
"Hah? Melati pernah datang ke warung aku? Untuk apa? Makan? Mana mau pengusaha kaya raya itu makan di warung aku yang kelas menengah ke bawah ini, Ly?" Mawar mengajukan banyak pertanyaan pada sahabatnya. Bagaikan penyidik yang dulu menginterogasinya setelah Mas Pur meninggal.
"Dia ... tak usahlah kamu tahu, Mawar. Yang jelas bukan untuk makan." Lily masih berusaha menyembunyikan tujuan Melati namun Mawar tidak semudah itu percaya. Ia mau Lily jawab sejujurnya.
"Lalu untuk apa? Ly, jawab aku dengan jujur. Kamu sahabat aku bukan? Kenapa kamu menyembunyikan sesuatu sih?" cecar Mawar.
"Bukan itu, Mawar. Aku takut kamu jadi berpikir macam-macam. Mas Djiwa tak pernah menyukai Melati, wanita itu yang terus mengejar-ngejar suami kamu." Tanpa sadar Lily keceplosan dan mengatakan semuanya.
"Melati mengejar-ngejar Mas Djiwa? Apa aku tidak salah dengar? Bagaimana bisa? Jadi wanita itu datang untuk mencari Mas Djiwa?" Mawar terus menatap Lily yang menundukkan wajahnya.
Lily kembali mengangguk. Ia sadar kalau dirinya sudah melanggar janjinya pada Rendi untuk merahasiakan hal ini dari Mawar. "Beberapa hari lalu, Melati datang. Awalnya mencari kamu, dia bilang ada wanita yang dirangkul Mas Djiwa. Aku bilang saja kalau Mas Djiwa pemilik warung ini dan memang baik sama semua karyawan demi menutupi jati diri kamu. Melati bilang, dia heran kenapa Djiwa mau membuka bisnis kecil macam ini. Sama seperti kamu, Mawar. Aku juga curiga dan bertanya sama Mas Rendi."
"Kenapa kamu tanya sama Mas Rendi? Mereka itu setali tiga uang. Pasti jawabannya sudah diatur sedemikian rupa agar kamu percaya. Aku saja sekarang meragukan siapa suamiku. Melati pasti tahu siapa suamiku!" Sayuran yang mereka potong-potong sudah selesai.
"Satu yang aku tahu, Mas Djiwa dan Mas Rendi bukan orang jahat, Mawar. Mereka baik. Mas Djiwa juga terlihat tulus mencintai kamu. Mungkin memang ada yang disembunyikan, namun bukan hal jahat aku rasa." Lily masih membela Djiwa dan Rendi yang di matanya tetaplah orang baik.
"Entahlah, Ly. Aku terus berdoa dalam setiap sujudku agar Allah memberikan petunjuk padaku, siapa suamiku itu."
****
"Neng Mawar, kok diam aja sih? Enggak bahagia nikah sama si asuransi jiwa?" sindir bapak-bapak berkoyo yang baru saja makanannya dihidangkan Mawar.
Mawar tersenyum simpul. Hatinya memang masih meragu mengenai identitas sebenarnya sang suami. Untuk memenuhi hasrat ingin tahunya, Mawar berencana menemui pemilik ruko sebelah untuk menyewa. Siang ini mereka janjian bertemu. Mawar akan menyelidiki sedikit demi sedikit agar tahu kebenaran yang sebenarnya.
"Tuh malah melamun. Enggak baik wanita cantik melamun. Ada apa? Curhat dong sama kita-kita." Bapak-bapak berambut klimis menepuk kursi kosong di sebelahnya. Perhatian sekali mereka pada Mawar.
Mawar duduk bergabung. Mereka tersenyum senang dengan keputusan Mawar. "Kita kayak lagi reuni ya? Waktu dulu Mawar jualan di kampung dan kita suka ngobrol sama Neng Mawar Bohay." Pemuda berkulit hitam ikut berkomentar.
Mawar kembali tersenyum. Mereka bukan hanya fans Mawar yang centil namun juga teman mengobrol saat semua orang menjauhinya. "Pak, saya mau nanya. Boleh enggak?"
"Boleh dong," jawab semuanya kompak.
"Kalau ada orang yang berbohong dan menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya, menurut kalian orang seperti apa itu?" Mawar sambil memperhatikan ekspresi bapak-bapak saat menjawab pertanyaannya.
"Hmm ... bisa saja dia punya istri makanya disembunyiin. Siapa? Suami kamu ya?" jawab bapak-bapak berambut klimis.
"Bukan. Teman saya," jawab Mawar cepat.
"Iya, betul. Biasanya ada yang disembunyikan. Bisa saja mungkin sebenarnya dia adalah seorang pembunuh berdarah dingin yang suka memutilasi korbannya sampai kecil-" Belum selesai bapak-bapak berkoyo menjawab, mulutnya sudah dijejali timun oleh pemuda berkulit hitam.
"Jangan ngomongin mutilasi di depan orang makan! Geli tau!" omel pemuda berkulit hitam. "Kalau aku punya pemikiran berbeda."
Mawar lebih tertarik dengan jawaban pemuda berkulit hitam, mungkin karena usianya yang paling muda di antara yang lain jadi jawabannya lebih masuk akal. Kedua bapak-bapak tadi malah membuat Mawar jadi takut membayangkan jika memang Djiwa adalah pembunuh berantai. Mawar sampai bergidik ngeri membayangkannya.
"Begini, kamu tahu tidak kenapa pahlawan super suka memakai topeng?" Pemuda berkulit hitam tetap asyik makan sambil mengobrol. Kadang liurnya muncrat ke wajah bapak-bapak berkoyo yang langsung mengelap wajahnya dengan tisu sambil menggerutu.
"Pahlawan super macam Spiderman?" tanya balik Mawar.
"Ya, semacam itu. Bukan Superman ya, dia tetap saja terlihat mukanya. Masa sih cuma pakai kacamata saja, orang tidak bisa membedakan? Kita ambil contoh Spiderman. Kenapa dia menyembunyikan wajahnya?" tanya pemuda berkulit hitam.
"Jelek kali mukanya!" jawab bapak-bapak berkoyo dengan asal.
"Banyak utang kali. Kalau ketahuan jadi banyak yang nagih." Jawaban bapak-bapak berambut klimis tak kalah ngaconya.
"Salah. Bukan itu jawabannya."
"Lalu kenapa?" tanya Mawar makin penasaran.
"Spiderman itu menyembunyikan identitasnya agar musuh tak tahu siapa keluarganya. Kelemahan terbesar seorang superhero adalah keluarganya. Saat keluarganya diketahui oleh musuh, bukankah yang akan diincar terlebih dulu adalah keluarganya? Itulah salah satu alasan Spiderman menyembunyikan identitasnya." Pemuda berkulit hitam itu terlihat sok pintar dan berharap Mawar akan terkesima dengan jawabannya.
"Maksudnya menyembunyikan identitas demi melindungi orang yang disayangnya begitu? Kenapa tidak jujur saja, bukankah orang yang dilindungi jadi bisa lebih berhati-hati?" tanya balik Mawar.
"Iya. Bisa saja. Cuma ada musuh yang tak bisa dijangkau, misal yang kekuatannya listrik. Memang keluarganya bisa jaga-jaga? Matiin sikringnya gitu? Ada juga alasan lain." Pemuda berkulit hitam sudah selesai makan kini. Ia mencuci tangan di keran air lalu bergabung kembali dengan yang lain.
"Alasan apa?" tanya Mawar lagi.
"Identitasnya. Kebetulan Spiderman hanya pemuda yang kerjaannya serabutan. Apa kata para fansnya saat tahu pekerjaan idolanya begitu? Bisa ilfil nanti. Jangan berpikiran buruk dahulu, setiap orang pasti punya alasan sendiri mengapa menyembunyikan rahasianya dari orang lain. Tetap berpikir positif saja." Perkataan pemuda berkulit hitam sedikit banyak membuat Mawar lebih tenang.
"Mungkin memang ada alasan kenapa Mas Djiwa menyembunyikan identitasnya dariku. Ya Allah, berikanlah aku petunjuk siapa sebenarnya suamiku. Hanya Engkau tempatku meminta. Semoga identitas suamiku yang sebenarnya adalah tetap imam yang baik dan mencintaiku dengan tulus." Doa Mawar dalam hati.
Tak lama Mawar harus melayani anak sekolah yang datang. Siswi SMA yang datang memang semakin banyak karena warung Mawar sudah terkenal dan banyak anak muda yang suka nongkrong sepulang sekolah.
Mawar membawakan buku menu dan menyambut pelanggan yang datang dengan senyum manis. "Silahkan, ini menunya!"
"Yah ... si ganteng enggak ada!" Salah seorang siswi terlihat kecewa karena Mawar yang melayani. Ia celingukan mencari keberadaan Djiwa.
"Kak, Mas yang ganteng kemana sih? Udah lama enggak kelihatan. Aku udah bawa majalah nih mau cocokkin mukanya sama yang di majalah tapi Mas Ganteng enggak pernah muncul lagi!" keluh siswi SMA.
"Majalah? Majalah apa?"
"Majalah bisnis. Ini, kakak coba lihat. Mukanya mirip deh!" Siswi SMA itu menunjukkan majalah yang dibawanya dan membuat mata Mawar terbelalak kaget.
****