Janda Bohay

Janda Bohay
Curiga


Mawar terlihat melamun sambil tangannya memetik daun selada. Pandangannya kosong memikirkan apa yang ia dengar semalam.


Segalanya begitu mencurigakan kini. Mawar bahkan menyangsikan Djiwa, suaminya. Sejak awal, Mawar merasa suaminya tidak seperti petani kebanyakan di desanya.


Djiwa terlalu tampan. Kulitnya bersih dan terawat. Kebanyakan petani di kampung Mawar berkulit gelap dengan wajah yang kusam karena terpapar sinar matahari. Djiwa berbeda. Hanya tubuh kekarnya yang membuat Mawar menyingkirkan berbagai kecurigaan.


Setelah tinggal di ruko, Djiwa terlihat berbeda. Lebih seperti pebisnis handal dibanding petani kampung. Ide bisnisnya yang membuat Mawar berpikir demikian.


Mana ada petani kampung yang gaya bicaranya terlihat intelek begitu? Ide bisnisnya juga seperti bukan pemuda kampung yang biasa nongkrong di warkop. Djiwa tahu tentang aneka makanan restoran seakan dia sering mencicipi menu tersebut.


Aneh.


Makin Mawar pikirkan, dirinya semakin merasa janggal.


"Mawar! Mawar!" Guncangan di bahu Mawar membuat Mawar tersadar dari lamunannya.


"Hah? Ada apa, Ly?" Mawar terlihat gelagapan. Kaget dia dengan sentuhan Lily.


"Kamu melamun terus. Enggak baik loh! Ada apa? Ada masalah? Mumpung warung masih sepi, kamu bisa cerita sama aku." Lily menepuk dadanya. Sahabat Mawar yang satu itu memang memiliki tingkat kepekaan tinggi terhadap sahabatnya.


"Bukan masalah sih, Ly. Aku hanya merasa ada sesuatu yang aneh saja dengan ... Mas Djiwa dan Mas Rendi."


"Sesuatu yang aneh? Misalnya?" Lily duduk di samping Mawar karena merasa tertarik. Nama kekasihnya disebut. Ia harus tahu ada apa.


"Aku merasa mereka tuh bukan pemuda kampung biasa Ly. Kamu merasa seperti itu tidak?" tanya Mawar.


"Bukan pemuda kampung? Maksudnya? Gaya berbicara mereka? Mungkin sudah berada lama di Jakarta makanya terbiasa," bela Lily.


"Iya. Mas Rendi memang sudah lama di Jakarta. Kalau Mas Djiwa? Kamu lupa pertama kali kami bertemu karena Mas Djiwa dihipnotis saat menginjakkan kakinya di Jakarta?" Mawar menatap sekitar. Warung memang masih sepi. Bu Sari dan Mbak Nia, karyawan baru mereka sedang di dapur, menggantikan tugas Mawar memasak. Mawar dan Melati memilih membersihkan sayuran di atas meja.


"Maksud kamu ... mereka berbohong?"


Mawar mengangguk. "Kamu bisa pegang rahasia tidak?"


Melati mengangguk. Mawar melihat keadaan sekitar. Aman. Dia bisa bicara bebas. "Semalam Mas Djiwa menelepon Mas Rendi. Mereka membicarakan akan menyewa ruko sebelah." Mawar menurunkan suaranya agar tak ada yang mendengar percakapan mereka.


"Masalahnya dimana? Memang kamu mau memperluas usaha bukan?" tanya balik Lily.


"Iya. Namun ada yang aneh. Mas Djiwa berbicara seakan dirinya adalah pemilik ruko sebelah. Malah Mas Djiwa menyuruh Mas Rendi mencari orang untuk berakting sebagai pemiliknya. Aneh sekali bukan?" bisik Mawar.


Lily terdiam mencerna perkataan Mawar. Lily juga merasa aneh apalagi dirinya pernah bertemu Melati. Gadis kaya sombong yang mencari keberadaan Djiwa. Mana mungkin gadis kaya itu menyukai Djiwa yang hanya petani biasa. Kecurigaan Mawar membuat kecurigaannya yang semula ia kubur rapat kini menyeruak lagi.


"Agak aneh sih," kata Lily mengakui.


"Aku mau cari tahu, Ly. Bagaimana ya caranya?" tanya Mawar dengan polosnya.


Lily menghela nafas dalam. Sahabatnya itu meski pernah menjadi penghuni lapas namun sikap lugunya tak pernah hilang. Mawar itu dijaga baik di dalam lapas. Semua menghargai Mawar yang baik dan sadar kalau Mawar korban jebakan orang lain.


"Bagaimana ya? Kamu nanya sama aku, lalu aku tanya sama siapa? Kamu tahu sendiri kalau aku tidak pengalaman masalah percintaan. Untuk sementara kamu simpan dulu kecurigaan kamu. Warung kamu sedang berkembang. Fokus dengan warung saja dulu. Aku yakin, Mas Djiwa tidak berniat jahat sama kamu. Kalau bukan karena ide-ide dari Mas Djiwa, mungkin kamu masih menjadi penjual ayam geprek di dalam kampung." Lily sudah menyelesaikan mengupas timun. Ia berdiri dan meninggalkan Mawar sendirian.


Lily juga curiga karena pernah bertemu Melati. Gadis cantik kelas atas yang mencari Djiwa. Meski Rendi berusaha menjelaskan, Lily tak bisa mempercayai sepenuhnya. Ada keraguan dalam diri Lily. Mana mungkin pemuda kampung disukai cewek modis macam Melati?


Mawar menyelesaikan pekerjaannya dan masuk ke dapur. Sebentar lagi waktu makan siang. Biasanya orderan mulai masuk menjelang waktu makan siang.


Benar saja, saat Mawar melewati mesin pesanan berbunyi. Mawar tersenyum melihat banyaknya pesanan yang masuk. Rejeki hari ini. Ia mengambil kertas pesanan dan menyerahkan pada Nia.


Djiwa menyuruh Mawar mengurangi aktifitasnya di dapur. Cukup mengawasi saja. Djiwa tak mau Mawar kelelahan lagi. Mawar bertugas menjaga rasa masakan dengan ayam yang ia ungkep dengan resep andalannya. Nia yang bertugas menyiapkan pesanan.


"Mbak Nia, ada pesanan masuk ya! Mbak goreng saja ayam geprek dan penyet, biar aku yang packing!" perintah Mawar.


"Iya, Bu."


Mawar memasukkan aneka lalapan dalam plastik dan sambal. Menyiapkan box kertas sebagai wadah menaruh makanan dan plastik agar abang ojek gampang membawanya.


Ayam yang digoreng Mbak Nia sudah matang. Mawar menaruh dalam box kertas dan memanggil abang ojek yang sudah siap di depan ruko. Ada tempat duduk khusus untuk para ojek online menunggu. Mawar menaruh sirup dingin dan gelas kertas agar ojek online bisa minum selagi menunggu pesanan.


"Pesanan atas nama Damas!" panggil Mawar.


"Iya." Tukang ojek maju dan mengambil pesanan.


"Pesanan atas nama Avon!" panggil Mawar lagi.


"Iya."


Mawar mengabsen semua pesanan yang masuk sampai matanya melihat seseorang yang sangat ia kenali. Orang yang Mawar lihat juga tak kalah terkejutnya saat melihat Mawar.


Mawar cepat-cepat menyelesaikan pesanan dan masuk ke dalam. Mawar menitipkan warung miliknya pada anak buahnya.


Mawar sempat melirik sekilas sebelum pamit ke atas. Orang yang sangat dikenalnya nampak masuk ke dalam ruko. Cepat-cepat Mawar mengendap-endap dan berlari ke atas.


Mawar masuk ke dalam kamar dan mengunci dirinya. Dilipatkan kedua kaki seraya menyembunyikan wajahnya. Tangannya terasa dingin dan jantungnya berdegup kencang.


Mawar takut.


Mawar kembali terlintas kenangan pahit yang dulu dialaminya. Kenangan yang sampai kapanpun tak akan pernah bisa hilang dari memorinya meski kini sudah banyak kenangan manis yang Djiwa berikan dalam hidupnya.


"Mau apa orang itu? Kenapa ia hadir lagi di hidupku yang sudah tenang?" ucap Mawar pelan.


Mawar menutup kedua telinganya seakan mendengar lagi hujatan yang dialamatkan pada dirinya. "PEMBUNUH! WANITA IBLIS! PEMBUNUH!"


Mawar menggelengkan kepalanya. Air mata luruh saat tubuhnya bergetar menahan trauma masa lalunya yang kembali lagi.


"Aku bukan pembunuh! Aku bukan pembunuh!" ucap Mawar berkali-kali.


"Mawar!"


Mawar mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang memanggil namanya.


****