Janda Bohay

Janda Bohay
Mengadu


Djiwa menundukkan wajahnya, ia merasa sangat bersalah kali ini. "Mereka ... tidak tahu tentang pernikahan kita. Sejujurnya, Mas bukan tidak mau memberitahu mereka. Mas hanya ingin mempersiapkan kamu untuk menemui mereka."


"Mempersiapkan? Maksudnya apa ya? Maksud Mas, selama ini aku nggak siap untuk bertemu dengan mereka atau selama ini aku nggak pantas untuk bertemu mereka? Ya, memang sih aku cuma gadis kampung biasa. Aku janda. Aku juga mantan narapidana. Aku tuh nggak pantes, Mas, buat kamu. Aku sadar itu. Maksud kamu aku belum siap bertemu orang tua kamu itu karena aku tak layak sebagai menantu mereka gitu?" Mawar mengatakannya dengan lirih seraya menahan air matanya.


Lagi-lagi kesedihan menghampiri Mawar. Air matanya kembali menetes tanpa bisa ia tahan lagi. Rasanya sakit sekali mencintai seseorang yang memiliki banyak perbedaan dengan dirinya. Cinta yang mempersatukan mereka, namun cinta pula yang membuat Mawar sadar kalau ada jurang pemisah yang begitu dalam di antara mereka yang mungkin tak bisa mereka lewati.


"Sayang, bukan itu maksud aku." Djiwa melihat kesedihan di dalam sorot mata Mawar. Ia tak mau Mawar terluka. Ia tak mau Mawar sakit hati. "Aku-"


Mawar memotong ucapan Djiwa. Mawar tahu suaminya berusaha menghibur hatinya yang sangat sakit dan sedih. "Aku sadar diri, Mas. Aku sadar kalau aku memang tak pantas dan tak layak untuk kamu. Melati yang lebih pantas untuk kamu. Dia berasal dari keluarga terhormat yang status strata sosialnya sama dengan keluarga kamu. Jauh bila dibandingkan dengan aku. Aku hanya anak yatim piatu yang diusir dari kampung karena dituduh membunuh suaminya sendiri. Aku tahu apa yang akan orang tua kamu pikirkan, Mas. Mana ada sih orang tua yang mau menerima seorang menantu yang seperti aku? Aku pun kalau menjadi orang tua juga akan melakukan hal yang sama. Aku nggak mau punya menantu yang seperti diriku, memiliki banyak catatan kelam dalam hidup,"


"Aku sadar Mas. Aku sadar diri. Aku juga tahu Mas banyak melakukan hal untukku. Semakin aku sadari, semakin aku yakin kalau kita memang bukan tercipta untuk bersatu." Mawar kembali menghapus air mata yang menetes di pipinya.


Djiwa menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak. Kita pasti akan bersatu. Kamu percaya sama Mas. Mas nggak akan pernah melepaskan kamu sampai kapanpun. Satu-satunya perempuan yang Mas cintai adalah kamu, Mawar. Mas akan berjuang memperjuangkan cinta kita berdua. Mas tidak peduli dengan masa lalu kamu. Mas juga tidak takut jika seluruh dunia menghakimi Mas karena Mas lebih memilih kamu dibanding wanita lain di muka bumi ini. Bagi Mas, satu-satunya wanita yang baik, cantik dan memiliki akhlak yang terpuji ya cuma kamu seorang. Mas tak peduli yang lain."


Djiwa menarik Mawar dalam pelukannya, saat ini ia masih bisa melindungi istrinya. Entah bagaimana nanti. Yang pasti, dengan sekuat tenaga Djiwa akan terus melindungi istrinya dan mempertahankan rumah tangga mereka sampai kapanpun.


****


Melati tak pernah terima dipermalukan seperti itu oleh Djiwa dan wanita bernama Mawar yang dianggapnya bukan satu kasta dengannya. Setelah diajak pulang dengan paksa oleh kedua orang tuanya, Melati tiba-tiba meminta untuk diantarkan ke kantor orang tua Djiwa.


"Mau apa kamu ke sana? Tak cukup kamu mempermalukan diri kamu sendiri di depan orang-orang kampung itu?" Papa Melati terlihat sangat marah. Ia kesal karena putrinya sudah berbuat sesuka hatinya dan bertambah kesal karena Djiwa lebih membela gadis kampung itu dibanding anaknya.


"Pa, enggak bisa begini. Aku nggak terima melihat Djiwa membela wanita kampung sialan itu! Aku selalu mencintai Djiwa dan memperjuangkan cinta kami berdua. Aku selama ini ingin menunjukkan kepada orang tuanya kalau aku layak sebagai menantu. Apapun aku lakukan demi bisa mendapatkan Angkasa Djiwa. Sekarang, di saat usahaku hampir berhasil, Djiwa malah memilih gadis kampung sialan itu. Aku nggak mau semua usahaku sia-sia, Pa." Melati berbicara dengan berapi-api.


Harga diri Melati terluka. Saat Djiwa tidak memilih dirinya, Ia seperti merasa kalau dirinya adalah wanita yang paling jelek di seluruh dunia, sehingga Djiwa melihatnya sedikit saja tidak mau. Ternyata Mawar yang selama ini membuat Djiwa melupakan Melati. Makin merasa terinjak-injak harga diri Melati karena yang berhasil merebut Djiwa hanya seorang gadis kampung.


"Kita nggak pernah tahu sampai kita mencobanya, Pa. Aku yakin Om Prabu Wisesa akan lebih mempercayai perkataanku dibanding anaknya sendiri. Kita lihat aja Pa, apa yang akan orang tua itu lakukan pada rumah tangga anaknya. Papa dengar sendiri bukan, tadi dia bilang kalau dia pernah tinggal di penjara? Mana mau keluarga Om Prabu yang menjunjung tinggi harga diri itu menerima menantu dengan masa lalu kelam seperti itu?" Melati merasa yakin kalau dirinya akan dipercaya oleh Papanya Djiwa.


"Melati benar, Pa. Kita coba saja adukan ke Papanya Djiwa. Biar anak itu tahu rasa sudah membuat putri kita sakit hati!" Mama Melati ikut mengompori suaminya. Ia tak terima melihat anaknya diperlakukan seperti itu.


Papa Melati pun tak bisa berkata apa-apa. Apa yang dikatakan oleh putrinya memang benar, pasti mantan lawan bisnis yang kini menjadi rekan bisnisnya tersebut akan lebih mempercayai Melati dibanding menantu yang selama ini disembunyikan oleh anaknya sendiri. "Kalau begitu, kita ke sana. Papa akan hubungi orang kepercayaan Papa untuk mencari tahu siapa Mawar. Papa tak terima putri Papa diperlakukan seenaknya oleh garis kampung itu!"


Melati tersenyum senang. Papanya kini berada satu kubu dengannya. Papa Melati lalu menghubungi kenalannya dan meminta data Mawar secepatnya. Tak sulit bagi orang seperti Bapak Danar Hadi untuk menemukan identitas Mawar. Riwayat hidup Mawar yang pernah mendekam di penjara pun kini ia kantongi.


Mereka lalu menuju kantor Prabu Wisesa. Kedatangan Papanya Melati membuat Pak Prabu Wisesa sedikit heran. Pasalnya kejadian beberapa waktu belakangan ini membuat hubungan mereka merenggang kembali. Pak Prabu lebih membela dan mempercayai apa yang Djiwa katakan. Tak ada lagi senyum hangat seperti saat mereka bermain catur bersama beberapa waktu lalu.


Pak Prabu Wisesa menatap para tamunya satu persatu. Pak Surya yang berwajah kesal, Melati yang terlihat acak-acakan dan juga penuh emosi, serta istri Pak Surya yang wajahnya tak jauh berbeda dengan kedua orang yang bersamanya.


"Kami tak akan membuang waktu Bapak terlalu lama. Tujuan kedatangan kami ke sini adalah untuk melaporkan apa yang sudah diperbuat oleh menantu Bapak, dalam hal ini tentunya adalah istri dari Angkasa Djiwa." Pak Surya tanpa basa basi langsung menyebutkan tujuan kedatangan mereka.


"Menantu? Saya tidak salah dengar? Menantu siapa? Anak saya Angkasa Djiwa itu belum menikah. Bagaimana mungkin saya bisa punya menantu, sedangkan anak saya sendiri saja belum menikah?" tanya Pak Prabu. Keningnya berkerut dalam.


"Itu 'kan menurut Bapak. Kenyataan yang sebenarnya, anak Bapak, Angkasa Djiwa sudah menikah dengan mantan narapidana atas kasus pembunuhan mantan suaminya dulu. Jadi, menantu Bapak adalah seorang pembunuh. Apa Bapak tidak tahu?" Papa Melati terlihat tersenyum puas saat Papanya Djiwa begitu terkejut dengan informasi yang ia berikan.


"Mantan pembunuh?"


****