jangan tanyakan harganya, sudah pasti mahal.
"Kenapa? Tak ada yang kamu suka? Mau yang berliannya lebih besar?" tanya Djiwa.
Mawar menggelengkan kepalanya. Ia berbisik pada Djiwa agar tak ada yang mendengar apa yang ia katakan. "Aku takut."
"Takut kenapa?" tanya Djiwa.
"Takut saat aku sedang mengulek sambal, kadar berliannya akan luntur," jawab Mawar masih dengan berbisik.
Tak mau mengecewakan Djiwa, Mawar pun memilih perhiasan di depannya. Djiwa memintanya membeli satu set, Mawar pun menurut saja.
Selesai membeli perhiasan, Mawar diajak ke toko pakaian. Djiwa memilihkan banyak pakaian untuk Mawar. "Kamu perlu pakaian yang agak longgar saat kamu hamil besar nanti."
Mawar menuruti apa yang Djiwa inginkan. Semua demi kebaikannya. Mawar sadar, Djiwa hanya ingin membahagiakannya.
"Lapar tidak? Mau makan?" tawar Djiwa.
"Tidak terlalu lapar. Maunya makan ringan saja, jangan yang berat."
"Oke, siap Tuan Putri. Di sana ada cafe, kamu harus coba croissant buatan mereka yang enak banget, mau?" tawar Djiwa.
Mawar mengangguk. Bayangan croissant panas dan manis menari-nari di pikirannya. "Mau."
"Oke, let's go!"
Mereka keluar dari toko tanpa membawa apapun. Semua barang belanjaan akan dikirim langsung ke rumah Djiwa. Tak perlu membawa banyak belanjaan. Cara belanja orang kaya sejati, tak perlu pamer namun yang dibeli banyak dan mahal.
Harum croissant yang dipanggang langsung menyambut kedatangan Mawar dan Djiwa saat mereka memasuki cafe. Mata Mawar berbinar melihat deretan cemilan yang lezat dan menggugah selera.
"Mau yang mana?" tanya Djiwa.
Mawar yang semula tak merasa lapar malah memesan beberapa croissant dan cake. "Aku mau cheese cake, tiramisu cake, croissant strawberry, croissant keju dan minumnya choco hazelnut."
Djiwa menatap Mawar tak percaya. Saat ditanya apakah lapar, jawabnya tidak terlalu. Namun cemilan yang dipesannya banyak juga. Bumil memang beda.
"Kenapa, Mas? Tak boleh ya pesan banyak-banyak?"
"Boleh kok, Sayang. Pesan apapun yang kamu mau!" jawab Djiwa. Ia tak mau Mawar jadi sensitif seperti dulu sebelum ia tinggal. Ibu hamil memang suka ada-ada saja. Kalau bisa dituruti, ya turuti saja.
"Oke. Aku cari tempat duduk ya!" Mawar meninggalkan Djiwa yang masih memesan untuk dirinya sendiri.
Mawar memilih tempat duduk di samping kaca besar. Mereka duduk berhadapan di cafe yang memutar musik-musik klasik. Beberapa kali anak dalam kandungan Mawar bergerak-gerak mendengar musik klasik.
"Kenapa Sayang? Kok kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Djiwa.
"Anak kamu, Mas. Sejak tadi gerak-gerak terus saat mendengar musik klasik," jawab Mawar.
"Oh ya? Aku mau pegang ah!" Djiwa pindah ke samping Mawar dan memegang perut Mawar. "Eh iya loh, gerak-gerak. Wah, aku akan sering setel musik klasik ah. Dia suka banget ternyata."
Mawar tersenyum mendengarnya. "Musik klasik memang bagus, namun aku lebih suka mendengarkan suara lantunan ayat suci atau sholawat Nabi, Mas. Biar anak kita sudah terbiasa dari dalam perut."
"Eh iya ya. Benar kamu, Sayang. Aku setuju."
Sedang asyik memegang perut Mawar yang gerak-gerak, sebuah suara mengagetkan Djiwa.
"Mas Djiwa?"
****