Janda Bohay

Janda Bohay
Mahasiswa Magang Gadungan


POV Djiwa


Rumah Mawar sudah kembali bersih sejak dibersihkan oleh Jamal, Iman dan dibantu dua bodyguard-ku. Mereka akhirnya tinggal bersama kami. Alasannya karena rumah Mawar cukup besar untuk ditempati oleh lima orang.


Pintar sekali dua bodyguard-ku menyamar masuk ke dalam kampung. Wajah menyeramkan mereka tak lagi jadi masalah karena kerabat yang membawa mereka ke kampung merupakan salah seorang jawara yang cukup disegani.


"Ini bos kami, Pakde. Bapak Djiwa namanya. Beliau pengusaha sukses yang selama ini mempekerjakan kami di Jakarta." Salah seorang bodyguard memperkenalkanku pada kerabatnya yang jawara kampung.


"Selamat datang di kampung kami. Kedatangan Bapak ke sini pasti dengan tujuan baik, saya percaya itu. Keponakan saya sudah memberitahu tujuan kalian. Saya mendukung, anak buah saya di sini dan di kampung sebelah akan membantu jika kalian memerlukan bantuan," kata jawara kampung tersebut.


"Baik, Pak. Terima kasih banyak, maaf kalau kami merepotkan," kataku dengan tulus.


Kami berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya jawara kampung tersebut pulang. Aku dan Rendi tidur satu kamar berdua. Dua bodyguard bergantian menjaga kami yang tertidur lelap.


Otakku terlalu banyak berpikir membuat aku mudah lelah dan langsung terpejam. Udara kampung yang sejuk membuat tidurku lelap. Tak lupa, aku tunaikan sholat isya dahulu sebelum tidur.


Keesokan paginya, aku bangun saat adzan subuh berkumandang. Aku mandi dengan air sumur yang sangat dingin dan sholat subuh sebelum pergi ke sawah untuk berpura-pura magang.


Aku, Rendi dan Iman pergi ke rumah Pak RT. Kami lalu diperkenalkan dengan beberapa petani yang memiliki sawah luas. Kami pura-pura mencatat agar tidak dicurigai sebagai mahasiswa gadungan.


"Wah, kalau panen pasti dapat banyak uang ya, Pak. Sawahnya luas sekali. Sekali panen bisa menghasilkan berton-ton beras. Keren," kataku berbasa-basi.


"Begitulah. Petani kami kaya-kaya. Hanya saja kami itu berjiwa nasionalisme. Kami mendukung program pemerintah yang ingin swasembada beras. Agar harkat martabat petani kembali naik lagi. Kami mau buktikan pada masyarakat di dunia kalau negara kita bisa swasembada beras seperti dulu," jawab Pak RT dengan berapi-api.


Aku tersenyum mendengarnya. Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mengaku swasembada padahal keluarga Melati adalah mafia beras yang sebenarnya. Tak pernah ada jiwa nasionalisme dalam dirinya, yang ada hanya ingin mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Egois. Cih!


Pak RT tak lama mendampingi kami. Hanya mengenalkan pada pemilik sawah lalu pergi. Kesempatan ini kami gunakan sebaik-baiknya untuk mencuci otak para petani agar melek informasi. Tak lagi menelan informasi mentah-mentah padahal informasi yang diberikan salah dan menyesatkan.


"Pak, boleh tanya tidak harga beras yang Bapak jual itu berapa perkilonya?" tanyaku sambil pura-pura menulis.


Petani tersebut lalu menyebutkan nominal yang menurutku sangat kecil dibandingkan HET (Harga Eceran Tertinggi) yang ditetapkan pemerintah. Padahal sekarang harga beras sedang tinggi, kenapa mereka mau menjual dengan harga dibawah HET?


"Bapak untung tidak? Menurut yang saya baca, HET yang dikeluarkan pemerintah tidak serendah itu." Aku mulai mengeluarkan siasat mencuci otak petani agar sadar dari strategi jahat Melati.


"Memang sih lebih rendah tapi di penggilingan masih mau terima beras yang kualitasnya kurang bagus. Namanya juga bertani ya, kadang hasilnya bagus, kadang juga tidak. Beruntungnya desa ini adalah ada yang menerima hasil panen kami. Harganya hanya beda sedikit dengan beras kualitas bagus, daripada tidak laku dijual? Itu salah satu keuntungan kami. Satu lagi, mereka menyedikan jasa transportasi. Kalau kami panen banyak, mereka yang jemput. Tak perlu sewa mobil segala. Tidak apa-apa harganya lebih murah dari pemerintah asal kalau dihitung-hitung kami untung dan juga bisa membantu mensukseskan program swasembada," kata petani yang kutanya dengan penuh semangat.


Pulang dari magang palsu di sawah, aku dan Rendi kembali membahas hasil temuan kami di lapangan. Kedua bodyguard-ku ikut mendengarkan pembahasan kami.


"Jadi mereka membeli beras segala jenis, dari yang bagus sampai kualitas jelek. Ren, gue rasa mereka bermain curang di sini." Aku melihat kedua bodyguard-ku yang siap menerima perintah. "Kalian coba diam-diam cek bagaimana alur distribusi beras kualitas jelek tersebut. Gunakan orang-orang dari pakde kalian yang jawara itu. Jangan sampai kalian buat keributan dan membahayakan kita nantinya!"


Aku kembali mengirimi Papa email. Kujelaskan apa temuanku. Papa berjanji akan membantu. Aku agak sedikit tenang, setidaknya ada Papa yang jadi backingan kami.


Kalau mengenai Mawar ....


Ah, aku rindu istri bohayku. Sedang apa ya dia? Apakah ia juga merindukanku?


"Kangen ya, Wa, sama istri tercinta?" tanya Rendi yang baru saja selesai sholat isya.


Aku mengangguk tak semangat. "Iya, Ren. Bini gue lagi ngapain ya?"


"Ya ... lagi jualan ayam geprek. Bukannya tadi bodyguard lo kasih laporan kalau bini lo baik-baik aja? Lo tuh yang sakit. Sakit malarindu. Rindu goyangan mantan janda bohay, iya kan?" ledek Rendi.


Kulempar bantal ke arahnya yang ditangkis dengan tepat. "Rese lo!"


Rendi tertawa melihatku sakit malarindu. "Ren, nanti malam kalau gue ngigau dan peluk-peluk lo, tolong lo pergi ya. Berarti tingkat kangen gue sudah akut, Ren."


"Dih! Awas aja lo peluk-peluk gue!" omel Rendi. "Gue masih normal loh, gue sukanya sama Lily, bukan sama lo. Kalau kangen, lo peluk aja tuh figura Mawar, biar kangen lo hilang!"


"Beda, Ren. Figura tidak sehangat Mawar. Kita boleh pulang dulu enggak, Ren. Sehari aja. Gue kangen berat sama Mawar. Kalau sudah ketemu Mawar terus minta kelonan, nanti semangat gue full lagi deh," rengekku seperti saat merengek pada Mama.


"Pulang? Mau lo kita ketahuan mereka lagi? Lo sih enak bisa sewa bodyguard banyak. Nasib gue gimana? Kalau gue di jalan tiba-tiba dicegat gimana? Lo tau sendiri ilmu beladiri gue cuma sebatas ilmu kudu, kudu kabur kalau diserang," omel Rendi.


"Yaudah lo pake aja ilmu kudu lo, kudu nangis kejer kalau ditangkep," ledekku.


"Rese, ngeledek melulu. Udah ah ayo tidur. Udah malam nih! Kalau udah di Jakarta jangan lupa naikkin gaji gue ya! Ini bukan jobdesk gue loh temenin lo ke kampung-kampung, tidur satu tempat tidur dan menerima resiko kalau lo ngigau terus meraba-raba tubuh seksi gue," balas Rendi.


"Dih, seksi darimana lo? Gue juga ogah satu tempat tidur sama lo. Bau lo kecut, kayak pipis kecoak. Enakkan juga wangi tubuh Mawar. Sesuai namanya Mawar. Masalah gaji, itu kecil. Kalau kita berhasil, gaji lo gue naikkin!" janjiku.


"Bonus mobil enggak? Itu Rubicor lo buat gue aja ya, Wa. Udah jelek karena dibawa jalan jauh. Lo beli lagi aja yang baru ya," bujuk Rendi.


"Enak aja! Mahal tuh. Anak pejabat aja petantang petenteng naik tuh mobil, apalagi gue yang kaya-nya natural. Nanti lo gue beliin kendaraan operasional deh," kataku.


"Apaan?" tanya Rendi penuh semangat.


"Sepeda listrik, mau?" Aku tertawa puas setelah meledek Rendi. Sejenak rasa rinduku akan Mawar hilang, entah besok bagaimana.


****