
Hari sudah mulai gelap namun suasana ramai tetap tercipta di Warung Janda Bohay. Semua sesuai dengan perencanaan yang Djiwa buat.
Tempat berkumpul dan nongkrong untuk berbagai kalangan. Bukan hanya orang tua, anak sekolah, mahasiswa dan ibu-ibu dijadikan satu oleh Djiwa. Yang menyatukan mereka adalah makanan.
Menu yang semula hanya ayam geprek dan ayam penyet dengan minum es teh manis kini bertambah banyak. Ada roti bakar, es kopi gula aren, aneka jus dan masih banyak yang lain.
Kini bukan hanya bertiga, ada karyawan baru yang sesuai dengan kriteria Djiwa. Pernah sekolah di sekolah memasak. Tugasnya membantu Mawar di dapur menyiapkan aneka menu yang dipesan pelanggan.
"Kamu capek?" tanya Djiwa sepulang bekerja. Djiwa kini sering meninggalkan Mawar dan bekerja di perusahaan. Banyak tender yang harus ia menangkan dari Melati untuk membayar kesalahannya mengacaukan acara makan malam mereka. Papa tak mau tahu, itu hukuman untuk Djiwa.
Djiwa juga harus menyelidiki banyak hal. Salah satunya adalah tentang rencana membuang dirinya dengan menggunakan tangan Aksa. Sejumlah uang dalam nominal besar terlihat masuk ke rekening Aksa. Siapa lagi pengirimnya kalau bukan Melati. Licik.
Mawar membentuk senyum di wajahnya. Menggeleng meski tubuhnya terasa pegal. Ia tak mau terlihat lemah di depan Djiwa. "Enggak, Mas."
Djiwa mencubit ujung hidung Mawar pelan. "Bohong! Mas tahu loh kalau kamu capek. Pembeli tak pernah habis datang ke warung kita. Pasti kamu lelah membuatkan aneka pesanan."
Mawar tak lagi bisa berbohong. Ia tersenyum dan deretan gigi putihnya terlihat. "Capek tapi masih tahap wajar, Mas. Aku senang, meski capek namun warung ramai. Aku yakin bisa membayar hutangku kalau ramai seperti ini terus."
"Nanti malam Mas pijitin. Mas jamin, semua pegal kamu akan hilang. Mas akan memberikan pijitan penuh cinta. Eh, kamu udah selesai datang bulan belum?" Djiwa meminum es teh manis yang Mawar suguhkan. Rasanya manis, semanis yang membuatnya.
"Sudah. Baru saja tadi pagi mandi wajib." Mawar mengambil setangkup roti dan mengolesinya dengan margarin. Menaruhnya dalam panggangan dan membolak-balik agar matang merata. Hanya ada mereka berdua di dapur saat ini. Karyawan barunya sedang sholat maghrib.
"Wah bisa nih pijit plus-plus?" Djiwa tersenyum penuh maksud.
"Iya. Terserah, Mas. Kantor bagaimana, Mas? Sudah selesai masalahnya?" Mawar mengangkat roti yang sudah matang. Cokelat oles dan mesis ia taburkan. Di bagian atas keju parut melimpah dengan susu kental manis menjadikan roti bakar buatan Mawar sangat lezat dan banyak yang minati. Tidak pelit toping, begitu yang anak-anak SMA katakan.
"Masih belum, Sayang. Banyak orang jahat sekarang. Kasihan Bos aku. Orang-orang di sekelilingnya ingin menghancurkan bisnis yang ia jalankan. Segala cara dilakukan bahkan membuang-" Djiwa menyadari kalau dirinya kembali hampir keceplosan.
"Membuang?" Mawar bertanya karena Djiwa tiba-tiba menghentikan ucapannya.
"Membuang ... barang bukti kejahatan mereka dengan rapi. Kami yang ditugaskan mencarinya. Mungkin Mas akan sering bekerja ke kantor mulai sekarang." Beruntung Djiwa bisa cepat memberikan alasan. Jangan sampai Mawar curiga.
"Hati-hati, Mas. Apa yang kamu kerjakan cukup beresiko. Aku mengkhawatirkan kamu. Jujur saja, ada trauma dalam diriku. Dulu, Mas Pur tak pernah berterus terang mengenai apa yang membuatnya gelisah dan ketakutan. Andai aku mengorek keterangan lebih dalam, mungkin aku bisa menyelamatkan nyawa Mas Pur." Mata Mawar terlihat kosong. Kesedihan masih menghinggapinya meski kini sudah memiliki suami baru.
Djiwa berjalan mendekati Mawar dan memeluk istrinya tercinta. Ia tidak merasa cemburu sang istri menyebut nama mantan suaminya. Djiwa tahu maksud perkataan istrinya apa.
Mawar mengkhawatirkan Djiwa. Itu yang Djiwa tangkap. Beda memang penilaian orang pintar macam Djiwa. Tidak berotak sempit dan gampang menyimpulkan sesuatu. "Aku akan jaga diri aku demi kamu. Aku janji. Kamu tak perlu khawatir ya!"
Mawar mengangguk. "Aku takut, Mas. Aku sangat menyayangi Mas. Aku takut ada yang melukai Mas."
****
Malam ini Djiwa menunaikan janjinya. Memijat kaki Mawar yang terasa pegal seharian bolak-balik di dapur.
"Enak pijitan aku?" tanya Djiwa.
Mawar mengangguk. "Enak banget. Rasanya semua lelah aku hilang saat kamu pijit."
"Bagus dong? Berarti tenaga kamu akan pulih lagi? Terus kita ...." Djiwa menggantung ucapannya. Mawar paham betul maksud Djiwa.
"Iya. Aku akan menunaikan kewajibanku. Mas tenang saja. Kewajiban ini dengan sukarela aku lakukan. Enak dan berpahala. Siapa yang mau nolak?"
Djiwa tertawa mendengar jawaban Mawar. "Pintarnya istriku."
"Mas, menurut Mas ruko kita terlalu kecil tidak sih? Aku kadang melihat pembeli antri di depan. Aku kasihan, Mas." Mawar kini mau membicarakan isi pikirannya pada Djiwa. Cara berdiskusi yang Djiwa lakukan membuat Mawar nyaman menyampaikan ide-idenya. Mawar bahkan menyumbang banyak menu.
"Sudah makin pintar nih istriku. Peka melihat peluang. Coba Mas pikirkan dulu." Djiwa berpura-pura berpikir padahal sudah tahu langkah apa yang akan ia ambil. Tangan Djiwa tetap memijat kulit putih bersih Mawar.
Setelah diam selama lima menit, Djiwa pun mengutarakan idenya. Ide yang sebenarnya sudah ia pikirkan sejak awal. "Bagaimana kalau kita sewa ruko sebelah. Kita perbesar usaha kamu? Kalau Mas tidak salah perhitungan, masih ada uang dari pinjaman yang kamu simpan."
"Maaf Sayang, bukan Mas menggurui. Uang yang kamu pinjam harus membayar bunga setiap bulan dan jumlahnya lumayan juga. Selama ini uang tersebut kamu takut pakai karena takut tak bisa membayar hutang. Menurut Mas, kamu keliru. Gunakan saja uang tersebut sebagai modal. Keuntungan yang didapat bisa membayar pinjaman. Semakin besar modal, semakin besar keuntungan yang kita dapat." Djiwa sudah selesai memijat Mawar. Istrinya tersebut duduk tegak sambil memikirkan perkataan Djiwa.
"Kalau tidak balik modal gimana, Mas? Aku bayar dengan apa?" Mawar kembali meragukan kemampuan dirinya..
Djiwa merengkuh kedua lengan Mawar dan membuat Mawar menatap ke dalam matanya. Mata elang yang mampu membius banyak kaum Hawa mendekat dan tak berdaya. "Aku yang bayar! Maksudku, aku akan mencicilnya. Jangan ragu lagi. Kita buat usaha kamu makin besar, oke?"
Mawar melihat keyakinan dalam manik mata suaminya. Perlahan kepalanya mengangguk. Djiwa tersenyum dan kini mengajak istrinya melakukan kewajiban menyenangkan seperti yang istrinya katakan tadi.
Djiwa terjaga di sepertiga malam. Melihat Mawar yang tertidur lelap. Djiwa menyelimuti tubuhnya dan menghubungi Rendi asistennya.
"Ren, Mawar mau menyewa ruko sebelah. Besok carikan orang untuk berpura-pura sebagai pemilik ruko. Ingat, jangan sampai ketahuan. Gue enggak suka yang aktingnya pas-pasan kayak waktu itu!" Djiwa sedang memberitahu Rendi apa saja yang diperlukan.
Tanpa Djiwa ketahui, Mawar yang terjaga mendengar semua pembicaraan Djiwa. Jantung Mawar bergegup kencang. "Apa yang Djiwa sembunyikan? Kenapa harus mencari orang?"
****