Janda Bohay

Janda Bohay
Tak Kunjung Menyesal


Djiwa dan Mawar bukan hanya berencana untuk bertemu Jamal saja. Mereka juga berencana untuk bertemu Melati. Ini murni keinginan Mawar. Djiwa sudah melarang namun Mawar tetap bersikeras menemui wanita yang sudah mendzholimi dirinya.


Djiwa kembali menggenggam tangan Mawar, memberi istrinya kekuatan untuk bertemu musuh besarnya selama ini. Mawar menunggu Melati dengan hati deg-degan. Sanggupkah dirinya menahan diri menghadapi perempuan yang telah membunuh suami pertamanya dulu?


Melati akhirnya keluar juga. Dengan mengenakan pakaian tahanan, Melati berjalan sambil menundukkan wajahnya. Ia baru mengangkat wajahnya untuk mengetahui siapa yang mau bertemu dengannya.


"Djiwa? Kamu datang mau membebaskanku bukan?" Mata Melati berbinar melihat Djiwa. Ia begitu berharap akan belas kasihan Djiwa. Melati yakin Djiwa bisa membebaskannya jika mau mengeluarkan uang.


Djiwa menggelengkan kepalanya membuat harapan Melati langsung hilang dalam sekejap. "Aku bukan datang untuk membebaskanmu. Percuma, aku tak akan bisa."


"Wa, kamu pasti bisa. Tolong aku, Wa." Melati menggenggam tangan Djiwa dengan sorot mata memelas. "Wa, aku tak betah di dalam sini. Aku takut, Wa. Rekan satu sel-ku sangat menyeramkan, Wa. Aku takut kalau aku akan dibunuh. Tolong, Wa. Keluarkan aku. Aku janji akan melakukan apa saja yang kamu mau!"


Djiwa melepaskan tangan Melati. Bukan ini tujuan kedatangan Djiwa. "Aku tak bisa."


Mata Melati mulai meneteskan bulir air mata. Ia mengatupkan kedua tangannya dan memohon dengan sangat agar Djiwa terketuk dan tak tega melihat mantan kekasihnya menderita. Semua sia-sia belaka. Djiwa merasa Melati harus menerima hukuman atas kesalahannya. Hanya dengan cara itu Melati bisa menyadari kesalahannya dan bertaubat.


"Wa ... aku mohon ..."


Djiwa membuang wajahnya. Ia tak suka melihat wanita menangis meski sudah banyak wanita yang ia sakiti hatinya. Aneh memang.


"Aku tak bisa. Kedatanganku hari ini hanya mengantar istriku menemuimu, Mel. Bukan untuk membebaskanmu. Aku tak bisa, kalaupun aku bisa, aku tak mau melakukannya. Kamu bersalah dan kamu harus menebus kesalahan kamu!" kata Djiwa dengan tegas.


Melati terdiam. Harapannya sirna. Ia kini menatap Mawar yang terlihat lebih berisi dari sebelumnya. Rupanya Mawar sedang hamil. Hati Melati merasa iri, seharusnya Melati yang ada di posisi Mawar saat ini.


Mawar menatap balik Melati yang menatapnya dengan tatapan entah apa. Perpaduan antara iri, benci, sebal, sedih dan kecewa. Mungkin di mata Melati, Mawar juga menatapnya tak jauh berbeda. Mawar marah, kesal, benci dan kini senang melihat Melati memakai baju tahanan seperti yang dulu ia kenakan selama lima tahun.


"Aku yang meminta Mas Djiwa menemaniku menemuimu, Mbak." Mawar membuka percakapan. "Melihat Mbak saat ini, aku jadi teringat kalau aku pernah ada di posisi Mbak waktu itu. Bukan sehari dua hari, melainkan lima tahun. Lebih dari 1500 hari, Mbak. Rasanya lama sekali jika berada di dalam sana."


Melati tetap membuang wajahnya. Mawar tahu, Melati mendengarkannya berbicara. Mawar kembali berbicara menyuarakan isi hatinya. "Aku merasa kalau aku adalah manusia yang jahat. Aku yang semula yakin kalau aku bukan pembunuh Mas Pur perlahan mulai meragukan diriku sendiri. Rasa bersalah menyergapku. Mas Pur meninggal karena memakan bekal yang aku buat. Semua menuduhku pembunuh, Mbak. Bahkan diriku akhirnya mengakui kalau aku adalah pembunuh,"


"Aku mulai merasa menjadi orang yang paling kejam di dunia ini. Aku pembunuh suamiku sendiri. Aku layak dipenjara. Aku bahkan layak mati dan membusuk di penjara untuk menebus kesalahanku. Ibuku yang sudah tua tak kuat dengan hinaan tetangga, beliau sakit dan akhirnya meninggal. Aku tak lagi ada yang temui. Satu-satunya tamuku sudah meninggal karena tekanan. Namun Ibuku yakin, aku bukan pembunuh. Hal itu yang diyakini Ibu sampai beliau meninggal, bahwa anaknya bukan pembunuh,"


"Lima tahun di penjara, aku pikir aku bisa memulai hidup baru dan memperbaiki semua. Ternyata tidak, Mbak bahkan menyuruh anak buah Mbak membuat fitnah agar aku diusir dari kampung. Aku sendirian, Mbak. Tak ada yang menemaniku sama sekali. Percayalah, kondisi Mbak saat ini lebih baik dari kondisiku saat itu. Aku tak menyerah. Aku berusaha bangkit. Sampai akhirnya aku bisa memulai hidup baruku." Mawar menghapus air matanya yang tak kuasa ia bendung.


"Mbak, apa sih salah Mas Pur sama Mbak? Kenapa Mbak sampai tega membunuhnya? Tahukah Mbak rasanya dibenci oleh keluarga Mas Pur? Sakit, Mbak. Aku sedih. Tak ada yang percaya kalau aku bukan pembunuh. Apa kesalahan Mas Pur begitu besar sampai nyawanya tega Mbak habisi?" Mawar mengeluarkan unek-unek yang selama ini terus mengganjal hatinya.


Melati kini menatap Mawar dengan tatapan penuh kebencian. Mawar sudah mengambil Djiwa dan menjebloskannya ke penjara, rasa benci Melati terhadap Mawar semakin besar. "Cih, sombong sekali kamu membanggakan kehidupanmu saat ini. Seharusnya aku yang ada di posisi kamu saat ini. Djiwa itu milikku! Aku melakukan semua ini agar bisa memiliki Djiwa. Setelah apa yang aku lakukan, kamu malah merebutnya dariku!"


"Kamu mau tahu kenapa Purnomo aku bunuh? Kamu tahu apa yang ia katakan padaku? Dia bilang kalau para petani tidak bodoh. Mereka akan menyadari kalau apa yang kulakukan hanyalah penipuan. Purnomo bahkan mengancam akan mengajak petani lain untuk tidak lagi menjual hasil panennya padaku." Melati tersenyum meledek. "Petani itu berani mengancamku? Besar nyali dia. Rupanya dia tidak main-main. Dia mulai mencuci otak petani lain, termasuk Jamal. Sayangnya, Jamal bermulut besar dan menceritakannya padaku. Awalnya aku hanya menggertak saja eh dia malah makin menjadi."


"Ternyata Purnomo tak sebodoh yang aku pikir. Ia mengikuti Jamal dan setelah Jamal pergi dia mendengar apa yang kubicarakan dengan Anton, bahkan merekamnya. Dia berhasil lari dan menyembunyikan ponsel bututnya. Ya ... aku terpaksa menghabisinya. Aku tak menyangka justru ponsel butut itu yang menjebloskanku ke penjara."


Mawar geleng-geleng kepala mendengar pengakuan Melati. Tak disangka wanita cantik di depannya tega menghabisi nyawa orang lain dan malah merasa bangga. Memang Melati pantas mendekam di penjara, bahkan kalau perlu selamanya.


Mawar baru menyadari kalau di sudut bibir Melati ada memar kebiruan. Apa yang terjadi? Apa semua ulah rekan satu sel Melati? Mawar paham benar kerasnya kehidupan di dalam penjara.


Mawar mengeluarkan makanan yang ia bawa. "Ini buat kamu. Tenang saja, ini tidak ada racunnya kok. Aman kamu makan."


Mawar tersenyum melihat wajah Melati yang takut dengan makanan yang ia bawa. "Aku hanya akan menemuimu satu kali saja. Aku tak akan datang lagi. Kenapa aku mengatakan seperti itu? Karena kamu layak berada di dalam sana. Semula aku ingin melihat kamu minta maaf dan aku akan ikhlas memaafkan kamu. Nyatanya kamu tak pernah berubah. Kamu tetap saja seorang monster. Semoga teman-teman kamu di dalam sana bisa menyadarkan kamu. Insya Allah aku sudah memaafkan kamu. Aku mau hidupku tenang. Kami pergi dulu."


Mawar menggenggam tangan Djiwa dan mengajaknya pergi. Tujuannya memang melepas rasa dendam di hatinya. Memaafkan Melati dan melupakan masa lalunya yang kelam. Tak apa Melati tak mau berubah. Ia yakin, luka di wajah Melati akan terus ada jika ia tak mau berubah. Biarlah hukum rimba yang kini mengajarinya tentang menjadi manusia yang benar.


****