
Djiwa tersenyum mendengar pertanyaan Mawar. "Bukan itu maksudku, Sayang. Bagaimana kalau kita akan buka franchise usaha ayam geprek? Nanti aku belikan satu gedung untuk kantor operasionalnya."
"Kamu mau memperluas usaha kita, Mas?" tanya Mawar yang masih tak percaya.
"Niatku sih begitu. Aku melihat potensi usaha kamu itu bagus. Lihat saja saat ini, warung kamu maju dan banyak yang waiting list hanya untuk bisa makan di warung kamu. Itu baru satu cabang saja. Kalau kita membuka beberapa cabang, kamu pasti akan kerepotan untuk menghandle semuanya. Untuk itulah akan aku buatkan sebuah kantor. Nanti di sana kamu bisa merekrut karyawan mulai dari bagian keuangan, dapur sampai bagian yang handle karyawan,"
"Nantinya kamu juga bisa membuat produk dalam bentuk frozen yang bisa dijual di setiap cabang maupun secara online. Zaman sekarang, banyak pemilik usaha kuliner yang membuat makanannya dalam bentuk Frozen agar bisa dinikmati di rumah tanpa mengurangi rasa dari produk tersebut. Bagi yang menyukai ayam geprek ataupun ayam kremes buatan kamu, nanti bisa kamu buatkan dalam versi frozen yang siap disajikan, hanya perlu digoreng atau dipanaskan di microwave. Nah kita butuh reset dulu. Butuh orang-orang yang handal di bidangnya, jadi ya harus buat kantor operasionalnya. Nanti juga outlet kamu kita perbanyak lagi, salah satunya dengan membuka franchise agar makin banyak yang tahu kalau Warung Janda Bohay itu tersedia di berbagai daerah."
"Kamu sudah memikirkan sampai sejauh itu, Mas? Wah, pintar sekali kamu. Pantas semua orang memuji kamu sebagai salah satu pengusaha yang cerdas di bidangnya. Aku nggak kepikiran loh sampai sejauh itu. Bagi aku, punya satu ruko dimana warung tempat aku jualan maju dan banyak yang menyukai itu sudah merupakan suatu keberuntungan dan keberhasilan tertinggi yang pernah aku capai. Ide dari kamu membuat aku jadi berpikir kalau aku bisa lebih sukses lagi nih. Aku bisa memasarkan produk yang aku buat ke berbagai kalangan dan berbagai daerah. Aku juga bisa mempekerjakan banyak orang. Aku berarti sudah membantu perekonomian negara ini bukan?" kata Mawar dengan penuh semangat.
"Betul itu. Membuka pekerjaan untuk orang lain sama saja dengan membuat roda perekonomian itu berputar. Dengan begitu uang bisa beredar dan negara juga tentunya bisa lebih maju karena tingkat pengangguran berkurang. Kalau begitu, ayo kita buat rencana tentang warung kamu setelah acara 7 bulanan ya. Hanya berupa rencana, dan akan kita realisasikan setelah kamu melahirkan. Aku enggak mau kamu kecapekan karena mengurus bisnis sampai lupa dengan kesehatan kamu sendiri. Pokoknya, kamu dan anak kita adalah prioritas utama," kata Djiwa sambil tersenyum.
Mawar mengangguk patuh. Mawar senang dengan rencana yang Djiwa buat. Ia pun mulai berpikir apa saja yang harus ia lakukan sambil menunggu Djiwa memeriksa kembali beberapa dokumen. Di atas selembar kertas yang dicoret-coret oleh Mawar, ia membuat beberapa menu yang bisa dijual secara frozen.
"Kok sekarang jadi kamu yang sibuk sih? Buat apa?" tanya Djiwa yang sudah selesai menandatangani sejumlah dokumen. Ia melihat kertas coret-coretan Mawar yang berisi beberapa rencana bisnisnya. "Ini bagus idenya, tinggal dikembangin sedikit saja bisa jadi ide yang cemerlang. Simpan kertas ini karena akan jadi awal rencana yang lebih banyak lagi. Sekarang waktunya kamu temani aku keliling kantor. Sudah siapkah Nyonya Djiwa diperkenalkan ke seluruh karyawan yang ada?"
"Siap dong, Bos Djiwa!" Mawar terenyum dan menggandeng tangan Djiwa. Ia lalu diajak berkeliling dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Dengan bangganya Djiwa memperkenalkan kepada semua karyawan kalau Mawar ada istrinya. Semua karyawan tentu saja terkejut. Tak pernah ada berita kalau Angkasa Djiwa sudah menikah. Banyak yang patah hati, banyak yang iri dan banyak pula yang mendoakan.
Setelah puas membuat heboh satu kantor dengan memperkenalkan istrinya yang sedang hamil, Djiwa kini mengajak Mawar pergi ke tempat lain. Tujuan mereka adalah untuk mempersiapkan acara 7 bulanan yang akan diselenggarakan di salah satu panti asuhan yang ada di pinggir kota Jakarta, Panti Asuhan Kasih Bunda.
Rencananya Djiwa akan mengundang beberapa tamu undangan untuk ikut berbagi bersama anak yatim. Djiwa lalu bertanya kepada pemilik panti tentang kondisi panti seperti apa dan berapa banyak jumlah anak-anak yang tinggal di panti tersebut.
"Bolehkah acara 7 bulanan nanti diadakan di taman yang ada di belakang panti, Bu? Saya lihat halaman belakangnya begitu luas. Saya ingin acara 7 bulanan ini dibuat seperti pesta kebun. Kita adakan di outdoor, nanti ada ceramah dari Pak Ustadz dan makan bersama. Selain acara 7 bulanan, tujuan kami mengadakan acara ini adalah sebagai rasa syukur atas pernikahan kami. Ya ... double acara dalam satu waktu begitu," tanya Djiwa pada pemilik panti yang terlihat ramah dan lembut.
"Boleh, tentu saja boleh, Pak Djiwa. Wah ... saya senang mendengar Bapak mau berbagi dengan kami para penghuni panti. Akan kami bantu menyiapkan segala keperluan yang Bapak perlukan," jawab pemilik panti.
Djiwa lalu menjelaskan konsep acara yang ia inginkan. Rendi yang menyusul datang ke panti mencatat apa saja keinginan Djiwa dan akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk acara tersebut.
"Untuk dekorasi, aku mau kita membuat taman bermain sehari bersama anak-anak. Kamu tahu tempat penyewaan perosotan dan mandi bola yang besar? Cari dan sewa itu untuk anak-anak bermain!" perintah Djiwa.
Rendi mencatat setiap permintaan Djiwa. Bukan Mawar yang bawel harus ini itu melainkan Djiwa. Mawar pasrah saja mau dibuat seperti apa.
"Sayang, untuk goodie bag, rencananya kamu mau kasih apa?" tanya Djiwa pada Mawar.
"Apa ya, Mas? Aku sih ingin yang bisa mereka pakai sehari-hari dan tidak gampang rusak. Mungkin ... tas untuk keperluan mereka sekolah, bagaimana?" usul Mawar.
"Ide bagus, Sayang. Aku memang sudah menduga sih, sekali kamu memberi masukkan, pasti ide kamu cemerlang," puji Djiwa.
"Ren, carikan tas anak-anak yang bagus. Data yang benar, beli tas sesuai umur mereka. Jangan anak SMA kamu beli tas untuk anak TK. Beri saja nama agar tidak tertukar. Yang bagus ya tasnya!" perintah Djiwa lagi.
"Siap, Bos."
"Mas, tumben Mas Rendi tidak protes?" tanya Mawar sambil berbisik.
"Tak akan protes dia. Hadiah mobil yang aku janjikan sudah sampai di rumahnya. Coba saja dia protes, akan aku pylox mobilnya dengan tulisan : Rendi pengabdi Djiwa." Djiwa dan Mawar tertawa sambil melirik Rendi yang garuk-garuk kepala. List pekerjaannya semakin banyak saja, mau protes, mana bisa?
"Kalau goodie bag untuk tamu kita apa, Sayang?" tanya Djiwa.
"Goodie bag? Apa ya?" Mawar memikirkan ide hadiah yang bermanfaat untuk tamu undangannya. "Bagaimana kalau mukena travelling untuk tamu wanita dan kopiah atau sajadah untuk tamu laki-laki?"
****