Janda Bohay

Janda Bohay
Ada Yang Aneh


"Hmm ... yang kangen sama istrinya beda deh, Mama dinomorduakan." Ibu Mina memanyunkan bibirnya.


Djiwa memijit pelipisnya, tadi Rendi, sekarang Mamanya yang merajuk. Heran. Kenapa orang-orang di sekelilingnya tak ada yang peka kalau dirinya dan adik kecilnya sudah sangat merindukan Mawar.


"Bukan dinomorduakan Mamaku tersayang. Aku juga kangen Mama. Cobalah Mama mengerti. Sudah berbulan-bulan aku berada di kampung. Alat komunikasi jarang kami gunakan karena khawatir nomor Papa juga terlacak. Mau menghubungi Mawar sekedar mendengar suaranya saja tak boleh karena sedikit informasi yang Mawar tahu lebih baik demi keselamatannya. Aku begitu-" Belum selesai Djiwa berbicara Ibu Mina sudah memotong perkataannya.


"Iya, Mama mengerti. Mawar sedang di halaman belakang. Dia sedang mengaji setelah sholat dzuhur," kata Ibu Mina.


"Mengaji? Di halaman belakang? Kok bisa?" tanya Djiwa.


"Iyalah bisa. Apa sih yang tidak untuk istri kamu? Kata Mawar, sholat dzuhur dan mengaji di gazebo lebih enak. Adem. Mama dan Papa sih setuju saja. Kayaknya tuh kunti penunggu gazebo udah pergi karena seringnya mendengar istri kamu mengaji," jawab Ibu Mina dengan santainya.


Djiwa tersenyum lebar. "Memang hebat istriku ini. Bahkan kunti saja takut sama dia. Sudah ya, Ma. Aku mau ketemu Mawar. Kangen."


Baru selangkah Djiwa berjalan, belakang bajunya ditarik oleh Ibu Mina. "Tunggu dulu!"


Djiwa menghentikan langkahnya. "Apa lagi sih, Ma?"


"Mama cuma mau mengingatkan, kalau memadu kangennya jangan di gazebo. Udah susah payah tuh kunti pergi, nanti balik lagi lihat pemandangan mesum di siang bolong. Bawa istri kamu ke kamar kalau mau bermesraan. Ini masih siang, banyak karyawan yang bisa melihat kalian!" kata Ibu Mina.


"He ... he ... he ... Mama tahu saja kalau rasa rindu ini sudah meletup-letup. Mama pasang musik yang kencang ya di kamar. Pura-pura tidak tahu saja kalau mendengar kami berdua berteriak-" Lagi-lagi belum selesai Djiwa berbicara sudah dipotong Ibu Mina. Kali ini disertai dengan cubitan di pinggang Djiwa.


"Kamu lanjutkan lagi, Mama tambah kencang nih cubitannya!" ancam Ibu Mina.


Djiwa tertawa dan berjalan meninggalkan Ibu Mina. Djiwa melewati ruang keluarga lalu menuju halaman belakang. Sayup-sayup didengarnya suara Mawar yang sedang mengaji. Suaranya merdu dan lantunan ayat suci yang dibacanya terdengar begitu sejuk di telinga Djiwa.


Djiwa tersenyum menatap wanita yang memakai mukena putih. Istri cantiknya tetap fokus mengaji, tak tahu kalau suami yang selama ini ia rindukan sudah kembali.


Djiwa terharu melihatnya. Ia yakin, istrinya pasti sedang mendoakannya. Sosok yang selalu mendoakannya yang sedang berjuang menegakkan keadilan. Salah satu faktor yang membuat Djiwa berhasil menjalankan misi berbahaya adalah berkat doa dari Mawar.


Djiwa berjalan mendekat dan makin mendengar suara Mawar saat mengaji. Djiwa kini sudah berada di sisi gazebo namun istrinya masih belum menyadari kehadirannya.


"Assalamualaikum," ucap Djiwa membuat Mawar menghentikan mengajinya.


Mawar mengangkat wajahnya. Ia terkejut mendapati suami yang selama ini ia rindukan dan selalu ia doakan berada di depan matanya. "Waalaikum ... salam. Mas Djiwa?"


Mata Mawar berbinar-binar melihat Djiwa. Tanpa disadari air matanya pun menetes. Djiwa berjalan mendekat dan merengkuh istrinya ke dalam pelukannya. "Sayang ... Mas kangen kamu," kata Djiwa.


Mawar memeluk erat suaminya. Harum parfum yang dulu ia rindukan kini bisa ia hirup kembali. Lelaki gagah yang selalu melindunginya kini bisa ia peluk lagi. "Aku juga kangen sama kamu, Mas."


Djiwa merasa ada yang aneh saat memeluk Mawar. Biasanya saat memeluk, mereka begitu erat, namun kini seakan ada jarak di antara mereka. Djiwa melepaskan pelukannya dan menghapus air mata di wajah Mawar.


"Jangan nangis terus dong, Mas udah pulang nih. Kangen enggak?" tanya Djiwa.


Mawar mengangguk cepat sambil tersenyum. "Kangen banget."


Wajah Mawar langsung bersemu merah. "Ih ... Mas Djiwa ah, aku malu," kata Mawar.


"Enggak apa-apa. Namanya juga kangen. Wajar. Kita meet up," kata Djiwa dengan berbisik, takut ada karyawan yang mendengar. Djiwa ingat pesan Mamanya tadi.


Mawar tersipu malu lalu menganggukkan kepalanya. Ia juga kangen dengan Djiwa. "Sekarang?"


"Iyalah, Sayang. Udah enggak tahan nih, yuk!" Djiwa membereskan sejadah dan perlengkapan mengaji Mawar sementara Mawar membuka mukenanya.


Mawar menaruh mukenanya di dalam rak kecil yang memang disediakan Ibu Mina. Katanya agar Mawar mudah kalau mau mengaji kapan pun di gazebo. Djiwa sudah melipat sejadah, kini ia berbalik badan dan berhadapan dengan Mawar.


"Astaghfirullah!" Djiwa jatuh terduduk. "Itu perut kamu kenapa? Kok buncit gitu?"


Mawar menepuk keningnya. Ia lupa kalau belum memberitahu Djiwa berita tentang kehamilannya. Kedua mertuanya pun tak mengatakan apa-apa rupanya sampai Djiwa begitu terkejut melihat perut Mawar yang membesar.


"Aku sedang hamil, Mas," kata Mawar sambil tersenyum.


"Hamil? Sejak kapan? Hamil anakku?" tanya Djiwa masih tak percaya.


Mawar mengangguk. "Iya dong anak Mas Djiwa. Ternyata saat Mas pergi, aku sudah hamil. Muntah-muntah dan mual yang kurasakan karena sudah ada anak kamu di dalam rahim aku," kata Mawar sambil tersenyum.


Djiwa terus menatap perut Mawar yang buncit, terlihat di balik kaos yang dikenakannya. Djiwa pun mengulurkan tangannya dan hendak menyentuh perut Mawar. Rasanya masih tak percaya kalau belum memegangnya secara langsung.


Perut Mawar agak keras. Pertama hanya jari telunjuk Djiwa yang menyentuhnya, selanjutnya ia menyentuh dengan telapak tangannya. Tepat saat itu pula janin dalam perut Mawar bergerak. Djiwa terkejut dan kembali melepaskan tangannya. "Ber-bergerak!"


Mawar tersenyum melihat keterkejutan Djiwa. Lucu dan menggemaskan. "Anak kamu mengucapkan salam perkenalan sama Papanya," ucap Mawar.


Mata Djiwa berbinar. "Salam perkenalan?" Djiwa menunjuk dirinya sendiri. "Sama Papanya?"


Mawar mengangguk. Suaminya memang menggemaskan sekali. Apalagi melihat matanya yang berbinar seperti anak kecil yang baru memiliki mainan baru.


Djiwa kembali menyentuh perut Mawar. Mengelusnya dengan lembut, seakan masih tak percaya kalau ia akan memiliki seorang anak. "Hi! Ini Papa."


Janin di dalam perut Mawar kembali bergerak. Djiwa terkejut namun kali ini tak ia lepaskan tangannya. Ia nikmati gerakan yang terasa di tangannya. "Sudah berapa minggu kamu? Maaf ya Papa sudah lama tidak pulang."


"24 minggu, Pa." Mawar menjawab mewakili anak dalam kandungannya.


"Wow ... sudah besar juga ya." Djiwa mendekat dan mencium perut Mawar. "Pantas tadi saat peluk Mama kamu kok ada yang aneh. Kirain tadi ada bantal di antara kita berdua eh ternyata ada Djiwa Junior." Djiwa bicara dengan anak dalam kandungan Mawar. Hebatnya lagi, anak itu terus memberi respon seakan tahu kalau yang berbicara adalah Papanya yang sudah lama ia rindukan.


"Kangen ya sama Papa? Sama, Papa juga kangen. Yuk, ketemuan! Jangan di sini ya, di kamar saja! Nanti jangan nakal ya kalau kita ketemu." Djiwa mengangkat wajahnya dan kini bicara sama Mawar. "Aku mau ketemu dede. Boleh 'kan?"


****