Janda Bohay

Janda Bohay
Masakan Chef Mawar


"Suruh masuk aja dulu deh, Bi. Masalah makanan, apa kita pesan online saja ya?" Ibu Mina mondar mandir gelisah. Asisten rumah tangga Ibu Mina memilih kembali ke depan untuk mempersilahkan tamu majikannya masuk daripada menjawab pertanyaan majikannya.


"Aduh, kok bisa lupa ya kalau hari ini jadwal arisan?" gumam Ibu Mina pelan.


Melihat ibu mertuanya panik, Mawar pun menawarkan diri. "Maaf, Bu. Aku bawa ayam geprek dari rumah, memang rencananya buat Ibu dan Bapak sekeluarga. Kira-kira berapa orang ya teman Ibu?"


Ibu Mina menatap Mawar selama beberapa detik. Lupa ia kalau sedang ada menantu yang harus ia interogasi. "Hmm ... sekitar 10 orang. Ini ibu-ibu sosialita loh. Oh iya, kamu sembunyi saja di dapur dulu. Jangan sampai mereka melihat kamu dan bertanya siapa kamu. Jangan keluar dulu!" perintah Ibu Mina.


"Di dapur? Dapurnya dimana ya, Bu? tanya Mawar dengan sopan.


Suara teman-teman arisan Ibu Mina mulai terdengar. Ibu Mina mulai tambah panik, takut Mawar dilihat teman-temannya. Ibu Mina menunjuk ke arah dapur. "Di sana. Kamu ke sana saja. Jangan keluar-keluar!"


Mawar berdiri dan pergi ke dapur dengan cepat. Ia menurut apa yang mertuanya perintahkan. Sesampainya di dapur Mawar masih berdiam diri. Bingung mau melakukan apa di dapur yang besar ini. Dapur impian yang sejak dulu Mawar ingin miliki.


"Wow, keren banget dapurnya. Aku bisa memasak aneka makanan nih kalau di dalam dapur ini. Ada oven juga lagi. Keren," puji Mawar dalam hati.


Tak lama asisten rumah tangga Ibu Mina masuk ke dalam. "Loh, Non, kok ada di dapur?"


"Iya, aku disuruh tunggu di sini sama Ibu," jawab Mawar.


Sebenarnya asisten rumah tangga itu kasihan dengan Mawar yang sejatinya adalah menantu keluarga kaya ini. Hanya karena status sosialnya berbeda jadi tak diakui.


"Bi, tolong buatkan minum dan bawa cemilan ke depan ya!" Ibu Mina tiba-tiba masuk ke dapur. Matanya bertabrakan dengan Mawar yang diam mematung tanpa melakukan apa-apa.


"Baik, Bu," jawab asisten rumah tangga Djiwa.


Ibu Mina membuang pandangannya dan membuka lemari es dimana isinya banyak persediaan makanan yang tersusun rapi. "Stok makanan sih banyak. Kenapa chef kita harus ijin tidak masuk sih hari ini?" gerutu Ibu Mina.


Mawar kembali mengajukan diri. "Boleh saya yang bantu masak, Bu?" tawar Mawar.


Sudah dua kali ia mengajukan diri. Pertama menawari ayam geprek yang ia bawa namun reaksi Ibu Mina hanya acuh. Bagaimana reaksi Ibu Mina kali ini?


Ibu Mina menutup lemari es sambil menghela nafas dalam. Asisten rumah tangganya tak jago masak, itu sebabnya mereka mempekerjakan seorang chef. Yang paling susah makan dan pilih-pilih makanan di rumah adalah Djiwa, jika Djiwa selama menikah dengan Mawar tak pernah protes dengan masakan Mawar, itu artinya masakan Mawar memang enak. "Terserah kamu saja."


Ibu Mina pergi meninggalkan dapur. Mawar tersenyum senang. Meski masih jutek dengannya, Mawar akan buktikan pada sang mertua kalau dirinya memang berjuang demi mendapat restu dari mertuanya.


Selepas Ibu Mina pergi, Mawar pun mulai mengambil bahan-bahan dari dapur. Bedanya lemari es orang kaya dengan orang susah macam dirinya adalah sayuran sudah dikupas dan dimasukkan dalam wadah kedap udara. Kalau di lemari es miliknya akan sulit karena ukuran lemari esnya yang hanya satu pintu kecil.


"Bi, benar yang hadir sekitar 10 orang?" tanya Mawar pada asisten rumah tangga yang baru balik sehabis mengantarkan minuman.


"Iya, Non. Bibi antar cemilan dulu ya. Aneka bumbu ada di tempat dekat kompor. Nanti Non tanya lagi saja saat saya kembali ya," kata asisten rumah tangga yang terburu-buru takut diomeli majikannya.


"Baik, Bi." Mawar bergerak cepat. Ia mengambil aneka sayur untuk dibuat capcay. Untuk lauk selanjutnya, Mawar memutuskan membuat cumi dan udang saus padang. Memasaknya simple dan cepat.


"Ada yang bisa Bibi bantu, Non?"


"Bibi namanya siapa?" tanya balik Mawar.


"Bi Ijah, Non."


Ibu Mina yang mengobrol di ruang tamu mencium harum masakan dari dapur. Ia sebenarnya penasaran apa yang sedang dibuat oleh istri anaknya tersebut. Apakah sesuatu yang akan mempermalukannya nanti?


"Wah masak apa sih chef di rumah Ibu Mina? Harum sekali masakannya sampai ke sini?" tanya teman arisan Ibu Mina.


"Ah ... hanya menu sederhana saja, Bu. Kalau sudah lihai memasak memang begitu." Dalam hati Bu Mina khawatir kalau Mawar akan mempermalukannya padahal ia sudah sombong dan menyebut Mawar lihai memasak.


Teman-teman Ibu Mina mulai ramai karena arisan akan dikocok. Arisan ibu-ibu sosialita tidak seperti arisan di kampung yang nominal arisannya kecil. "Saya tranfer pertama loh, semoga saya yang menang. Lumayan buat perawatan muka," kata salah seorang teman Ibu Mina.


"Saya nanti saja deh kalau dapat. Suami saya lagi ada proyek besar. Belum BU -butuh uang- banget gitu," kata teman arisan yang agak sombong.


Arisan bernilai ratusan juta itu pun dikocok. Suasana kembali gaduh saat nama yang keluar dari kocokan disebutkan. Ibu Mina tidak fokus karena memikirkan apa yang Mawar masak.


Tak lama Bi Ijah datang ke ruang tamu. "Bu, makanan sudah siap semua," kata Bi Ijah.


Ibu Mina terbelalak kaget. "Hah? Sudah? Cepat sekali?" bisik Ibu Mina.


"Non Mawar pintar memasaknya, Bu. Sat set langsung jadi," puji Bi Ijah.


"Yaudah saya akan ajak teman-teman makan. Bilang sama dia, suruh tunggu di gazebo belakang! Jangan sampai teman-teman saya melihatnya!" bisik Ibu Mina.


"Baik, Bu." Bi Ijah pergi ke dapur. Bi Ijah menyampaikan pesan majikannya meski tak tega dengan Mawar.


"Maaf, Non. Kata Ibu, Non disuruh tunggu di gazebo belakang," kata Bi Ijah.


Mawar tersenyum dan mengangguk. "Iya. Antarkan ya, Bi."


Bi Ijah makin tak tega. Istri Mas Djiwa dianggapnya terlalu baik dan sabar. Ia pun mengantarkan Mawar ke halaman belakang, tak lupa menyediakan minuman dan cemilan untuk Mawar.


Di ruang makan, Ibu Mina terkejut dengan makanan yang dihidangkan oleh Mawar. Ada ayam geprek, capcay, udang dan cumi saus padang serta ikan fillet tepung. Penyajiannya juga rapi macam prasmanan di kondangan.


"Wah, enak banget nih makanan kita. Jadi lapar," puji salah seorang teman Ibu Mina.


"Oh iya dong enak. Ayo silahkan dimakan. Jangan sungkan. Silahkan ... silahkan!" Ibu Mina mempersilahkan tamunya untuk menikmati hidangan.


Merasa penasaran, Ibu Mina juga mengambil makanan dan mencicipinya. "Enak sekali. Pantas saja Djiwa betah tak pulang- pulang. Masakannya selera Djiwa sekali. Lezat dan berani bumbu."


"Ibu Mina, boleh kita pinjam tidak sih chefnya? Enak banget loh makanannya."


"Bu, beneran enak banget loh. Boleh nambah lagi tidak?"


"Ayam gepreknya enak banget, Bu. Sambalnya mantap! Kalau saya mau pesan bisa tidak sih?"


Ibu Mina tersenyum lebar. Semua menyukai hidangan dadakan buatan Mawar.


"Boleh. Yang memasak makanan hari ini buka usaha juga. Namanya Warung Janda Bohay. Kalian bisa langsung ke sana, dijamin makanannya enak semua!" puji Ibu Mina meski tak pernah mencicipi satu pun menu di warung Mawar.


****