Janda Bohay

Janda Bohay
Curahan Hati Mawar


Papa Djiwa mendekat dan memastikan kalau penglihatannya benar. "Jangan bilang kalau kamu melepaskan tender penting kemarin pada Rendi? Kamu memilih jadi preman di luar sana daripada memenangkan tender bernilai besar?" omel Papa lagi.


Tubuh yang masih merasakan sakit ditambah ocehan Papa membuat rasa sakit yang Djiwa rasakan terasa double. "Bukan jadi preman tapi aku berantem sama preman pasar," jawab Djiwa jujur.


"Kenapa kamu harus berantem dengan preman pasar? Habis dari mana kamu? Mana body guard yang biasa menjaga kamu?" tanya Papa bertubi-tubi.


"Djiwa harus gitu menjelaskan kemana saja Djiwa pergi sama Papa? Pa, Djiwa sudah besar. Jangan kebanyakan mengatur hidup Djiwa."


"Cih, sok dewasa. Kalau kamu dewasa, kamu tak akan kehilangan tender dan malah mendapat luka di wajah kamu. Kalau sampai Mama kamu tahu, bisa habis kamu kena omel. Kamu tahu sendiri bagaimana Mama kamu menjaga wajah kamu sampai rela menggelontorkan banyak uang?" omel Papa panjang lebar.


Djiwa tak menanggapi ocehan Papa dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Papa Djiwa duduk di kursi dan terus memperhatikan wajah anaknya yang ada lebam serta gerakan Djiwa yang sesekali meringis kesakitan.


"Sudah ke dokter?" tanya Papa. Rupanya khawatir juga dengan keadaan putra semata wayangnya.


"Udah," jawab Djiwa pendek.


"Terus apa kata dokter?"


"Ya ... bonyok. Namanya juga habis berantem. Aku tuh lelaki sejati, Pa. Berantem pake tenaga. Bukan Papa yang tak pernah berkelahi sama sekali. Diomelin Mama saja Papa langsung nurut," sindir Djiwa.


"Papa tuh melawan dengan otak, bukan dengan otot kayak kamu!" balas Papa. "Obati yang benar luka kamu dan dapatkan tender lain untuk mengganti kekalahan kamu hari ini!"


"Iya, bawel!" Djiwa tersenyum meledek. Papa memang mudah marah namun rasa sayangnya membuat kemarahannya juga bisa cepat hilang seperti sekarang.


Papa berdiri dan berjalan ke pintu. Sebelum keluar, Papa masih sempat menyindir Djiwa. "Makanya cari istri biar ada yang ngobatin!"


Setelah Papa keluar ruangan barulah Djiwa menjawab. "Udah punya tuh!"


****


Mawar kembali melamun sambil membersihkan sayuran. Djiwa hari ini berangkat ke kantor dan meninggalkan Mawar dengan banyak pikiran.


"Kenapa lagi?" Lily datang menghampiri dan menaruh baskom kosong di atas meja. Lily berniat membersihkan sayuran di samping Mawar sambil mengajaknya mengobrol.


"Aku sekarang sudah tahu Ly, siapa pembunuh Mas Purnomo yang sebenarnya," kata Mawar sambil berbisik. Bu Sari dan Mbak Nia sedang di dapur dan belum ada pembeli yang datang, namun Mawar tetap merasa takut ada orang lain yang mendengar selain Lily.


"Oh ya? Siapa?" Mata Lily membulat mendengar perkataan Mawar.


"Mas Jamal."


"Mas Jamal? Bukankah dia lelaki yang sempat membuat kamu takut itu? Kenapa dia yang membunuh?"


"Mas Djiwa berhasil mengejar Mas Jamal, Ly. Mereka menangkap Mas Jamal dan berhasil membuat Mas Jamal mengakui perbuatannya di masa lalu. Mas Purnomo memang benar keracunan saat memakan bekal buatanku, semua karena Mas Jamal memberikan sambal yang telah diracun pada Mas Pur. Mas Djiwa bilang kalau Mas Jamal juga hampir terbunuh karena tidak tahu kalau sambal di tangannya berisi racun. Ia tidak makan waktu itu dan bersembunyi saat melihat aku datang," kata Mawar.


"Iya, Mas Djiwa bilang namanya Mas Anton. Mas Djiwa masih mencari tahu keberadaan mas Anton yang kemarin sempat kabur."


Lily tersenyum senang mendengar kabar gembira dari Mawar. Pelaku sebenarnya pembunuhan mantan suami Mawar kini sudah diketahui.


"Kenapa kamu malah terlihat sedih? Bukankah kamu seharusnya senang? Selama ini yang kami rekan satu sel kamu tahu, kamu selalu menyalahkan diri kamu sendiri dan bahkan menganggap kalau kamu adalah pembunuh Mas Pur. Kondisi Mas Pur yang meninggal setelah memakan bekal dari kamu pasti sedikit banyak membuat kamu kepikiran dan merasa kalau diri kamu memang membunuh Mas Pur. Sekarang semuanya sudah jelas, bukan kamu yang membunuh Mas Pur. Sikap kamu yang selama ini membela diri kamu sendiri itu sudah benar. Kamu bukan pembunuh, kenapa kamu masih saja bersedih?" tanya Lily.


"Kamu tahu tidak Li, apa yang membuat Mas Pur dibunuh?" Lily menggelengkan kepalanya.


"Mas Pur dibunuh karena merekam sesuatu. Dalam rekaman tersebut berisi seorang pengusaha kaya yang rela melakukan apa saja demi kelancaran bisnis yang dijalankannya. Aku nggak habis pikir Ly, Mas Pur toh tidak menyebarkan kepada siapapun rekaman tersebut,"


"Semenjak pulang dari Jakarta, Mas Pur terlihat ketakutan dan terus menutup diri. Kenapa orang itu sampai tega menghilangkan nyawa Mas Pur? Apa salah Mas Pur? Sekarang aku jadi kepikiran, kalau sampai orang itu tahu Mas Djiwa menyelidiki kasus ini, apakah nasib Mas Djiwa akan sama seperti Mas Pur? Aku nggak pernah membayangkan Ly akan menjadi janda dua kali. Aku enggak mau kehilangan Mas Djiwa. Lelaki itu meski banyak yang disembunyikannya namun aku sangat mencintainya. Aku nggak mau kehilangan Mas Djiwa."


Lily mengerutkan keningnya. "Hal yang disembunyikan? Apa yang disembunyikan sama Mas Djiwa?" Lily sangat penasaran dengan apa yang Mawar ketahui. Sama seperti Mawar, Lily pun merasa Mas Djiwa dan Mas Rendi sangat mencurigakan. Meskipun sudah dijelaskan dan diberi pemahaman, Lily tidak semudah itu mudah percaya.


"Semalam saat kami menonton video yang dimiliki oleh Mas Pur terlihat wajah seorang wanita yang aku kenal. Aku terkejut dan yang lebih membuat aku terkejut lagi saat Mas Djiwa keceplosan dan mengatakan seolah dia mengenal wanita tersebut."


"Wanita? Wanita siapa?"


"Wanita dalam video itu adalah anak pengusaha terkenal yang datang ke kampung aku dulu. Mas Pur begitu mengidolakan wanita itu. Aku nggak cemburu, aku sadar Mas Pur itu mengidolakan hanya sebagai tokoh inspiratif saja. Yang aku heran, Mas Djiwa seakan mengenal wanita tersebut. Memangnya dia kenal? Jawabannya pun meragukan," keluh Mawar.


"Oh ya? Siapa namanya? Aku kenal juga tidak?" tanya Lily.


"Aku tidak tahu kamu kenal atau tidak. Seingat aku wanita itu sangat pintar. Namanya Melati, pengusaha terkenal anak dari Bapak Danar Hadi."


Lily sangat terkejut mendengar apa yang Mawar katakan. Mulutnya terbuka dan dengan cepat ia tutupi dengan tangannya. "Melati?"


Mawar kini menatap Lily dengan tatapan penuh tanda tanya. "Iya, kenapa? Kamu kenal juga? Apakah wanita itu seterkenal ini?"


"Itu ... aku kenal."


Mawar mengernyitkan keningnya. "Kenal dimana?" Mawar lalu mencari foto Melati di ponsel miliknya yang kemarin ia sempat foto dari video milik Mas Pur yang di-pause lalu menunjukkan wajah perempuan itu pada Lily. "Ini wajahnya. Kamu beneran kenal?"


Agak ragu namun akhirnya Lily mengangguk. "I-iya."


"Kenal dimana?" cecar Mawar. Ditatapnya Lily dalam-dalam. Lily mengerjapkan matanya, ragu untuk menjawab namun tak mau membohongi sahabatnya.


"Melati ... pernah datang ke warung kamu."


****