Janda Bohay

Janda Bohay
Mawar Vs Melati


Mawar sedang berada di dapur membuat bumbu untuk ungkep ayam. Suara blender yang kencang membuatnya tak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana.


"Bu, ada perempuan marah-marah di luar," lapor Bu Sari.


Mawar mematikan blender yang dipergunakannya. Keningnya berkerut dalam. "Marah-marah? Siapa?"


Tak menunggu jawaban dari Bu Sari, Mawar pergi keluar. Betapa terkejutnya Mawar saat melihat wanita cantik berpakaian anggun sedang menjambak rambut Lily.


Mawar emosi saat melihat Lily mengaduh kesakitan. Tak ada yang menolong karena warung sedang sepi. Karyawan sudah kembali ke kantornya dan anak-anak sekolah yang biasa nongkrong belum pulang sekolah.


Mawar mengenal wanita yang menyakiti Lily. Melati, nama wanita itu. Wanita yang dulu memberikan penyuluhan dan terlihat begitu pintar sehingga membuat Mas Pur begitu mengidolakannya. Wanita berkedok malaikat namun ternyata tak lebih dari iblis laknat yang kemungkinan besar adalah pembunuh Mas Pur.


"Lepaskan tangan kamu dari pegawai saya!" bentak Mawar.


Melati tak bergeming. Tetap saja tangannya menjambak Lily yang kesakitan. Rasa amarah dalam sekejap menguasai Mawar. Ia maju dan menjambak balik rambut Melati tanpa pikir panjang. Tak ada lagi kelembutan dalam dirinya. Mawar menjadi sosok yang berbeda. Lily yang menyadarinya pertama kali.


"Aww! Heh siapa lo? Lepasin rambut gue, cewek gila!" Melati balas membentak Mawar.


"Kamu duluan yang lepasin rambut karyawan saya, baru saya lepasin rambut kamu!" ancam Mawar tak mau kalah.


"Heh, berani lo ya sama gue! Mau gue-" Belum selesai Melati bicara, Mawar sudah memotong perkataannya.


"Apa? Kamu mau apa? Mau membunuh saya seperti kamu membunuh orang dulu?!" Cengkraman Mawar semakin kuat menjambak rambut Melati. Beberapa helai rambut sampai tercabut paksa dari kepala Melati.


Melati kembali berteriak kesakitan. "Gue bukan pembunuh, cewek sialan! Lepasin atau gue laporin lo ke kantor polisi!"


"Oh ya? Laporkan saja kalau berani!" Mawar menunjuk CCTV yang ada di warung. "Kamu yang pertama buat keributan di warung ini. Lepasin atau saya yang lapor ke polisi duluan!" Mawar kembali menjambak Melati lebih kencang.


Tenaga Mawar yang kuat karena terbiasa bekerja keras dan membawa ayam banyak membuat Melati menyerah. Ia akhirnya melepaskan Lily.


Lily terduduk di lantai. Ia menangis dan mengaduh kesakitan. Mawar ternyata belum melepaskan Melati.


"Heh, gue udah lepasin anak buah lo. Sekarang lepasin gue!" teriak Melati.


"Kamu menjambak anak buah saya cukup lama, jadi saya akan balas menjambak kamu selama kamu menjambak anak buah saya. Itu baru namanya adil!" ujar Mawar tanpa takut.


"Dasar cewek sundal! Lo tidak tau sedang berurusan dengan siapa?" gertak Melati.


"Oh ya? Siapa ya? Wanita iblis? Saya udah tau tuh siapa kamu!" balas Mawar.


"Bener-bener ya wanita kampung! Lepas, saya bilang!" Tangan Melati menggapai-gapai Mawar. Dengan sigap Mawar menendang belakang lutut Melati sampai ia jatuh berlutut.


"Minta maaf kamu sama karyawan saya, baru saya lepasin!" Melati semakin tak berkutik. Kaki Mawar menahan tubuhnya dalam posisi berlutut. Ia tak bisa melawan tubuh Mawar yang kuat.


"Awas lo ya! Gue pastikan kalau lo akan membayar atas perbuatan lo!" ancam Melati.


"Kamu mau minta maaf atau saya cabut rambut kamu lebih banyak lagi?" Mawar bukan hanya mengancam. Ia menarik rambut Melati lebih kuat.


"Awww! Cewek gila! Lepasin!" teriak Melati.


"Minta maaf!" bentak Mawar.


Melati akhirnya menyerah menahan rasa sakit yang ia rasakan. "Maaf."


"Apa? Enggak kedengeran!"


"Maaf!" kata Melati lebih keras.


"Yang tulus!" perintah Mawar lagi.


"Gue minta maaf, puas?"


Melati tak lagi melawan Mawar. "Gue minta maaf." Suara pasrah Melati membuat Mawar melepaskan tangannya dari Melati.


"Jangan diulangin lagi!" Mawar mendekati Lily dan menanyakan keadaannya. "Gimana, Ly, masih sakit?"


Lily mengangguk. Diliriknya Melati yang dijambak Mawar sampai keluar air mata dan kini tengah kesakitan. Lily dulu mengira Mawar begitu lemah lembut seperti ucapan dan sikapnya sehari-hari. Namun Mawar akan berubah menyeramkan saat ia marah, seperti saat Lily dikeroyok teman satu sel mereka dulu. Saat Mawar turun tangan, semua takut.


Benar yang orang bilang, bunga mawar memang berduri namun duri yang bunga mawar miliki bertujuan untuk melindungi dirinya bukan untuk menyakiti orang lain. Sekarang, Mawar di depan Lily sedang menggunakan durinya untuk melindungi sahabat yang ia sayang.


Melati yang melihat Mawar lengah cepat-cepat berdiri dan menjambak rambut Mawar. "Sekarang, lo yang minta maaf sama gue!"


"Aww!" Mawar kesakitan saat rambut panjangnya dijambak Melati. "Lepasin atau kamu akan menyesal!"


Lily masih agak pusing, ia berniat membantu Mawar namun Lily sadar, Mawar tak butuh bantuannya. Lily menjadi penonton yang berada di pinggir layar melihat aksi Mawar, seperti saat di penjara dulu. Lily hanya menunggu waktu sebelum Melati habis di tangan Mawar.


"Minta maaf lo sama gue, cewek sialan! Kalau lo enggak mau minta maaf, gue rontokkin semua rambut lo!" ancam Melati.


"Satu." Mawar mulai menghitung mundur.


"Ngapain lo? Belajar berhitung? Disuruh minta maaf malah belajar berhitung, dasar cewek bodoh!" maki Melati yang merasa di atas angin.


"Dua." Mawar kembali berhitung seraya menahan sakit atas rambutnya yang dijambak Melati.


"Minta maaf cepat!" Dijambaknya rambut Mawar semakin kencang oleh Melati.


"Tiga!" Dengan kekuatan besar karena sering mengangkat ayam potong, Mawar mencengkram kedua pergelangan tangan Melati dan memelintirnya.


"MAMAAAA!" teriak Melati kesakitan saat tangan Mawar membuat tangannya agak terkilir.


Mawar yang sudah terlepas dari tangan Melati segera berdiri dan ... brukk!


Mawar menyundul hidung Melati dengan kepalanya yang keras. "AWWW!"


Melati meringis kesakitan. Darah pun mengucur deras dari hidungnya. "Saya sudah kasih kamu peringatan tapi kamu indahkan. Pergi kamu dari warung saya!" usir Mawar.


"Cewek gila! Lihat saja pembalasanku! Akan kubuat kamu mendekam di balik jeruji besi!" ancam Melati.


"Oh ya? Sudah pernah tuh! Kali ini, saya yang akan menjebloskan wanita jahat macam kamu ke penjara!" tantang Mawar.


Melati mengambil tas miliknya dan pergi dari hadapan Mawar. Ia takut Mawar akan menganiaya dirinya lagi. Rupanya keributan di warung kini ditonton banyak orang. Suara gaduh menarik perhatian warga namun mereka tak berani ikut campur.


Mawar menatap lelaki berkulit hitam, bapak-bapak berkoyo dan bapak-bapak berambut klimis yang bersorak kegirangan saat Mawar berhasil menang melawan Melati. "Hidup Mawar! Hidup Mawar!"


Mawar mengusap kepalanya yang agak sakit dan duduk di kursi. Perutnya juga agak kram sehabis melawan Melati. Setidaknya, Mawar sudah menuntaskan apa yang ingin ia lakukan sejak dulu. Meninju orang yang membunuh Mas Pur meski dengan kepalanya sendiri.


Di kantor Djiwa, Rendi yang sedang iseng melihat CCTV karena rindu melihat wajah cantik Lily, menonton kejadian yang tak terduga. Ia cepat-cepat berlari ke ruangan Djiwa.


"Wa, lo harus lihat ini!" Rendi menunjukkan layar berisi rekaman CCTV perkelahian Mawar.


"Gue harus pulang, Ren!" Djiwa hendak menyambar jaketnya namun Rendi tahan.


"Tenang saja. Ada dua bogar di sana. Mereka akan turun tangan kalau Mawar dalam bahaya. Lo lihat dulu hasil akhirnya apa. Gue berani bertaruh, bini lo bakal menang!" Rendi tersenyum penuh arti.


"Masa sih?" Djiwa kembali duduk tenang. Ia memperhatikan Mawar melawan balik Melati.


"Nah ... itu baru bini gue!"


****